Tampilkan postingan dengan label Potensi Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Sepakbola Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Gol perdana Radja Radja Nainggolan di Seri A


Negara Indonesia pantas berbangga kepada Radja Nainggolan. Di tengah maraknya agenda naturalisasi yang diapungkan oleh PSSI, pemain berdarah Indonesia ini mampu mencetak gol di Liga Italia (Serie A).

Pemain berdarah Batak ini membawa klubnya, Cagliari menaklukkan Bologna 2-0, Minggu 31 Oktober 2010, dalam lanjutan Serie A. Radja mencetak gol kedua Cagliari pada menit 78 lewat tendangan voli kaki kiri.

Ini merupakan gol pertama Radja di Serie A. Sejak dipinjam dari klub Serie B, Piacenza pada Januari 2010, permainan gelandang 22 tahun ini semakin matang.

Bukan mustahil, gelandang bertinggi 177 cm ini akan memikat para pemandu bakat Serie A kelak. Sebelumnya, Radja sempat diincar AS Roma dan Fiorentina.


Gol pertama Cagliari dicetak Nene pada menit ke-51. Sukses mengalahkan Bologna membuat Cagliari meninggalkan papan bawah klasemen sementara, dan menduduki peringkat ke-13 dengan 10 poin. Sedangkan Bologna menempati posisi kedua dari bawah, karena baru meraih delapan poin.

Bahkan Dikutip dari Football-Italia, wakil presiden Milan Adriano Galliani tengah mengontak presiden Cagliari Massimo Cellino untuk mengungkapkan niatan Rossoneri memboyong Nainggolan.

Nainggolan bergabung dengan Cagliari pada Januari 2010 dengan status pinjaman dari Piacenza. Data dari Soccernet menunjukkan bahwa pemain berpaspor Belgia itu sejauh ini tampil 29 kali di Seri A dan mencetak dua gol.

Semoga dengan adanya kiprah pemain-pemain Naturalisasi di Timnas Indonesia, membuat pikiran Radja berpaling dan berminat memperkuat Timnas Indonesia. Karena hal itu masih dapat di mungkinkan berdasarkan peraturan FIFA terbaru, mengenai perubahan perpindahan warga negara

Senin, 20 September 2010

Syamsir Alam dan Reffa Money akan berlabuh di Penarol.

Kabar gembira datang dari dua pesepak bola muda, Syamsir Alam dan Reffa Money. Dua anggota timnas SAD Indonesia yang sedang menjalani latihan di Uruguay itu telah dikontrak oleh klub setempat, Atletico Penarol.

Saat ini Syamsir dan Reffa sedang mengikuti program pembinaan pesepak bola muda Indonesia yang telah dua tahun berlatih di Uruguay.

Kesepakatan perekrutan Syamsir dan Reffa telah ditandatangani keduanya dengan wakil Presiden klub, Edward Welker dan direktur olahraga Osvaldo Gimenez, awal pekan ini. Namun, tidak disebutkan nilai maupun durasi kontrak yang diterima Syamsir dan Reffa. Penarol memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil di Cuarta Division Uruguay mulai tahun 2011.

Cuarta Division adalah kompetisi liga remaja yang rutin digelar sebagai tingkatan pembinaan sepakbola Uruguay. Kompetisi yang sama juga diikuti SAD Indonesia sepanjang masa latihan mereka untuk tahun kedua 2010 ini. Jenjang ini mempertandingkan para pemain di bawah 20 tahun.

Perjanjian ini merupakan kesempatan bagi Penarol dan Indonesia untuk berbagi bakat sekaligus memperkaya kerja sama budaya dan olahraga. Langkah pertama dari perjanjian tersebut adalah mendatangkan Syamsir Alam dan Reffa Money mulai Januari 2011 sebagai materi tim yang berlaga di Cuarta Division," bunyi pernyataan resmi Penarol.

Penandatanganan kerjasama telah dilakukan di markas CA Penarol, Montevideo, Uruguay,. Perjanjian tersebut disepakati Sekjen klub Osvaldo Gimenez dan Ketua Indonesia SAD, Milton Kreninger.

Sebagai langkah awal, klub CA Penarol akan melakukan pemantauan tahap akhir terhadap pemain-pemain Indonesia SAD. Pemain yang nantinya terpilih, akan diberikan kesempatan untuk memperkuat klub CA Penarol disemua level kompetisi yang akan diikuti klub itu.

Hal ini memberikan bukti, kehadiran tim Indonesia SAD di Uruguay telah menarik perhatian khalayak sepak bola negara semifinalis Piala Dunia 2010 itu. "Buah kerjasama yang terjalin rapi antara pelatih, pemain, official pendukung, dan jajaran manajemen tim Indonesia SAD, baik yang berada di Indonesia ataupun Uruguay, telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan demi memajukan persepakbolaan Indonesia.

Sementara itu Syamsir dan Reffa juga belum berbicara tentang berita bagus ini. Namun, kebenaran berita itu bisa dilihat disitus resmi Penarol dan ketika Reffa memajang foto dirinya mengenahkan seragam Penarol dalam blog pribadinya.

Dalam sejarah sepak bola Uruguay, Penarol merupakan salah satu tim terbaik Uruguay dan dinobatkan sebagai Klub Terbaik Amerika Selatan di abad ke-20. Sepanjang sejarahnya, Aurinegros telah lima kali menjuarai Copa Libertadores dan tiga kali juara Piala Interkontinental. Maju terus garuda-garuda Muda !!!!!!

Minggu, 07 Maret 2010

Kiprah Jong Ambon di Liga Futsal Indonesia

Siapa tidak kenal Ronny Pattinasarani, Donny Latupeirissa, Bertje Matulapelwa, Berty Tutuarima, John Lesnusa, dan Elly Idris pesepakbola di era 70-an. Era 80 s/d 90-an diwakil Imran Nahumamury, Sammy Pieterz, Ibrahim Lestaluhu, Ohorela, dan Rocky Putiray, mereka adalah pesepakbola keturunan Maluku. Saat ini salah satu propinsi di Indonesia Timur yang sempat mengalami konflik itu masih menelurkan para pemain bintang dan menyumbangkan pemain bagi tim nasional Indonesia sebut saja Ricardo Salampessy, Fandy Mochtar, Leonard Tupamahu, Rahmat Rivai dan Talaohu A Musafry.Seperti juga di cabang sepakbola konvensional, di cabang futsal-pun pemain futsal keturunan Maluku bertebaran di beberapa klub anggota Indonesian Futsal League, yang adalah kompetisi tertinggi Futsal di Indonesia. Terhitung sekitar ada belasan pemain futsal keturunan maluku yang dicatat oleh tim Spiritfutsal berkiprah di Indonesian Futsal League sejak musim 2006/2007 s/d 2010.

Tim SWAP (Sport, Worship And Praise) Futsal Club tercatat menyumbang pemain Maluku terbanyak sebanyak 8 pemain. Disusul Electric PLN dengan dua pemain dan Pelindo II, BiangBola dan Dupiad Fak-Fak masing-masing satu pemain. Delapan pemain keturunan Maluku di tim SWAP termasuk pemain-pemain muda usia, rata-rata 24 tahun bahkan yang termuda baru berusia 19 tahun, yaitu Imanuel Frans dan Kiper Gerry Ferdinandus. Sedangkan pemain tertua ada di tim Electric PLN, Ricardo Polnaya yang juga mantan pemain tim nasional futsal Indonesia, berusia 27 tahun.

Kakak beradik Manuhutu, Ronaldo dan Mozes mempunyai peran penting di tim SWAP. Ronaldo yang lebih tua satu tahun merupakan kapten cadangan tim SWAP. Sedangkan Mozes Manuhutu, merupakan pencetak gol terbanyak urutan kedua dengan 20 gol, hanya beda 2 gol dari Achmad Syaibani, top skor IFL Musim 2009. Di urutan ketiga daftar pencetak gol juga tercantum nama Socrates Matulessy dari Electric PLN. Pemain yang satu ini juga mantan pemain tim nasional futsal dan bintang iklan produk sepatu Specs.

Sementara itu, Vincent Vallent pemain keturunan Maluku yang pertama kali mengecap Juara Indonesian Futsal League bersama BiangBola di musim pertama. Di babak final four meski tidak mencetak gol, tetapi penampilannya sangat berperan atas keberhasilan BiangBola merebut juara IFL. Selain itu pencatat sejarah IFL juga dicatat oleh Jaconias AA Lakburlawal, ia adalah pencetak gol pertama IFL ketika SWAP melawan Produta, Bandung pada pertandingan pembukaan IFL yang diresmikan oleh Ketua PSSI, Nurdin Halid.

Pemain lainnya yang tidak kalah perannya bagi tim masing-masing adalah Miron Hehanussa, Reinhart Titaheluw, Edward Supusepa, Agustinus Latlutur, Gabriel Ditilebit (Ex Tim Nasional 2004), dan Piere Latupeirissa (lebih dikenal dengan Freestyler Indonesia) dari tim SWAP, Jusman (Pelindo II), dan A. Renyaan (Dupiad Fak Fak). Semua pemain, sependapat dan memiliki impian yang sama yaitu merindukan Negeri Ambon yang aman dan menghimbau kepada anak-anak muda Maluku untuk terus bermimpi besar dan berprestasi di cabang olahraga futsal

Sabtu, 27 Februari 2010

Tanah Papua Amunisi Talenta Muda

Sejarah membuktikan bahwa secara alami di tanah Papua selalu melahirkan pemain-pemain berbakat. Ini bisa terihat takakala seorang anak papua bernama Dominggus Waweyai, yang sangat fenomenal. Dahulu ia juga stiker tangguh timnas. Waweyai juga salah satu tendem Sucipto Suntoro alias Gareng dalam membela tim Merah Putih di kancah internasional.

Sayangnya ketika PSSI try out ke Eropa, Waweyai tidak kembali dan malah memilih tinggal di Belanda. Selain Waweyai yang fenomenal ada pula pemain lainnya seperti Timo Kapisa, Yohanes Auri, Adolof Kabo. Selanjutnya Noah Mariem, Rully Nere, Theorodorus Bitbit, Aples Tecuari, Rony Wabia dan Crist Leo Yarangga. Diera tahun 2000an kita mengenal Elly Aiboiy Alexander Pulalo, Boaz Solossa. Ortizan Solossa, Imanuel Wanggai, Ricardo Salampesy, Cristian Woarabay dan lainnya.

Menurut Rully Nere, generasi emas Papua akan segera kembali tercetak. Ia melihat striker Alan Arongear punya potensi bagus dia baru berusia 17 tahun dan juga punya skill individu yang bagus. Selain itu Rully Nere juga melihat pemain belakang seperti Edison Ames, Ilfred Soo, Yohanes Tjoe juga berpotensi mejadi pilar timnas dimasa datang. Kemudian Cristian Uram dan Yan Piet Alex, dua pemain sayap ini termasuk cikal bakal pemain yang baik. "Saya melihat banyak pemain baru yang bagus dan sekarang tinggal bagaimana mencari dan membina mereka serta memberikan sentuhan teknik dan skill individu yang baik," ujarnya.

Pendapat lainya juga di amini oleh Max Pieter, "Saya tidak percaya kalau tanah Papua krisis striker dan pemain, banyak pemain alam yang terus lahir di sini.Tapi sayang saya melihat pembinaan masih kurang sehingga mereka berkembang apa adanya tanpa banyak uji coba dan latih tanding ke luar Papua," tegas Max Pieter, mantan pemain tim PSSI dan juga mantan pelatih PSSI usia 15 tahun.

Menurut Max Pieter yang juga mantan pelatih Sekolah Sepak Bola Ragunan Jakarta, latihan-latihan dasar sepak bola bagi para pemain bola di tanah Papua sangat penting." Coba lihat saja seorang pemain yang sudah berpengalaman tetap harus berlatih dribling yang baik termasuk passing bola. Sebab kalau sudah menguasai teknik-teknik dasar sepak bola dengan sendirinya akan berkembang di lapangan,"tegas Max.

Walaupun tanah Papua gudang pemain bola, Tetapi dulu di persipura dengan cederanya Boaz Solossa justru membuat pelatih kepala Persipura Irvan Bhakti pusing kepala untuk mencari pemain baru pada posisi Boaz . Memang ada pemain muda seperti Korneles Kaimu, Tinus Pae dan Anthon Mahuse tetapi belum sebaik Boaz Solossa. Sehingga tidak ada pilihan lain sehingga terpaksa pelatih Kepala Persipura Irvan Bhakti memasukan pemain asal Kamerun Jeremiah yang berpasangan dengan striker asal Brasil Albeto.

Padahal sebelumnya Beto sudah padu dengan Boaz Solossa. Bisa di lihat oleksi goal Boaz pada putaran pertama Liga Indonesia 2006-2007 mampu membuat goal 13 goal dan merupakan satu satunya pemain Indonesia yang mampu menyaingi Cristian Gonzales pencetak goal terbanyak sebelumnya. Memamang Ironis hampir sebagian besar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia didominasi oleh pemain asing. Mungkin ini merupakan pekerjaan rumah bagi PSSI dan juga pengurus klub klub di daerah untuk selalu membina dan melahirkan pemain pemain muda berbakat

Sebenenarnya pembinanan berkala pemain bola Papua, bisa terlihat di ajang PON. Setiap PON selalu melahirkan bintang-bintang muda asal Papua. Boaz Solossa, Ricardo Salampesy, Cristian Worabay adalah bekas pemain PON Papua di Palembang 2004 lalu.

Begitu pula dengan Christ Leo Yarangga, Ronny Wabia, Aples Tecuari, Alexander Polalo, Herman Polalo,Izak Fatary dan Ritham Madubun yang juga merupakan pemain pemain eks PON. Kehebatan mereka pada saat itu tercermin disaat David Saidui memasukan gol dengan pantatnya atau yang dikenal dengan gol pantat di depan gawang tim PON Banda Aceh di tahun 1993 di partai final. Anak-anak Papua pun menang besar 6-2 dan sangat fenomenal karena mereka bermain dengan skill dan kerjasama yang baik.

Kini secara otomatis para pemain eks PON Papua pun secara langsung direkrut masuk Persipura, Persiwa Wamena dan Persidof. bahkan tim-tim di luar papua pun seperti PSMS dan Sriwijaya FC juga memakai tenaga mereka.

Sudah menjadi target time elit Papua kalau eks pemain PON akan direkrut jadi tim Mutiara Hitam atau Persipura sebut saja eks PON Palembang antara lain Ricardo Salampesy, Korinus Fingkreuw, Elias Korwa, Cristian Worabay dan lainnya pernah memperkuat skuad Mutiara Hitam. Tapi kini karena Mutiara Hitam kini sudah memiliki atau diback up tim Persipura U18 dan Persipura U23. Para pemain PON mulai tersebar ke beberapa klub lainya. Karena para pemain muda di Persipura U-18 dan U-23 juga memiliki kualitasnya permainan di atas rata-rata pemain seusia mereka.

Pelatih Kepala Persipura U 21 Ferdinando Fairyo mengatakan untuk menghasilkan banyak pemain berbakat atau mau menjadikan tanah Papua sebagai gudangnya pemain bola harus melakukan pembinaan yang terarah dan sungguh serta memiliki hati yang tulus. “Kalau tidak sepenuh hati maka saya khawatir akan tidak membawa hasil yang maksimal dan hanya memikirkan materi tanpa melahirkan pemain bintang,”ujar Fairyo mantan asisten pelatih PON Palembang lalu.

Dikatakan nya, "Dulu Ricardo Salampessy dianggap pemain yang tak berpotensi dan badannya terlalu kecil dan lembek tetapi sebagai pelatih harus mendorongnya terus agar maju dan percaya diri. “”Lihat sekarang dia jadi langganan timnas PSSI" üjar Fairyo yang baru saja mengikuti kursus pelatih lisensi C di Jakarta. Ia juga menyarankan diklat seperti PPLP Papua juga sanggup melahirkan banyak pemain kalau ada keseriuasan dan kemauan maka hasilnya pun akan maksimal.

Sekarang kini tinggal terserah kita saja, atau mungkin bapak-bapak di PSSI sudah mulai berpikir untuk serius membina bibit muda di tanah Papua, di bandingkan menghaburkan uangnya membina tim di luar negeri tanpa hasil.

Jumat, 29 Januari 2010

Berita Terakhir Radja Nainggolan & Irfan Bachdim

Pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan, senang dengan kepindahan ke Cagliari. Pemain asal klub Serie B Italia Piacenza ini secara resmi pindah ke klub barunya dan siap menyongsong tantangan di kompetisi tingkat teratas.

"Saya datang dengan penuh antusiasme. Tujuan saya di sini untuk berkembang pesat," tuturnya kepada Itasportpress."Saya mempelajari transfer ini dan saya segera menyepakatinya. Cagliari kelihatannya tim yang bersatu dan kompak. Sisanya saya akan ketahui langsung nanti."Radja siap bermain di posisi manapun sesuai instruksi pelatih Massimiliano Allegri."Saya bisa bermain di berbagai posisi di lini tengah. Saya lebih baik jika diposisikan di kiri, tapi saya harap bisa mendapat tempat dalam tim inti, di mana saya ditempatkan itu tak masalah," tukasnya. Di tim Cagliari Radja kini mengunakan No 28. Sebelumnya di Piacenza ia selalu mengunakan No 21 atau 10.

Radja bermain untuk Piacenza sejak 2005 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari timnas Belgia U-21 sebelum akhirnya mencicipi debut bersama timnas senior tahun lalu. Pemain 21 tahun itu didatangkan sebagai program pertukaran dengan gelandang Belarusia Mikhail Siyakov.Nainggolan diboyong dengan status transfer dengan opsi menjadi pemain tetap di Cagliari. Ia telah bergabung dengan Piacenza sejak 2005.

Nainggolan adalah gelandang tim nasional Belgia yang lahir di Antwerp. Nama Indonesianya didapat dari sang ayah dan ibu asli Belgia. Sebaliknya, Piacenza akan mendapat Sivakov, 21 tahun dengan status pinjaman selama enam bulan.Ayahnya, Marianus, adalah pria berdarah Batak yang menjadi pengusaha di Bali dan ibunya, Lizi Bogaerd berkewanegaraan Belgia. Meski berdarah Indonesia, Radja saat ini tercatat sebagai anggota timnas Belgia U-21.

Radja ditarik dari klub Belgia, Germinal Beeschot ke Piacenza, Italia pada 2005. Di klub Serie B ini, karir Radja mulai bersinar. Ia pun sempat menjadi incaran Fiorentina dan AS Roma sebelum akhirnya bergabung dengan Cagliari


Sementara itu Irfan Bachdim, mantan pemain FC Utrecht Belanda, yang saat ini tengah menjalani tes di Persija Jakarta, membuka rahasia kenapa dirinya memilih untuk berlabuh di "Macan Kemayoran".

Padahal, beberapa tim dikabarkan sangat ingin menggunakan tenaganya. Maklum saja karena dia merupakan salah satu pemain yang nota bene produk dari Liga Eropa.

Ditemui usai menyaksikan laga Persija kontra Bontang FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan,Irfan menyatakan pemain Persija cukup bersahabat.

Ia pun mengaku cukup senang sekiranya bisa membela Persija di putaran kedua Superliga 2009/10, karena menurutnya pemain yang menghuni skuad Persija saat ini cukup berkualitas.

"Itulah alasan saya kenapa memilih Persija. Memang ada beberapa tim yang
menginginkan saya. Tapi pilihan pertama saya adalah Persija," beber Irfan dengan bahasa Inggris yang pasih.

"Pemain Persija sangat friendly. Saya bisa katakan ini, karena saya sudah tinggal bersama mereka di mes sejak beberapa hari lalu. Saya sangat senang bisa bermain di Persija. Ini tim hebat," tambahnya.

Ditanya mengenai kemungkinan bermain di Persib Bandung yang juga menginginkannya, Irfan mengaku tidak tertarik karena dirinya merasa klub tersebut tidak bersahabat.

Sedangkan mengenai alasan dirinya ingin merumput di Liga Indonesia dan tidak melanjutkan karir di Liga Eropa, seperti yang selama ini ia jalani, pemain muda dengan potongan rambut yang cukup nyentrik ini mengaku karena ingin berbaju timnas Indonesia.

Meski begitu, penampilan mantan pemain FC Utrecht di Liga Belanda ini setidaknya mendapat pujian dari direktur teknik Persija Benny Dolo, yang menilainya memiliki visi bermain cukup baik.

"Secara kualitas, Irfan tidak ada masalah. Dia (Irfan) memiliki visi bermain yang cukup baik," sebut Benny Dollo saat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, kemarin.

"Bagaimana pun, dia itu kan pemain yang merupakan produk dari Liga Eropa, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan. Saya pikir, dia sangat layak bermain di Persija untuk putaran kedua nanti."

Hanya saja masih kata pria bertubuh tambun yang akrab disapa Bendol, keputusan untuk merekrut pemain itu ada di tangan manajemen tim, sehingga dirinya belum bisa memastikan kapan Irfan akan teken kontrak. -Rezza Lubis dari berbagai sumber-

Selasa, 12 Mei 2009

Tim Nasional Indonesia (1997-2007) versi Total football Indonesia

Sulit sebenarnya memilih tim nasional ideal ini, kalau saya ambil sebuah garis lurus saya akan mengambil pemain-pemain Indonesia di era tahun 1997 sampai saat ini, hal ini bukannya saya anti terhadap bintang-bintang lama, tapi di sini pengamatan saya akan lebih objektif. karena di masa ini saya sudah bisa mencermati dengan mata kepala saya sendiri mana pemain-pemain yang mempunyai skill bagus di blantika sepakbola Indonesia.

bercerita di era 1997 an,sebagian besar menggunakan pola 3-5-2 ala Italia. Sementara beberpa tahun terakhir formasi 4-4-2 dan 3-4-3 menjadi tren sepakbola kita. Meski dengan formasi yang berbeda-beda, namun hampir semua tim menggunakan dua wing back, seorang libero. Dalam formasi ini saya mengunakan trio stopper sebagai formasi baku lini belakang.

Dengan ada variasi sedikit, di posisi gelandang dengan mengunakan breaker atau gelandang bertahan,yang mempunyai karater sebagai play-meker tim. Di posisi sayapnya juga menggunakan gelandang gantung yang berfungsi ganda, menyerang dan bertahan.

Variasi juga sedikit terjadi di formasi double strikers. Beberapa tim menggunakan sistem sejajar yang berperan sebagai tombak kembar. Formasi ujung tombak juga di lapisi satu second striker maut di belakangnya.



Berikut komposisi pemainya :
Di posisi penjaga gawang utama, Hendro Kartiko yang sejak 2006 terakhir menjadi kiper andalan tim nasional, menjadi pilihan utama. Hendro yang menemukan kepercayaan diri sejak ditangani Henk Wullems di Prpiala Dunia 1998, makin berkilat penampilannya. Terakhir, Hendro tampil sangat cemerlang saat membela panji Persebaya dan Persija

Sebagai cadangan Hendro, mantan kiper Primavera italia, Kurnia Sandy. Sandy juga menjadi andalan tim nasional Piala Asia 2006 dan Pelita Jaya.Ia juga sempat menjadi kiper ke 3 di tim Sampdoria, Italia.

Kiper PSMS Medan , Markus Horaison, juga layak masuk tim sebagai penjaga gawang ke tiga .Tampil penuh percaya diri dan Posturnya yang ideal, serta ketenangannya, menjadi poin paling menonjol. Permainan Markus yang sangat mengkilat saat membela timnas Piala Asia 2007 saat melawan korea Selatan.

Belakang :
Pada barisan belakang, di posisi libero andalan tim nasional, Sugiantoro yang bermain apik saat membela Persebaya. Perannya masih belum tergoyahkan di posisi ini. " Bejo" Sugiantoro mendapat tendem Nur Alim (Bandung Raya & Persija), yang juga sempat menjadi andalan andalan tim nasional di tahun 1998an.

Nama senior Legenda Persib,Robby Darwis, menemani mereka. Robby sangat layak masuk tim karena punya kharisma serta memiliki bakat kepemimpinan. Dia menjadi palang senior serta kapten tim ini. Dengan kematangannya Robby juga menjadi inspirator saat timnya mendapat tekanan berat.

Sebagai pendamping serta pemain cadangan di posisi libero,hadir Sudirman si " jenderal asal Arseto Solo. Untuk posisi stopper juga hadir Chairil Anwar yang juga sempat menjadi andalan tim nasional di Sea Games 1997. "Pace" sebutan Charil juga merupakan tandemn Sigiantoro di Persebaya Pilihan lainnya adalah Aples Gideon, bek Papua yang sangat baik dalam takling-nya. Aples pada masa emas semasa di tim primavera selalu bermain lugas dan punya teknik memadai terutama untuk mematikan gerakan ujung tombak lawan.


Tengah & Sayap :
Bintang Pelita Jaya Jakarta, Ansyari Lubis akan memimpin lini tengah. Ansyari di tim ini akan berperan sebagai breaker, orang pertama yang menghalau serangan lawan, sekaligus orang pertama yang mengawali serangan. Teknik dan fisiknya yang prima,akan menjadikan tim ini lebih dinamis.Sebagai cadangan Ansyari, pemain asal tim Primavera,Bima Sakti Tukiman layak diberi tempat, meski dia lebih punya naluri untuk bertahan, tetapi Bima handal dalam hal bola-bola mati.

Sebagai playmaker, bintang PKT Bontang,Fahry Husaini tak tergoyahkan posisinya.Meski tubuhnya tidak terlalu besar, dia sangat gigih dan selalu tepat dalam mengambil keputusan. Dialah distributor dan pengatur serangan paling andal selama ini buat timnas Indonesia. Fahry mempunyai cadangan, yaitu juniornya asal Persebaya , Uston Nawawi yang merupakan pemain kunci pasukan Arek Suroboyo. Meski terkesan stayalis ,tapi Uston seorang petarung sejati dan berkarater terus bergerak untuk mencari dan penyuplai bola.

Di posisi sayap kiri bintang andalan Persebaya, Aji Santoso sulit digantikan posisinya.Sepanjang karir nya Aji tampil sangat konsisten dalam melakoni daerah sayap kirinya, Ia juga sempat terpilih sebagai pemai utama tim All-Star Asia tenggara di th 1997 an.Aji mempunyai cadangan Ortissan Sallosa asal Persipura, yang mempunyai skill yang tinggi dalam menyerang.

Sementara di posisi sayap kanan, Elly Eboy layak mendapat tempat.Elly terbukti keandalannya menggalang lini sayap kanan timnas selama ini. Ia juga sangat baik daya penetrasinya ke kotak penalti lawan. Untuk cadangannya ada Anang Mar'uf yang cukup konsisten selam berkarir di klub Persebaya.Ia bisa sebagai pelapis Elly bila sektor sayap kanan mau lebih bermain bertahan.

Depan :

Boaz Sallosa (persipura) akan memaikan peran sebagai second striker. Kemampuannya yang sangat dingin di kotak penalti lawan serta kemampuanya merusak pertahaan lawan sangat cocok baginya. Ia akan bermain bebas mendukung duet "KUN-BANG" alias Kurniawan-Bambang pamungkas. Boaz mempunyai cadangan, yang juga seniornya di Persipura yaitu Rony Wabia. Ronny punya kemampuan menghidupkan serangan dan pandai melepaskan diri dari jepitan pemain-pemain belakang

Sebagai duet ujung tombak, striker asal Primavera dan Sampdoria,Kurniawan menjadi pilihan utama, Kurni sangat dingin di kotak penalti dan selalu pandai mencari posisi. Sebagai tendemnya,hadir striker "si jogo bola udara" Bambang Pamungkas asal Persija. Stiker sangat kaya pengalaman Widodo CP (Petrokimia) dan Rocky Puttiray (Arseto Solo), juga layak diberi tempat sebagai pelapis duet KUN-BANG

Pelatih
Mendampingi tim ini, saya memilih mantan pelatih Bandung Raya dan PSM ujung Pandang,Henk Wullems.. Pertimbanganya karena di bawahnya skema TOTAL FOOTBALL ala BELANDA akan sangat mengesankan. Ini bisa dilihat terutama sepanjang kiprahnya tim Nasional menangani timnas Sea Games 1997. Henk juga mendapat nilai tinggi karena memberi warna sangat agresif pada timnya.

Henk akan mendapat asisten, pelatih Sriwijaya FC , Rahmad Darmawan yang sukses mengantarkan anak-anak Sriwijya juara Liga Indonesia musim 2008. Rahmad mendapat nilai tinggi karena berhasil membentuk Sriwijaya menjadi tim yang sangat solid dan memiliki determinasi mengagumkan. REZZA LUBIS for TOTAL FOOTBALL INDONESIA

Rabu, 06 Mei 2009

Danone Nations Cup 2006 Sepakbola Anak Indonesia Juara 4 Dunia!

Dalam kompetisi sepakbola anak yang terbesar di dunia, Danone Nations Cup 2006, Indonesia akhirnya berhasil keluar sebagai juara keempat!. Bukan hanya itu, tim Indonesia juga dinobatkan sebagai tim yang memiliki pertahanan terbaik (Best Defense) karena hanya kebobolan 1 gol selama 3 hari, wow!
Prestasi yang diraih oleh tim Indonesia kali ini sangatlah membanggakan, bagaimana tidak, karena kompetisi ini bisa dibilang merupakan piala dunia bagi anak-anak dibawah 12 tahun. Terlebih lagi kompetisi ini juga diikuti oleh 32 negara dan semuanya merupakan negara yang kuat prestasi sepakbolanya seperti Italia, Perancis, Brazil, Jerman, Argentina,Belanda, Jepang dll.

Dalam International Final di Lyon, Perancis, sebenarnya Indonesia masuk dalam grup 'keras' karena harus berdampingan dengan Rusia yang merupakan juara tahun lalu, Italia dan juga Portugal. Walaupun demikian, semangat mereka dalam membela merah putih tidak pernah surut, bahkan mereka bisa membabat negara-negara lain dengan skor telak dan akhirnya berhasil keluar sebagai juara grup!

Di perdelapan final, Indonesia mampu mengalahkan Austria dengan skor 2-0, kemudian dalam perempat final sekali lagi tim Indonesia menang dari Cina dengan skor telak 3-0! Hasil inilah yang kemudian mengantarkan Indonesia pertama kalinya ke semifinal.

Di babak semifinal, Indonesia mampu menahan imbang Reunion Island (negara bagian Perancis) dengan skor 0-0. Namun dalam adu penalti untuk menentukan pemenang, tendangan salah satu pemain Indonesia sedikit meleset dan keluar dari gawang. Ini membuat tim Indonesia harus puas menempati posisi keempat dibawah Argentina. Reunion Island sendiri akhirnya keluar sebagai juara diikuti oleh Swiss di posisi kedua.

Walaupun belum berhasil menjadi juara, kita patut bangga kepada tim nasional tahun ini karena mereka mampu memberikan dua trophy kebanggaan bagi Indonesia! Semoga prestasi kali ini tidak berhenti sampai disini dan kita doakan Indonesia bisa menjadi juara tahun depan!

Prestasi tahun 2005 : Peringkat 11 dunia dari 32 negara



• The Best Attack Team
Memecahkan gol terbanyak sepanjang sejarah DNC, yaitu sebanyak 24 gol
• Top Scorer
Irvin Museng dengan 10 gol, dan karena prestasinya tersebut Irvin dipanggil untuk bergabung dengan AJAX Amsterdam Junior

Tahun 2006 : Peringkat 4 dunia dari 32 negara

• The Best Defense Team
hanya kebobolan 1 goal selama World Final

Senin, 06 April 2009

Sepakbola Maluku, Samba Brazilnya Indonesia

PESAWAT LION yang saya tumpangi perlahan-lahan mendarat di Bandara Pattimura, Ambon. Kepergian saya ini dalam rangka mengantarkan tunangan saya yang pada tahun 2007 lalu ingin melaksanakan tugasnya PTT sebagai dokter gigi di daerah Kepulauan Seram, Seram Bagian Barat, Maluku. Keindahan panorama alam kota Ambon yang sangat mempesona tak pernah saya lupakan sampai saat ini. Bahkan perjalanan saya ke tempat kelahiran oma saya ini banyak menemukan kisah-kisah yang membuka mata cakrawala saya terhadap sejarah Maluku

Tanah Maluku dengan ibu kotanya, Ambon, memang pernah melahirkan pemain-pemain handal bagi tim nasional Indonesia. Pada era dekade 80’an, muncul Bertje Matulapelwa yang besar lewat klub terkenal di Ambon, Pusparagam. Juga masih ada beberapa pemain berdarah Ambon tetapi besar di luar Ambon, seperti Ronny Pattinasarany, Jacob Sihasale, Yopie Leepel, dan John Simon

Pada dekade 90’an banyak terlahir pemain berdarah Ambon di belantika sepakbola nasional, sebut saja duo kakak beradik Rocky Putiray (Arseto Solo) dan Charles Putiray (kini di Lamongan), atau Piters bersaudara Ronald Piters dan Sammy Piters (Mitra Surabaya). Bahkan Ronald yang sempat bermain untuk timnas juga menjadi kekuatan Persebaya dalam merebut juara Liga Indonesia di tahun 1996

Pada masa itu juga, muncul Chairil Anwar Ohorella, yang pernah berlabuh di klub Assyabab Salim Group dan bersama Ronald Piters ikut andil dalam mengangkat prestasi Persebaya. Pada saat itu, Chairil yang dipanggil dengan sebutan ”Pace” termasuk dalam trio bek tangguh timnas Indonesia bersama Sugiantoro dan Nur Alim semasa timnas dilatih Meneer Hank Wullems (Belanda)

Tidak hanya itu, masih banyak pemain Maluku hebat macam Farrel Raymond Hattu (Petrokimia Putra), Imran Nahumamury (Persija),Maully Lessy (Persikota), Rahel Tua Salamony (Persebaya), Bakrie Umarela (PSB Bogor),Kamarudin Betay (Persija), Donny Latuperisa (Pelita Jaya), Frans Sinatra Hwe (Pelita Jaya), Ritam Manubun (Persipura), Edwar Ivakdalam (Persipura), Leonard Tupamahu (Persija) dll. Bahkan saat ini timnas kita pun masih dihuni oleh nama-nama Ambon Manise seperti Ricardo Salampessy (Persipura) dan T. A Musafry (Persiba Balikpapan)
Ketika saya berada di Maluku, saya menyaksikan memang banyak anak-anak dengan talenta bagus di sana, bermain bola di pasir putih pantai Maluku menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Bahkan banyak anak-anak daerah Tomalehu dan Latu yang sangat bangga dengan sosok Bakrie Umarela. Dan beberapa di antaranya mempunyai kostum bola yang bertuliskan Bakrie Umarela di belakangnya. Setiap desa pun mempunyai tim sepakbola, dapat dilihat dari klub sepak bola di Maluku yang hampir menyebar pada semua daerah tingkat dua
Sebenarnya untuk Pulau Ambon saja terdapat beberapa klub sepak bola seperti Puspa Ragam, Putera Nusantara (Putnus), Virgin, Persatuan Sepak Bola Hitu Leitimur (PSHL), kemudian Persmi Masohi di Maluku Tengah, Persis Geser di Seram Timur dan masih banyak lagi
Tetapi mengapa tidak satu pun klub asal Maluku yang bisa menembus ke divisi utama liga super? Pertanyan ini pun beberapa kali saya lontarkan pada beberapa pejabat disana, pendapat mereka adalah bahwa sepakbola di Maluku banyak diminati, namun tidak dapat berkembang dengan baik karena terbentur masalah dana dari pemerintah daerah

Sungguh sangat disayangkan padahal tanah leluhur beta ini termasuk gudangnya pemain atlet berbakat. Tak hanya sepakbola, atlet tinju dan marathon pun banyak terlahir di daerah ini

Tapi katong seng boleh pesimis, beta yakin suatu saat nanti sepakbola akan sukses di sini. Itu bisa terlihat dari 1 kecamatan Salahutu (Tulehu), yang pada tahun 2006 berhasil menjadi juara di propinsi Maluku. Bahkan kecamatan ini termasuk penghasil pemain bagus untuk Persatuan Sepak Bola Ambon (PSA)

Bakat-bakat kecamatan Negeri Tulehu tak usah dipungkiri lagi, ini bisa dilihat dari keterlibatan sembilan putra Maluku dalam Tim Nasional U-13 Indonesia dalam turnamen di Malaysia pada 3-6 Juni 2007. Kiprah tim ini pun tampil begitu gemilang. Ini ditandai dengan suksesnya Timnas U-13 di Festival Tingkat Asia itu dalam beberapa laga pertandingan

Dalam pertandingan yang berlangsung di kota Sabah itu, Timnas U-13 yang dihuni sembilan putra Maluku ini memperoleh hasil memuaskan, diantaranya Indonesia Vs Myanmar 1-1, Indonesia Vs Malaysia 2-0, Indonesia Vs Australia 9-0, dan Indonesia Vs Brunei 3-0



Dari sejumlah pertandingan di Kejuaraan Asia U-13, sembilan putra Maluku asal Negeri Tulehu ini menjadi Pemain Inti pada setiap laga tanding. Kesembilan anak-anak muda Maluku ini berasal dan dibina oleh Sekolah Sepak Bola (SSB) Tulehu Putra masing-masing: Sahrul Umarella, Rival Lestaluhu, Fazhur Rahman Ohorella, Zulfikar Malabar, Irfandi Al Zubeidy, Zubair Maruapey, Ricky Bardes Leurima, Pian Maruapey, Sahril Nahumarury

Wah, prestasi ini bukan hanya mengangkat persepakbolaan Maluku saja, tetapi juga mengangkat prestasi timnas Indonesia. Ini juga menjadi bukti talenta anak-anak Maluku lebih menjanjikan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia

Saya berharap suatu saat nanti ada kebangkitan yang bisa mengangkat persepakbolan Maluku. Apabila saya seorang Nirwan Bakrie atau seorang Arifin Panigoro, ingin rasanya saya membuat sebuah klub atau sentra sepakbola pemain berbakat di sini. Karena sudah terbukti pemain–pemain Maluku terlahir dengan bakat alam yang didapat sejak mereka lahir. Hanya sebuah kemauan dan kesungguhan dari pelaku-pelaku sepakbola inilah, katong akan bangkit dari keterpurukan minim prestasi seperti saat ini. Atau mungkin juga kebangkitan sepakbola Maluku akan menjadi kebangkitan timnas Indonesia di masa yang akan datang

( Apabila anda ingin melihat talenta anak-anak Brazil, tak usahlah anda ke Rio de Janeiro atau Sao Paolo, cukuplah anda pergi ke tanah Maluku yang mempunyai sepakbola dengan citra rasa bak SAMBA BRAZIL)-RezzaLubis untuk TOTAL FOOTBALL INDONESIA-