Selasa, 16 Maret 2010

Eddy Meeng Legenda Sepakbola BATAVIA

Mungkin tak banyak orang tau siapa Eddy Meeng. Dan mungkin orang memang sudah lupa tentang sejarah sepakbola kota tempo dulu yang bernama Batavia.

Freddy Henry atau yang biasa disapa Eddy Meeng lahir pada 20 Desember 1908 di Pladjoekota Palembang, Sumatera Selatan. Karena ayahnya di tugaskan di pulau jawa, maka lau ia Keluarga kemudian pindah ke Jawa dan menetap di Batavia (nama kota sebelum jakarta sekarang).

Bersama dengan adiknya Frans, Eddy sangat gila sepak bola. Mereka memiliki bakat yang luar biasa dari anak-anak seusianya. Lalu pada usianya yang ketiga belas ia dan Frans bergabung dalam Asosiasi Sport Internal Administrasi (SVBB), kemudian mereka juga sempat bergabung ke klub Boys Blue, klub yang dididirikan oleh salah seorang petinggi kompeni Belanda. Dan di klub ini lah Eddy tertempa sebagai palang pintu di garis belakang.

Selama berkiprah di blantika sepakbola, Eddy Meeng telah bermain dari 1921 sampai pada Perang Dunia II..Ia juga sempat menyebutkan kalau sang adik Frans adalah seorang pemain lapangan tengah yang baik. Sedangkan Eddy, dulu juga kadang-kadang bermain sebagai penyerang.

Eddy Meeng sangat merasakan kesuksesasannya dalam karik sepakbolanya di era 1928-1930.Yang menjadi kenangan terindah sampai di usia senjanya. Pada era 1928-1930, tim SBVV Batavia memang menjadi tim yang sangat menakutkan di kawasan asia. Di tim ini juga muncul nama-nama besar seperti Lasso, Van Hooydonk, Bert Bax, Sumo (yang di juluki Hercules), Weise, Chris Mols, dan Janus Becker.



Sebagai pelatihnya tim Batavia di isi oleh orang Belanda tulen bernama "Paatje" Crompvoets. Paatje juga termasuk pelatih yang paling berhasil di era tahun 1930 an kenang " Meeng Eddy"
.Keberhasilan SVBB Batavia memang sungguh luar biasa karena prestasinya dicapai setelah beberapa tahun sebagai klub promosi.

Puncak sepakbola Eddy Meeng dalam kehidupannya adalah saat timnya memenangi kejuaraan di Surabaya. Pada saat itu Tim Surabaya memiliki seorang stiker tangguh bernama Bep Bakhuy, bahkan stiker ini pada tahun 1937 menandatangani kontrak dengan FC Metz Perancis. Tapi tugas untuk menjinakan Bep Bakhuy akhirnya sukses di emban Eddy Meeng. Batavia pun akhirnya menang dengan skor 4-3.



Berkat prestasi itu,tim SVBB Batavia akhinya tercatat sebagai klub penyumbang pemain terbanyak dalam tim Hindia Belanda yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 1938 di Perancis. Salah satu hal yang ia sesalkan adalah kesempatan yang ia buang takkala ia harus bekerja penjadi angkatan laut , di banding membela tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938. Sementara sang adik Frans Meeng tetap memilih untuk meperkuat tim Hindia Belanda.

Tapi nasip Edy Meeng, masih terbilang beruntung. Mengingat sampai saat ia masih bisa mengenang prestasi sepakbolanya di usia yang menginjak 99 tahun. Sementara sang adik Frans Meeng terbunuh, saat di tangakap tentara Jepang di tahun 1944. Nama Frans Meeng termasuk di dalam 4.200 daftar " Romusha " yang tertawan.


Minggu, 07 Maret 2010

Kiprah Jong Ambon di Liga Futsal Indonesia

Siapa tidak kenal Ronny Pattinasarani, Donny Latupeirissa, Bertje Matulapelwa, Berty Tutuarima, John Lesnusa, dan Elly Idris pesepakbola di era 70-an. Era 80 s/d 90-an diwakil Imran Nahumamury, Sammy Pieterz, Ibrahim Lestaluhu, Ohorela, dan Rocky Putiray, mereka adalah pesepakbola keturunan Maluku. Saat ini salah satu propinsi di Indonesia Timur yang sempat mengalami konflik itu masih menelurkan para pemain bintang dan menyumbangkan pemain bagi tim nasional Indonesia sebut saja Ricardo Salampessy, Fandy Mochtar, Leonard Tupamahu, Rahmat Rivai dan Talaohu A Musafry.Seperti juga di cabang sepakbola konvensional, di cabang futsal-pun pemain futsal keturunan Maluku bertebaran di beberapa klub anggota Indonesian Futsal League, yang adalah kompetisi tertinggi Futsal di Indonesia. Terhitung sekitar ada belasan pemain futsal keturunan maluku yang dicatat oleh tim Spiritfutsal berkiprah di Indonesian Futsal League sejak musim 2006/2007 s/d 2010.

Tim SWAP (Sport, Worship And Praise) Futsal Club tercatat menyumbang pemain Maluku terbanyak sebanyak 8 pemain. Disusul Electric PLN dengan dua pemain dan Pelindo II, BiangBola dan Dupiad Fak-Fak masing-masing satu pemain. Delapan pemain keturunan Maluku di tim SWAP termasuk pemain-pemain muda usia, rata-rata 24 tahun bahkan yang termuda baru berusia 19 tahun, yaitu Imanuel Frans dan Kiper Gerry Ferdinandus. Sedangkan pemain tertua ada di tim Electric PLN, Ricardo Polnaya yang juga mantan pemain tim nasional futsal Indonesia, berusia 27 tahun.

Kakak beradik Manuhutu, Ronaldo dan Mozes mempunyai peran penting di tim SWAP. Ronaldo yang lebih tua satu tahun merupakan kapten cadangan tim SWAP. Sedangkan Mozes Manuhutu, merupakan pencetak gol terbanyak urutan kedua dengan 20 gol, hanya beda 2 gol dari Achmad Syaibani, top skor IFL Musim 2009. Di urutan ketiga daftar pencetak gol juga tercantum nama Socrates Matulessy dari Electric PLN. Pemain yang satu ini juga mantan pemain tim nasional futsal dan bintang iklan produk sepatu Specs.

Sementara itu, Vincent Vallent pemain keturunan Maluku yang pertama kali mengecap Juara Indonesian Futsal League bersama BiangBola di musim pertama. Di babak final four meski tidak mencetak gol, tetapi penampilannya sangat berperan atas keberhasilan BiangBola merebut juara IFL. Selain itu pencatat sejarah IFL juga dicatat oleh Jaconias AA Lakburlawal, ia adalah pencetak gol pertama IFL ketika SWAP melawan Produta, Bandung pada pertandingan pembukaan IFL yang diresmikan oleh Ketua PSSI, Nurdin Halid.

Pemain lainnya yang tidak kalah perannya bagi tim masing-masing adalah Miron Hehanussa, Reinhart Titaheluw, Edward Supusepa, Agustinus Latlutur, Gabriel Ditilebit (Ex Tim Nasional 2004), dan Piere Latupeirissa (lebih dikenal dengan Freestyler Indonesia) dari tim SWAP, Jusman (Pelindo II), dan A. Renyaan (Dupiad Fak Fak). Semua pemain, sependapat dan memiliki impian yang sama yaitu merindukan Negeri Ambon yang aman dan menghimbau kepada anak-anak muda Maluku untuk terus bermimpi besar dan berprestasi di cabang olahraga futsal

Sabtu, 27 Februari 2010

Tanah Papua Amunisi Talenta Muda

Sejarah membuktikan bahwa secara alami di tanah Papua selalu melahirkan pemain-pemain berbakat. Ini bisa terihat takakala seorang anak papua bernama Dominggus Waweyai, yang sangat fenomenal. Dahulu ia juga stiker tangguh timnas. Waweyai juga salah satu tendem Sucipto Suntoro alias Gareng dalam membela tim Merah Putih di kancah internasional.

Sayangnya ketika PSSI try out ke Eropa, Waweyai tidak kembali dan malah memilih tinggal di Belanda. Selain Waweyai yang fenomenal ada pula pemain lainnya seperti Timo Kapisa, Yohanes Auri, Adolof Kabo. Selanjutnya Noah Mariem, Rully Nere, Theorodorus Bitbit, Aples Tecuari, Rony Wabia dan Crist Leo Yarangga. Diera tahun 2000an kita mengenal Elly Aiboiy Alexander Pulalo, Boaz Solossa. Ortizan Solossa, Imanuel Wanggai, Ricardo Salampesy, Cristian Woarabay dan lainnya.

Menurut Rully Nere, generasi emas Papua akan segera kembali tercetak. Ia melihat striker Alan Arongear punya potensi bagus dia baru berusia 17 tahun dan juga punya skill individu yang bagus. Selain itu Rully Nere juga melihat pemain belakang seperti Edison Ames, Ilfred Soo, Yohanes Tjoe juga berpotensi mejadi pilar timnas dimasa datang. Kemudian Cristian Uram dan Yan Piet Alex, dua pemain sayap ini termasuk cikal bakal pemain yang baik. "Saya melihat banyak pemain baru yang bagus dan sekarang tinggal bagaimana mencari dan membina mereka serta memberikan sentuhan teknik dan skill individu yang baik," ujarnya.

Pendapat lainya juga di amini oleh Max Pieter, "Saya tidak percaya kalau tanah Papua krisis striker dan pemain, banyak pemain alam yang terus lahir di sini.Tapi sayang saya melihat pembinaan masih kurang sehingga mereka berkembang apa adanya tanpa banyak uji coba dan latih tanding ke luar Papua," tegas Max Pieter, mantan pemain tim PSSI dan juga mantan pelatih PSSI usia 15 tahun.

Menurut Max Pieter yang juga mantan pelatih Sekolah Sepak Bola Ragunan Jakarta, latihan-latihan dasar sepak bola bagi para pemain bola di tanah Papua sangat penting." Coba lihat saja seorang pemain yang sudah berpengalaman tetap harus berlatih dribling yang baik termasuk passing bola. Sebab kalau sudah menguasai teknik-teknik dasar sepak bola dengan sendirinya akan berkembang di lapangan,"tegas Max.

Walaupun tanah Papua gudang pemain bola, Tetapi dulu di persipura dengan cederanya Boaz Solossa justru membuat pelatih kepala Persipura Irvan Bhakti pusing kepala untuk mencari pemain baru pada posisi Boaz . Memang ada pemain muda seperti Korneles Kaimu, Tinus Pae dan Anthon Mahuse tetapi belum sebaik Boaz Solossa. Sehingga tidak ada pilihan lain sehingga terpaksa pelatih Kepala Persipura Irvan Bhakti memasukan pemain asal Kamerun Jeremiah yang berpasangan dengan striker asal Brasil Albeto.

Padahal sebelumnya Beto sudah padu dengan Boaz Solossa. Bisa di lihat oleksi goal Boaz pada putaran pertama Liga Indonesia 2006-2007 mampu membuat goal 13 goal dan merupakan satu satunya pemain Indonesia yang mampu menyaingi Cristian Gonzales pencetak goal terbanyak sebelumnya. Memamang Ironis hampir sebagian besar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia didominasi oleh pemain asing. Mungkin ini merupakan pekerjaan rumah bagi PSSI dan juga pengurus klub klub di daerah untuk selalu membina dan melahirkan pemain pemain muda berbakat

Sebenenarnya pembinanan berkala pemain bola Papua, bisa terlihat di ajang PON. Setiap PON selalu melahirkan bintang-bintang muda asal Papua. Boaz Solossa, Ricardo Salampesy, Cristian Worabay adalah bekas pemain PON Papua di Palembang 2004 lalu.

Begitu pula dengan Christ Leo Yarangga, Ronny Wabia, Aples Tecuari, Alexander Polalo, Herman Polalo,Izak Fatary dan Ritham Madubun yang juga merupakan pemain pemain eks PON. Kehebatan mereka pada saat itu tercermin disaat David Saidui memasukan gol dengan pantatnya atau yang dikenal dengan gol pantat di depan gawang tim PON Banda Aceh di tahun 1993 di partai final. Anak-anak Papua pun menang besar 6-2 dan sangat fenomenal karena mereka bermain dengan skill dan kerjasama yang baik.

Kini secara otomatis para pemain eks PON Papua pun secara langsung direkrut masuk Persipura, Persiwa Wamena dan Persidof. bahkan tim-tim di luar papua pun seperti PSMS dan Sriwijaya FC juga memakai tenaga mereka.

Sudah menjadi target time elit Papua kalau eks pemain PON akan direkrut jadi tim Mutiara Hitam atau Persipura sebut saja eks PON Palembang antara lain Ricardo Salampesy, Korinus Fingkreuw, Elias Korwa, Cristian Worabay dan lainnya pernah memperkuat skuad Mutiara Hitam. Tapi kini karena Mutiara Hitam kini sudah memiliki atau diback up tim Persipura U18 dan Persipura U23. Para pemain PON mulai tersebar ke beberapa klub lainya. Karena para pemain muda di Persipura U-18 dan U-23 juga memiliki kualitasnya permainan di atas rata-rata pemain seusia mereka.

Pelatih Kepala Persipura U 21 Ferdinando Fairyo mengatakan untuk menghasilkan banyak pemain berbakat atau mau menjadikan tanah Papua sebagai gudangnya pemain bola harus melakukan pembinaan yang terarah dan sungguh serta memiliki hati yang tulus. “Kalau tidak sepenuh hati maka saya khawatir akan tidak membawa hasil yang maksimal dan hanya memikirkan materi tanpa melahirkan pemain bintang,”ujar Fairyo mantan asisten pelatih PON Palembang lalu.

Dikatakan nya, "Dulu Ricardo Salampessy dianggap pemain yang tak berpotensi dan badannya terlalu kecil dan lembek tetapi sebagai pelatih harus mendorongnya terus agar maju dan percaya diri. “”Lihat sekarang dia jadi langganan timnas PSSI" üjar Fairyo yang baru saja mengikuti kursus pelatih lisensi C di Jakarta. Ia juga menyarankan diklat seperti PPLP Papua juga sanggup melahirkan banyak pemain kalau ada keseriuasan dan kemauan maka hasilnya pun akan maksimal.

Sekarang kini tinggal terserah kita saja, atau mungkin bapak-bapak di PSSI sudah mulai berpikir untuk serius membina bibit muda di tanah Papua, di bandingkan menghaburkan uangnya membina tim di luar negeri tanpa hasil.

Jumat, 26 Februari 2010

Liem Tiong Hoo Legenda Persebaya Yang Terlupakan

Penggemar sepak bola zaman sekarang mungkin tidak mengenal Liem Tiong Hoo alias Hendro Hoediono. Tapi cobalah bertanya kepada oma-opa yang pernah menikmati geliat Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya), bond atawa perserikatan bola kebanggaan arek-arek Suroboyo, pada era 1940-an dan 1950-an.Nama Liem Tiong Hoo, pemain klub Tionghoa (kemudian berganti nama menjadi Naga Kuning dan Suryanaga, Red), sangat terkenal pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Liem benar-benar menjadi idola masyarakat pada masanya. Dia bersama para pemain lain dari sejumlah klub di Surabaya berjasa melambungkan nama Persebaya di pentas bola nasional.

“Zaman saya dulu Persebaya hampir selalu menang, jarang kalah. Dan nggak pernah ada kerusuhan,” tegas Liem Tiong Hoo.Waktu masih anak-anak Ia sudah sangat suka main sepak bola. Pulang sekolah, Liem Tiong Hoo kecil langsung menuju lapangan di Cannalaan, yang sekarang jadi Taman Remaja.

Pada tahun 1934-1944, di Surabaya ini ada klub Persebaya dan SVB atau Soerabaiasche Voetbal Bond. SVB ini diikuti klub-klub seperti Tionghoa, HBS (Houd Braef Standt), Exelcior, THOR (Tot Heil Onzer Ribben), Gie Hoo, Annasher. Itu merupakan kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Ketika dirinya masih berjaya sebagai pemain sepak bola dan bisa mencetak banyak gol di gawang lawan. kemudian namanya akhirnya dikenal orang di mana-mana.

Akhirnya prestasinya itu membuat dirinya di lirik Persebaya.Tahun 1943 dirinya menjadi pemain termuda di Persebaya dengan usia 17 tahun. Setelah itu menLiem Tiong Hoo jadi langganan di Persebaya. Ikut kejuaraan dan turnamen di berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Bandung.

"Persebaya dulu itu beda dengan yang sekarang ini. Persebaya itu bukan klub yang membeli pemain-pemain dari luar, tapi mengambil pemain dari klub-klub yang ada di seluruh Kota Surabaya. Pemain yang bagus-bagus dari beberapa klub itu diambil untuk memperkuat Persebaya " kenangnya.

Pada saat masa nya dulu Persebaya memang terkenal sangat kuat.Dulu, Persebaya punya trio lini belakang dan trio lini depan yang disegani lawan-lawannya. Trio belakang: Sidi, Sidik, Sadran. Trio depan: (Liem Tiong Hoo), Bhe Ing Hien, Tee San Liong. "Kalau ada tiga teman di belakang ini, saya tidak khawatir pasokan bola dan pertahanan akan bagus. Itu yang membuat Persebaya sangat kuat " ujar Liem Tiong Hoo.

Suatu ketika tim nasional Republik Tiongkok Nasionalis berkunjung ke Surabaya. Liem tentu saja memperkuat Persebaya untuk menghadapi kesebelasan yang saat itu sangat disegani di Asia Timur Jauh (Far-East Asia). Melihat kelincahan Liem mengolah si kulit bundar dan mengecoh lawan-lawannya, Liem diajak memperkuat tim nasional Tiongkok."Saya menolak karena saya orang Indonesia. Saya bukan orang Tiongkok," tegas Liem Tiong Hoo.

Bukan itu saja. Liem juga dirayu agar bergabung dengan klub Feyenoord di Negeri Belanda. Biaya kuliah, biaya hidup, dan sebagainya ditanggung pihak Belanda asalkan bintang muda Persebaya asal Klub Tionghoa itu mau diboyong ke negara kincir angin. "Saya bilang tidak. Saya bukan orang Belanda. Saya orang Indonesia," kenang ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.

Menjelang Olimpiade 1952, diadakan seleksi pemain untuk membentuk tim nasional Indonesia. Liem tidak bisa berlatih intensif karena beban studi di FK Unair sangat tinggi. Namun, pelatih dan pengurus PSSI ingin agar Liem masuk tim nasional meskipun tidak ikut seleksi dan latihan. Liem kontan menolak. "Saya bilang, saya nggak ikut latihan kok masuk tim?" tukasnya.

Tim seleksi tetap meyakinkan bahwa kemampuan Liem Tiong Hoo masih selevel dengan pemain-pemain nasional lain meskipun tidak berlatih. Liem rupanya tak bisa dirayu. "Saya harus konsekuen. Kalau nggak ikut latihan, ya, tidak boleh ikut gabung. Itu sudah jadi prinsip saya," tegasnya.

Di usia 83 tahun, Liem Tiong Hoo, yang lebih dikenal sebagai Dokter Hendro Hoediono, masih tetap praktik sebagai spesialis penyakit kulit dan kelamin. Tubuhnya masih tegap, ingatan tajam, dan punya selera humor tinggi. Liem masih ingat persis kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya di lapangan hijau 70-an tahun silam.

“Gigi saya ini palsu karena yang asli sudah patah saat main sepak bola. Main sepak bola, ya, risikonya begitu. Kalau nggak mau, ya, silakan main pingpong atau badminton,” ujar Liem Tiong Hoo.

BIODATA

Nama : Liem Tiong Hoo
Nama populer : dr. Hendro Hoediono
Lahir : Surabaya, 23 Oktober 1926
Istri : Listiyani (almarhumah)
Idola : Lee Waitong, Raja Bola Timur Jauh (Tiongkok) era 1930-an.

Pendidikan :
- Algemeene Middelbare School (AMS), Jl Kusuma Bangsa Surabaya
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Penghargaan:
- Ketua Umum Persebaya Bambang DH, 18 Juni 2004, sebagai legenda Persebaya.
- Presiden Soeharto sebagai dosen FK Unair yang berdedikasi.

Senin, 22 Februari 2010

Nasrul Koto Mutiara Arseto Solo


Nasrul Koto adalah “mutiara” yang ditemukan Nobon. Pelatih sepak bola asal Sumatera Utara itulah yang melihat bakat Nasrul dan menggandengnya menjadi salah satu penyerang tim Pekan Olahraga Nasional Sumatera Utara 1984/1985. Ketajamannya dalam merobek jala gawang lawan membuat Nasrul menyisihkan striker utama PSMS Medan kala itu, Syamsir Alamsyah. “Hanya dua orang pemain PSKB Binjai yang masuk tim PON Sumatera Utara,” kenang Nasrul dengan bangga. Ajang PON mengantarkan Nasrul menjadi pemain sepak bola profesional.

Bakat bola Nasrul itu menetes dari ayahnya, Isti Jangge. Ayahnya pernah menjadi pemain di Binjai sebelum menekuni usaha konfeksi. Salah satu kakak kandungnya, Hambrita Koto, juga bekas pemain nasional.

Seusai PON, nama Nasrul bersinar dan kemalasan untuk sekolah menghinggapinya. “Kemalasan” itu disambar oleh Arseto Solo dengan menyodorkan tawaran menjadi pemain. Pada 1985, Nasrul menjadi salah satu pilar klub milik Sigit Hardjojudanto yang bermarkas di Kadipolo itu. Sebelumnya, ia sempat dipanggil menjadi salah satu calon pemain PSSI Garuda, tapi batal.

Di klub barunya, Nasrul hanya perlu dua tahun untuk membuktikan diri sebagai penyerang andalan. Pada musim kompetisi Galatama 1987, ia merebut sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak dengan mengemas 16 gol. Nasrul juga ikut andil membawa Arseto sebagai juara Galatama 1993.

Dari Solo, Nasrul melanglang buana ke sejumlah klub. Setelah berpesta di Arseto, ia berlabuh di Aceh Putra semusim dan membela Semen Padang juga semusim. Akhirnya Nasrul mengakhiri petualangannya di dunia sepak bola dengan kembali ke Kadipolo, kandang Arseto. Pemerintah Sumatera Barat sebenarnya menginginkan Nasrul membela PSP, salah satu klub Perserikatan. Ia juga akan dijadikan pegawai Bank Sumbar, tapi lagi-lagi ditolak. Ia balik ke Arseto, yang kemudian menjadi klub tempatnya mengakhiri karier sebagai pemain profesional.

Namun, sepak bola meninggalkan kenangan buruk bagi Nasrul. Ia pernah menerima enam jahitan di tengah lapangan karena “diambil” Donny Lattuperisa. Di lapangan hijau pula ia pernah tidak mampu menahan amarah dan beradu jotos. “Saya menyesal sekali. Satu-satunya kartu merah yang saya terima sepanjang saya menjadi pemain,” kata Nasrul saat mengenang sebuah pertandingan di Stadion Agus Salim, Padang.

Ia pernah diiming-imingi menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia seusai tim nasional meraih medali emas SEA Games Jakarta. Kalau itu diambil, “Mungkin (sekarang) sudah jadi kolonel atau letkol. Tapi waktu itu sama sekali tidak terlintas menanggapi tawaran Pak Kardono (Ketua Umum PSSI),” kata Nasrul.

Lelaki itu memilih menapaki jalur berliku di dunia bola, melanglang ke sejumlah klub. Berkat kecerdikannya menjadi penyerang, dia pernah “terdampar” di meja pabrik Pupuk ASEAN dan PT Semen Padang. Ia menjadi karyawan di sana, tapi cuma tahan semusim. Naluri bolanya tetap memanggil-manggil dan akhirnya ia meninggalkan seragam necis dan pekerjaan enak di belakang meja.

Pemerintah Sumatera Barat sebenarnya menginginkan Nasrul membela PSP, salah satu klub Perserikatan. Ia juga akan dijadikan pegawai Bank Sumbar, tapi lagi-lagi ditolak. Ia balik ke Arseto dan itu menjadi klub tempatnya mengakhiri karier sebagai pemain profesional. “Tidak mungkin berpisah dengan bola,” ujarnya.

Pilihannya itu akhirnya mengantarkan Nasrul melatih PSBS Bangkinang. Ia rela melakoni pekerjaan barunya itu meskipun harus berpisah dengan Veria Susanti, istrinya, serta dua anaknya, Nesia Zara Verina, 16 tahun, dan Fiqky Seto Ramadhan, 15 tahun. Orang-orang yang ia cintai itu tinggal di sebuah rumah yang dibelinya saat menjadi pemain Arseto di daerah Cemani, Sukoharjo.

Nasrul menyimpan obsesi besarnya yaitu memiliki klub sepak bola profesional sendiri, sesuatu yang masih jauh di awang-awang. Tapi impian itu bukan sesuatu yang mustahil. Dulu, saat Nasrul masih kecil di Binjai, ia tak bermimpi mengenakan kostum merah-putih berlogo Garuda. “Motivasi yang paling penting. Saya jadi pemain bola karena motivasi, bukan lantaran hasil didikan sekolah sepak bola,” ujarnya.

Butuh modal besar untuk membikin klub. “Saya sekarang belum punya apa-apa,” katanya. Namun, ia tetap bertekad mewujudkan impian itu. Ia yakin bisa mewujudkan cita-citanya. Lelaki itu pernah menjadi manajer pemasaran sebuah usaha konfeksi batik. Darah saudagar orang tuanya, Isti Jangge dan Rosmani, tampaknya mengalir deras ke Nasrul. “Kalau saya punya uang banyak, obsesi saya bisa memiliki klub sendiri,” katanya.

Karir bermain :

* PSKB Binjai (1983)
* Tim PON Sumatera Utara (1984)
* Arseto Solo (1985-1993)
* Aceh Putra (1993)
* Semen Padang (1994)
* Arseto Solo (1995-1997)
* Tim nasional King's Cup (1986)
* Tim nasional SEA Games (1987)
* Tim nasional Piala Kemerdekaan (1988-1989)
* Tim nasional Pra-Piala Dunia (1990)

Karir Pelatih :

* Persibi Boyolali (2001)
* PSBS Bangkinang Pekanbaru (2002-2004)
* Persibi Boyolali (2005)
* Persip Pekalongan (2005)
* PSBS Bangkinang Pekanbaru (2006-sekarang)





Jumat, 19 Februari 2010

Robby Darwis Libero Pangeran Biru

Bila kita melihat sejarah liga Indonesia pertama, tentu ada dalam sejarah bahwa juara pertama kalinya adalah Persib Bandung yang mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol tunggal Sutiono Lamso. Yang kita bahas adalah sang kapten legenda pujaan Bandung Robby Darwis. Robby Darwis lahirLembang 31 Oktober 1965 . Robby ini memang di gelari bakat yang menjulang dan demikian pula dengan kepemimpinannya sangat menonjol.

Sebagian besar waktu karirnya dihabiskan dengan menjadi kapten baik di klub maupun di timnas Indonesia. Robby sempat memperkuat timnas Indonesia sebanyak 53 kali dan mencetak 6 gol, juga ikut mempersembahkan piala emas SEA GAMES 1987 dan 1991juga pernah menjuarai piala Sultan Hasanal Bolkiah tahun 1986 sebelum pensiun tahun 1997 setelah mengabdi selama 10 tahun. Sebagai pribadi dia memperroleh gelar pemain terbaik Indonesia tahun 1987 dan Robby dianugerahi sebagai pemain legendaris Indonesia pada final Copa Indonesia 2007. Robby memang ditakdirkan untuk jadi seorang bintang. Sejak bakatnya terendus pelatih Persib asal Polandia Marek januta di awal '80-an, jalan karier seakan terhampar mulus untuknya. Secara kebetulan dia tumbuh ketika atmosfer sepak bola Bandung tengah menginjak masa keemasan. Bersama adjt Sudrajat, Robby mewakili generasi Persib paling mencorong di pertengahan '80-an dan medio '90-an.

Tidak berlebihan bila Robby dianggap sebagai wakil generasi emas Persib paling bercahaya. Setidaknya jika kiprah di timnas dijadikan parameternya. Total sepuluh tahun (1987-1997) ia mengenakan seragam Merah-Putih. Dan sebagian besar waktu kariernya di timnas ia lalui sebagai seorang kapten.

Kiprahnya meninggalkan kesan tersendiri buat publik bola Bandung. Sebab, setelah ia pensiun tidak ada lagi pemain Persib yang dipercaya menjadi pemanggul komando di timnas. Tak heran bila sampai saat ini nama Robby selalu dipersonifikasikan dengan romantisme kejayaan Persib tempo dulu.


Sebuah pengakuan yang sangat wajar, mengingat Persib sempat menancapkan kukunya dengan amat dalam di altar sepak bola nasional semasa Robby masih aktif. Bersama koleganya di generasi emas Persib, tiga gelar juara Perserikatan dan satu trofi Liga Indonesia ia persembahkan untuk para bobotoh. Robby menganggap keempat gelar itu sama-sama mengesankan. Gelar pertama di kancah Perserikatan yang direbut pada musim 1985-86, dia anggap sebagai gerbang prestasi generasi emas Persib.

Keberhasilan itu terasa sangat berarti karena sebelumnya tim Pangeran Biru sempat merasakan pahitnya terlempar ke Divisi I pada 1978. Gelar sekaligus juga mengakhiri paceklik prestasi selama 25 tahun. "Sedangkan gelar juara Perserikatan 1989-90 menjadi jawaban atas kegagalan generasi emas pada tiga musim setelah merebut gelar pertama," tutur Robby. Begitu pula dengan gelar ketiga yang direngkuh tahun 1993-94. Terutama karena itulah kompetisi Perserikatan terkahir. Pada msuim berikutnya PSSI mengubah format kompetisi menjadi Liga Indonesia dengan menggabungkan tim asal Perserikatan dan Galatama. Karena itu pula Persib berhak menyimpan Piala Presiden secara permanen di lemari koleksi mereka. Kesan terhadap gelar keempat idak kalah impresifnya. Robby menyebut kebehasilannya menyabet titel kampiun Liga Indonesia I mengandung sebuah keajaiban.

Masih mengandalkan skuad generasi emas, Persib menjadi satu-satunya tim eks Perserikatan yang tampil di abbak 8 besar. Meski demikian, Robby Darwis dkk akhirnya mampu berkelit dari ekpungan klub-klub eks Galatama, untuk menjadi juara di tahun pertama kompetisi.
"Generasi emas Persib berhasil memungkas kompetisi Perserikatan dan membuka era Liga Indonesia dengan gelar juara. Saya yakin ini sebuah prestasi yang akan selalu dikenang," ujar Robby.Romantisme terhadap generasi Robby kian menjadi-jadi lantaran setelah titel Liga Indonesia I, Persib tidak kunjung berhasil menambah koleksi trofi juara.

Tidak ada pemain yang punya karakter yang khas dan kuat seperti Robby. Karakternya semasa aktif membela panji tim Pangeran Biru maupun timnas sangat identik dengan ‘tukang sapu bersih’ di lini pertahanan. Sampai kemudian sepak terjangnya di lapangan melahirkan istilah yang sangat populer di kalangan bobotoh, yaitu “halik-ku aing!” ( minggir biar aku yang ambil!). Tahun 1991 Robby sempat pindah ke klub Malaysia Kelantan FC. Namun aral tak dapat diduga. Baru sekali turun bertanding dia terkena sanksi tidak boleh bermain selama 1 tahun.

Banyak pihak di Indonesia hal ini dilakukan Malaysia karena tidak ingin Robby bertanding di SEA GAMES 1991 akan tetapi Robby tetap bermain dan Indonesia menjadi juara. Selepas dari Malaysia Robby kembali mebela Persib sampai tahun 1997 dan menutup karirnya sebagai pesepakbola di Persikab Bandung.

Robby beristrikan Suci Guntari saudara mantan rekannya di Persib Yudhi Guntara dan memiliki 4 orang anak yaitu Canigia Fikri Robiana, Careca Raka (alm), Ratu Najra (Bulan), Ratu Najdah (Bintang). Robby berprofesi sebagai pegawai bank BNI’46 Bandung tetapi cuti untuk menjadi asisten pelatih Persib (memiliki lisensi B). Sebelumnya Robby sempat melatih di di Produta selama 2 musim dan Persikab. Robby juga bersama rekan-rekannya di Persib dahulu mendirikan sekolah sepak bola yang diberi nama SSB Robby Darwis di daerah kelahirannya Lembang dengan obsesi inginmelahirkan pemain-pemain berkualitas yang pada saatnya akan memperkuat Persib dan Timnas.

Selasa, 16 Februari 2010

Kepingan Emas pertama timnas

Untuk pertama kalinya, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah Putih di kejuaraan antarbangsa. Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games.

Ini merupakan trofi antarbangsa pertama yang pernah direbut timnas Indonesia. Dominasi Thailand dipatahkan. Kekuatan Malaysia dibenamkan. Sungguh prestasi yang heroik. “Pendahulu-pendahulu kami juga tak kalah hebatnya, tapi mereka tidak pernah berhasil mempersembahkan gelar juara. Wajar jika kami sangat bangga atas prestasi ini,” ujar Patar Tambunan, gelandang kanan yang ikut berandil mempersembahkan medali emas SEA Games 1987.

Tidak hanya Patar Tambunan yang patut berbangga hati. Semua pecinta bola Indonesia pastilah ikut bangga. Melihat prestasi timnas Indonesia kala itu, semua warga yang punya KTP Indonesia bisa sedikit mendongakkan kepala. Indonesia bukan lagi tim macan kertas. Indonesia adalah yang terkuat, setidaknya di Asia Tenggara. “Malah kami juga terhitung 4 besar di Asia,” ucap striker legendaris Indonesia, Ricky Yakobi.

Statement Ricky bukan sekadar bualan. Satu tahun sebelumnya, tim perebut medali emas SEA Games 1987 ini berhasil menapaki babak semifinal Asian Games 1986. Ini adalah prestasi tertinggi dalam lembaran sejarah sepak bola nusantara. Yang hingga saat ini, Indonesia belum bisa mengulanginya. BERSATU LUAR DALAM Tak dapat disangkal, timnas Indonesia 1986-87 merupakan timnas terhebat yang pernah dimiliki Indonesia—jika ukurannya trofi antarbangsa. Saat itu Indonesia punya pemain besar semacam Herry Kiswanto, Rully Nere, Robby Darwis, dan Ricky Yakobi. Talenta hebat yang kemudian berpadu dengan pelatih tak kalah hebat, mendiang Bertje Matulapelwa. “Bertje adalah pelatih hebat. Prinsip open management yang diterapkannya mampu menciptakan iklim tim yang kondusif,” kenang asisten pelatih Bertje kala itu, Sutan Harhara.

Prestasi Indonesia kala itu memang tak bisa dilepaskan dari sosok pelatih yang dijuluki “Sang Pendeta” tersebut. Dia bisa menyatukan pemain dari unsur yang berbeda, Galatama dan Perserikatan. Patut dicatat, saat itu beredar rumor bahwa pemain alumni Galatama tidak begitu akur dengan alumni Perserikatan. Embrio generasi emas itu terbentuk, pada akhir 1985. Setelah proyek timnas Garuda 1 selesai, PSSI memberikan mandat kepada Bertje guna membentuk tim baru. Mandat yang berat, pasalnya mental Indonesia sedang terpuruk setelah dibantai Thailand 0-7 di SEA Games 1985. Bertje mencoba membangkitkannya. Dengan lugas dia mengumpulkan talenta berbakat dari Galatama (seperti Ricky Yakobi dan Nasrul Koto), Perserikatan (Robby Darwis, Ribut Waidi, dll) dan sejumlah alumni Garuda 1 (semacam Patar Tambunan dan Marzuki Nyak Mad).

Proses pembentukan tim yang padu, ujar Sutan Harhara, ternyata gampang-gampang susah. Saat tim sudah lumayan padu, pada medio 1986 iklim tim hampir rusak karena masalah duit. Uang saku dari PSSI kepada pemain dinilai terlalu minim. Bayangkan saja, hadiah dari KONI untuk medali emas hanya Rp 1 juta per pemain. Sedangkan uang saku per bulannya selama pelatnas tak kalah mepet, kurang dari Rp 750.000/bulan.

Herry Kiswanto berkisah, dia bersama semua anggota tim pernah meminta kenaikan uang saku. Sayang, tuntutan tersebut tak digubris. Patah semangat? Untungnya tidak. Panggilan membela negara, ujar Herry Kiswanto, jauh lebih penting. Berkat suntikan semangat dari Bertje, para pemain Indonesia membuang jauh-jauh nafsu mengumpulkan duit. Yang tertanam hanya satu kalimat, kibarkan Sang Merah Putih di langit internasional. Tim Merah Putih di tangan Bertje, sebulan sebelum Asian Games digelar, sempat melakukan uji coba lebih dari sebulan di Brasil.

Formasi baru 4-3-3 yang memasang Ricky Yakobi sebagai striker tunggal ternyata lumayan paten. Hasilnya terbaca pada Asian Games 1986. Indonesia lolos ke semifinal. Sayang untuk kemudian kandas di tangan Korea Selatan. Seusai Asian Games, Bertje melakukan perubahan besar. Ban kapten dipindahkan dari lengan Herry Kiswanto ke Ricky Yakobi. Padahal, umur Ricky kala itu baru 23. “Bertje ingin melakukan regenerasi. Dan, aku merasa sudah saatnya dilakukan,” ujar Herry. Regenerasi itu berlangsung cemerlang. Indonesia benar-benar terbang tinggi di SEA Games 1987 Jakarta. Di hadapan pendukung setia, Indonesia tampil trengginas. Seusai membabat Burma 4-1 di semifinal, Indonesia menjinakkan Malaysia 1-0 di partai puncak. Indonesia juara. Merah Putih pun berkibar di langit Asia Tenggara.

Berikut ini skuad timnas Indonesia 1986-87 Pelatih: Bertje Matulapelwa
(Kiper): Ponirin Meka, Putu Yasa
(Belakang) : Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad.
(Tengah) : Sutrisno, Budi Wahyono, Patar Tambunan, Rully Nere, Azhary Rangkuti
(Depan) : Ricky Yakobi, Ribut Waidi, Nasrul Kotto

Prestasi: Semifinal Asian Games 1985, Juara SEA Games 1987 Raihan Timnas PSSI di level SEA Games Indonesia baru resmi ikut ajang SEA Games pada 1977. Selama kurun itu hingga saat ini, Indonesia hanya sempat 2 kali terbang tinggi. Pertama pada SEA Games 1987. Kedua pada 1991. Setelah itu prestasi Tim Merah Putih cenderung melorot. 1977 – Semifinal 1979 – Peringkat ke-2 1981 – Peringkat ke-3 1983 – Penyisihan grup 1985 – Semifinal 1987 – Juara 1989 – Peringkat ke-3 1991 – Juara 1993 – Semifinal 1995 – Penyisihan grup 1997 – Peringkat ke-2 1999 – Peringkat ke-3 2001 – Semifinal 2003 – Penyisihan grup 2005 – Semiifinal 2007 – Penyisihan gup 2009