Selasa, 09 November 2010

Siapkah kita untuk Naturalisasi

Menjelang Piala Dunia 1934, pelatih Italia, Vittorio Pozzo, mengatakan jika oriundi, sebutan pemain asal Amerika Latin di Italia, berani mati untuk Italia, maka mereka layak bermain untuk Gli Azzurri. Pernyataan untuk menepis kritikan sekaligus tantangan kepada empat bintang Serie A, yakni Raimundo Orsi, Luis Monti, Attilio Demaria, dan Enrique Guaita, yang baru menjalani naturalisasi.

Soal kualitas, publik Italia telah melihat langsung kapasitas para pemain tim nasional Argentina itu karena mereka telah bertahun-tahun tampil di Serie A. Orsi dan Monti bahkan menjadi sosok yang mengantarkan Juventus menjadi juara Serie A lima kali beruntun pada 1931 hingga 1935. Demaria bersama Inter menjadi pesaing Juventus sebagai runner-up tiga kali pada 1933 hingga 1935.

Pozzo dan para pemain bukan kaum fasis meski di era itu Italia dikuasai pemimpin fasis, Benito Mussolini. Namun, Pozzo menekan para pemain untuk habis-habisan demi negara fasis meski nyawa taruhannya. Dalam setiap laga, Pozzo pun selalu meminta timnya untuk melakukan salam fasis demi menumbuhkan nasionalisme. Hasilnya Italia menjadi juara di Piala Dunia 1934 dan Pozzo mempertahankanya pada 1938.

Menyangkut proses naturalisasi, banyak negara termasuk Italia dan Argentina menerima dual nationality sehingga kewarganegaraan Argentina yang dimiliki Orsi dkk. tidak hilang.

Naturalisasi karena faktor politik juga kerap terjadi seperti saat Ferenc Puskas pindah warga negara ke Spanyol karena Uni Soviet mengintervensi negaranya, Hongaria, pada 1956. Namun, setelah Omar Sivori, pemain Argentina yang melakukan naturalisasi ke Italia pada 1961, FIFA melarang perpindahan kewarganegaraan pemain, kecuali karena alasan imigrasi atau faktor keturunan dengan memiliki darah negara baru yang dibelanya.

Pada aturan FIFA, pemain bisa pindah warga negara jika memenuhi syarat: A. Lahir di wilayah dari asosiasi terkait. B. Ibu kandung atau ayah biologis lahir di wilayah dari Asosiasi terkait. C. Nenek atau kakeknya lahir di wilayah dari Asosiasi terkait. D. Telah tinggal terus-menerus selama minimal lima tahun setelah usia 18 tahun di wilayah asosiasi terkait.

Negara seperti Belgia juga terbuka kepada imigran dengan menerima pemain asal Kroasia, Josip Weber dan Branko Strupar. Begitu pula Austria, yang menerima pemain keturunan Kroasia, Ivica Vastic.

Setelah Juergen Klinsmann, Oliver Bierhoff, dan Ulf Kirsten pensiun, Jerman kerap memakai pemain imigran seperti Fredi Bobic (Slovenia), Paulo Rink (Brasil), Sean Dundee (Afrika Selatan), Oliver Neuville (Swiss-Prancis), Gerald Asamoah (Ghana), Kevin Kurany (Hungaria-Brasil), Miroslav Klose dan Lukas Podolski (Polandia), hingga Mesut Oezil (Turki).

Polandia menerima lamaran pemain asal Nigeria, Emanuel Olisadebe. Swedia memanfaatkan imigran Yugoslavia, Zlatan Ibrahimovic. Prancis bahkan sukses menjadi juara di Piala Dunia 1998 dan juara di Euro 2000 ketika dibela sebagian besar pemain imigran seperti Zinedine Zidane (Aljazair), Patrick Vieira (Senegal), Marcel Desailly (Ghana), Lilian Thuram dan Thierry Henry (Guadaloupe), serta Christian Karembeu (Kaledonia Baru).

UU Kewarganegaraan

Kisah-kisah naturalisasi tersebut semuanya atas kemauan sendiri karena alasan imigrasi atau telah tinggal dalam jangka waktu tertentu di negara barunya. Deco, misalnya, rela menunggu enam tahun agar memenuhi syarat untuk mendapatkan kewarganegaraan Portugal.

Sementara itu, kabar naturalisasi pemain yang tengah bergulir di negeri ini terasa berbeda. PSSI mencari pemain keturunan yang memiliki darah Indonesia di Eropa dan menawari mereka untuk pindah warga negara dan membela timnas. Jika terjadi, hal itu berbenturan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. Naturalisasi atau pewarganegaraan merupakan tata cara bagi orang asing untuk memperoleh kewarganegaraan RI.

Bagaimanapun, para pemain keturunan yang telah memiliki kewarganegaraan lain statusnya adalah orang asing karena kita tidak mengenal dual nationality. Pada pasal 9 ayat B ditegaskan bahwa jika ada orang asing yang ingin mendapatkan warga negara Indonesia, pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara RI paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut. Pada ayat F juga disebutkan jika memperoleh kewarganegaraan RI tidak menjadi berkewarganegaraan ganda.

Di luar itu, ada jalur khusus pemberian kewarganegaraan dari presiden sesuai pasal 20, yakni orang asing yang telah berjasa kepada negara RI atau dengan alasan kepentingan negara dapat diberi kewarganegaraan RI oleh presiden setelah memperoleh pertimbangan DPR RI, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda.

Saat tim nasional kalah 1-7 dari Uruguay, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di SUGBK bahkan sempat bertemu beberapa pemain asing yang oleh PSSI ditawari untuk membela timnas. Pertanyaannya, apakah mereka telah berjasa bagi negeri ini sehingga layak diperlakukan spesial? DPR pun harus memberi pertimbangan untuk para pemain yang sebetulnya tidak akan memberi jaminan munculnya prestasi.

Selain itu, maukah mereka melepaskan kewarganegaraannya karena kita tidak mengenal kewarganegaraan ganda? Kabarnya ada pemain yang tertarik menjadi warga negara kita untuk beberapa waktu saja dan setelah tidak bermain untuk timnas pindah lagi warga negara.

Ironis sekali, negara ini seperti mengemis dengan menawar-nawarkan kewarganegaraan. Padahal penduduk negeri ini telah mencapai 240 juta jiwa dan 31 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Menjadi pengkhianatan ketika memberi keistimewaan kepada orang-orang yang belum pernah tinggal di sini, belum tentu sepenuh hati apalagi rela mati untuk negeri ini, dan belum tentu memberi kebanggaan prestasi.

Singapura menerima naturalisasi pemain karena hanya berpenduduk 4,6 juta jiwa dan jauh dari cerita kemiskinan. Hal serupa terjadi di Jepang, yang malah memberikan syarat ketat kepada para pemain yang ingin mengajukan naturalisasi, nah bagaimana soal kita ya, apa Naturalisasi ini bisa mengangkat prestasi sepakbola kita atau hanya sekedar wacana

Senin, 25 Oktober 2010

Wacana Naturalisasi bagi sepakbola Indonesia

Sejarah sepakbola Indonesia adalah sejarah kekalahan demi kekalahan. Kemenangan 3-0 atas Maladewa di Stadion Siliwangi, Bandung, 12 Oktober 2010 lalu, sehabis dibantai 1-7 oleh Uruguay, notabene kemenangan pertama dalam 12 laga internasional terakhir.

Betapa tidak, sukses penghabisan yang pernah dipetik timnas senior merah putih sebelumnya adalah pada Piala AFF 2008 dengan skor 4-0 atas Kamboja.

Seperti halnya seorang Nurdin Halid yang masih juga bermuka tembok meski telah didesak turun di mana-mana, begitulah keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia yang tak kunjung bangkit, kendati (konon) berbagai jawaban telah dicari dan banyak langkah telah ditempuh.

Salah satu solusi yang kemudian menyeruak ke permukaan adalah naturalisasi pemain asing. Nama-nama seperti Tobias Waisapy, Johnny van Beukering, dan Raphael Guillermo Eduardo Maitomo pun berkibar sebagai kandidat calon pemain asing yang bakal diimpor PSSI. Selain mereka, terdapat pula Sergio van Dijk, Kim Jeffrey Kurniawan, Jeffry de Vischer, Alessandro Trabucco, Irfan Bachdim, dan beberapa nama lagi yang seyogianya akan dibujuk jadi warganegara Indonesia.

Hari ini, naturalisasi di dunia sepakbola memang bukan lagi hal baru. Lihatlah, bagaimana negara-negara Eropa yang kampiun sepakbola pun mengandalkan pemain impor dalam tim nasionalnya. Tetapi persoalannya, naturalisasi PSSI ini terlanjur dicap sebagai jalan pintas untuk mendongkrak prestasi. Langkah ini dipandang instan, tak lebih rasa frustasi dari gagalnya sistem pembinaan yang dilakukan PSSI, jika tidak langkah kalap sang ketua umum sendiri. Yang lebih gamang lagi, semua pemain asing yang diincar tersebut adalah mereka yang punya darah keturunan Indonesia di luar negeri, terutama dari Belanda. Alhasil, pro dan kontra pun bermunculan.

Apakah naturalisasi pemain asing memang dibutuhkan PSSI?

Dalam timnas Prancis untuk Piala Dunia 2010 misalnya, tercatat sekitar 13 pemain naturalisasi memperkuat Les Bleus, yang notabene merupakan ulangan empat tahun sebelumnya di Jerman. Tak dapat dipungkiri kalau berkat jasa dan prestasi para pemain keturunan imigran dan naturalisasi seperti Zinedine Zidane (Aljazair), Patrick Veira (Senegal), Lilian Thuram (Guadeloupe), atau Thiery Hendry (Guadeloupe-Martinique) itulah, Prancis berhasil merajai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 serta meraih runner up Piala Dunia 2006.

Bahkan Jerman yang termasyhur dengan ego "Deustch über alles", timnasnya semakin terbiasa dipenuhi oleh para pemain naturalisasi termasuk dari kalangan imigran yang kerap dipandang sebagai sumber beban dan masalah. Sebut saja Sami Khedira yang keturunan Tunisia, Cacao dari Brasil yang baru dinaturalisasi tahun 2009, Denis Aogo (Nigeria), Jerome Boateng (Ghana), hingga seorang Mesut Oezil (Turki) yang melejit sebagai bintang baru di Afrika Selatan. Di Asia, Jepang dan Singapura termasuk yang paling rajin melakukan naturalisasi pemain asing.

Tetapi naturalisasi yang mereka lakukan tidaklah asal-asalan dan segampang yang kita bayangkan. Apalagi negara-negara Eropa dikenal memiliki akar rasisme yang cukup panjang dalam menjaga kemurnian darah. Bukankah sebelum dekade 90-an, di sana masih sering terjadi streotipe rasial dalam pengaturan posisi pemain? Di mana posisi sentral seperti kiper, sweeper, atau striker selalu diisi oleh pemain kulit putih yang dianggap memiliki intelegensi lebih tinggi dibanding pemain berkulit hitam.

Di masa kini, naturalisasi pesepakbola di Prancis pun sebetulnya bukan tanpa masalah, kendati para pemain naturalisasi dan imigran telah banyak membuktikan prestasinya di bawah panji Les Bleus. Ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998 sebagai contoh, politikus sayap kanan Jean-Marie Le Pen sempat menyerang pelatih Aime Jacquet karena menganggap porsi yang diberikan kepada para pemain keturunan imigran di timnas terlalu luas. Bagi orang seperti Le Pen: "Orang Prancis asli-lah yang paham soal membela negara."

Martabat bangsa dan kepentingan diri

Barangkali kekhawatiran Le Pen tak sepenuhnya keliru. Selalu terbersit kecemasan jika para pemain naturalisasi tidak akan bermain sepenuh hati membela negeri barunya. Sebab, selain sepakbola telah lama menjadi bagian dari diplomasi dan kebanggaan suatu bangsa, di era globalisasi ini nasionalisme dan identitas bisa menjadi begitu lentur oleh kuasa ekonomi.

Karenanya, makna warganegara pun berbeda dengan bangsa. Pengertian bangsa tidak sekadar urusan administrasi, mematuhi undang-undang yang berlaku, membayar pajak, atau memikul hak dan kewajiban yang sama. Lantaran hal inilah, pemerintah dan rakyat Prancis tak pernah mempersoalkan kecintaan Zidane pada Aljazair dan paspor gandanya. Tak ada orang Brasil yang menuding Liedson, Pepe, Deco sebagai "Malin Kundang" karena mereka memilih membela Portugal. Tak masalah bagi orang Belanda ketika Giovanni van Bronchost, sang kapten, mengakui Indonesia sebagai negeri leluhurnya dengan bangga. Yang penting adalah bagaimana mereka menunjukkan prestasi gemilang dan mengharumkan nama tim negara yang dibela.

Sebab di era globalisasi, sebuah kewarganegaraan bisa jadi hanyalah persoalan kepentingan diri: "Apa yang akan aku dapatkan jika aku membela negaramu?" Sehingga di sini, yang berlaku adalah hukum ekonomi; perkara untung-rugi. Dengan demikian naturalisasi tak lain adalah persoalan pasar.

Sedangkan: "Sebuah negeri bukan hanya tanah dan rumah-rumah. Sebuah negeri adalah wajah-wajah, kaki yang menjangkar dalam bumi, kenangan, bau yang tercium pada masa kanak, sepetak ladang mimpi, sebuah nasib ke arah harta karun yang tersembunyi di balik gunung," begitulah seorang gadis dusun Berber dalam novel Yeux Baisses, karya Tahar ben Jelloun, sastrawan muslim Maroko yang menulis dalam bahasa Prancis—sebagaimana dikutip Goenawan Mohamad di sebuah Catatan Pinggir.

Maka, saya kira alangkah naifnya jika PSSI (atau Nurdin Halid?) begitu ngotot ingin menaturalisasi para pemain asing keturunan Indonesia di Eropa sembari berharap mereka masih memiliki sedikit rasa kecintaan pada tanah leluhurnya. Sementara dalam suatu kurun waktu cukup panjang, warga keturunan Tionghoa di negeri ini pernah di-"bumiputera"-kan secara diskriminatif, mulai dari dipaksa berganti nama hingga kebudayaannya dipasung.

Jika naturalisasi memang dipandang sebagai sebuah solusi mumpuni bagi kepentingan sepakbola nasional dan martabat bangsa Indonesia, menurut saya yang lebih patut dipertanyakan adalah soal sejauh mana kualitas para pemain incaran itu. Mengingat nama-nama yang masuk dalam daftar kandidat PSSI memang serba meragukan prestasi-kiprahnya, dan kebanyakan hanya bermain di klub-klub gurem divisi bawah. Bahkan nama mereka pun nyaris tak terdengar sebelumnya. Lantas, kenapa tanggung-tanggung mencari pemain asing? Buat apa menaturalisasi pemain asing jika kemampuan mereka tak jauh berbeda dengan pemain lokal kita?

Tentu saja, kita sudah mafhum kalau jawabannya adalah sebuah pertanyaan balik: Adakah pemain sekelas van Bronchost sudi bermain untuk timnas Indonesia yang ranking 131 FIFA, hanya lantaran orangtuanya berasal dari Maluku?

Jangan sampai rasa frustasi pada prestasi sepakbola membuat kita bermimpi di siang bolong. Eropa dengan liga-liganya yang bergengsi adalah impian semua pemain sepakbola profesional. Gelimang uang, prestise, ketat dan berbobotnya kompetisi merupakan alasan utama banjirnya bintang-bintang sepakbola yang merumput di berbagai liga utama Inggris, Spanyol, atau Italia. Termasuk di sini beralih kewarganegaraan untuk membela negara Eropa.

Hal-hal demikianlah yang membuat seorang Cacao memilih bermain untuk Jerman daripada negaranya Brasil. Atau Mauro Camoranesi memutuskan memperkuat skuad Italia ketimbang berlaga bersama timnas Argentina, negeri kelahirannya. Dalam Piala Dunia 2010, paling tidak ada sekitar 10 pemain berdarah non-Jerman yang memilih membela Der Panzer, kendati sesungguhnya mereka mampu membela tim negerinya sendiri jika mau.

Selain itu, banyaknya pemain naturalisasi di timnas Prancis misalnya memang terbilang hal yang wajar jika kita merujuk kepada sejarah negara ini. Karena sejak belum jadi republik pun, Prancis telah menjadi tujuan migrasi dari berbagai negeri, terutama Benua Hitam dan Kepulauan Karibia. "Naturalisasi sudah mengakar di negara ini. Namun, bukan berarti tak ada pemain asli Prancis yang berkualitas,"tukas Eric Abidal yang berdarah Martinique.

Begitu pula halnya dengan Jerman yang dibanjiri gelombang buruh migran (gastarbeiter) Turki pasca Perang Dunia II. Mesut Oezil adalah generasi kedua imigran Turki ini yang lahir di daerah perindustrian Gelsenkirchen.

Lain lagi dengan kisah Jong Tae-se, bintang muda Korea Utara. Jong lahir dari orang tua berdarah Korea Selatan yang tinggal di Jepang. Ia lahir di Nagoya, Jepang, 2 Maret 1984 dan tidak pernah bermain di kompetisi domestik Korut. Bergabungnya ia ke skuad Korut pun tak gampang. Jong Tae-se memutuskan membela Korut sehabis menyaksikan kekalahan negeri komunis itu dari Jepang pada kualifikasi Piala Dunia 2006. Ia lantas mendatangi kedutaan Korut di Jepang dan memohon kewarganegaraan. Tetapi pemohonannya ditolak karena Korut tak mengakui keberadaan Korsel. Barulah kemudian berkat bantuan Chongryon, sebuah organisasi pro Korut, ia akhirnya mendapatkan paspor. Syahdan, pilihan Jong Tae-se membela Korut lantaran dirinya merasa memiliki ikatan batin selepas menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang didirikan negara itu.

Ah, kembali pada rencana PSSI menaturalisasi para pemain asing keturunan Indonesia demi mendongkrak prestasi, agaknya kita masih harus menunggu pembuktian sejauh mana hasilnya pada Piala AFF, 1-29 Desember mendatang, di mana Indonesia menjadi tuan rumah bersama Vietnam. Pasca kegagalan melangkah ke Piala Asia, Piala AFF memang menjadi target minimal yang dicanangkan PSSI untuk meraih prestasi di kawasan regional. Pelatih timnas Alfred Riedl yang dikontrak hingga 2012 pun ketimpa tugas yang tak mudah ini, mengingat Indonesia tergabung di grup A yang cukup berat bersama Thailand dan Malaysia.

Entahlah. Untuk sementara kita barangkali hanya bisa berandai andai atau hanya bisa bermimpi

Senin, 20 September 2010

Syamsir Alam dan Reffa Money akan berlabuh di Penarol.

Kabar gembira datang dari dua pesepak bola muda, Syamsir Alam dan Reffa Money. Dua anggota timnas SAD Indonesia yang sedang menjalani latihan di Uruguay itu telah dikontrak oleh klub setempat, Atletico Penarol.

Saat ini Syamsir dan Reffa sedang mengikuti program pembinaan pesepak bola muda Indonesia yang telah dua tahun berlatih di Uruguay.

Kesepakatan perekrutan Syamsir dan Reffa telah ditandatangani keduanya dengan wakil Presiden klub, Edward Welker dan direktur olahraga Osvaldo Gimenez, awal pekan ini. Namun, tidak disebutkan nilai maupun durasi kontrak yang diterima Syamsir dan Reffa. Penarol memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil di Cuarta Division Uruguay mulai tahun 2011.

Cuarta Division adalah kompetisi liga remaja yang rutin digelar sebagai tingkatan pembinaan sepakbola Uruguay. Kompetisi yang sama juga diikuti SAD Indonesia sepanjang masa latihan mereka untuk tahun kedua 2010 ini. Jenjang ini mempertandingkan para pemain di bawah 20 tahun.

Perjanjian ini merupakan kesempatan bagi Penarol dan Indonesia untuk berbagi bakat sekaligus memperkaya kerja sama budaya dan olahraga. Langkah pertama dari perjanjian tersebut adalah mendatangkan Syamsir Alam dan Reffa Money mulai Januari 2011 sebagai materi tim yang berlaga di Cuarta Division," bunyi pernyataan resmi Penarol.

Penandatanganan kerjasama telah dilakukan di markas CA Penarol, Montevideo, Uruguay,. Perjanjian tersebut disepakati Sekjen klub Osvaldo Gimenez dan Ketua Indonesia SAD, Milton Kreninger.

Sebagai langkah awal, klub CA Penarol akan melakukan pemantauan tahap akhir terhadap pemain-pemain Indonesia SAD. Pemain yang nantinya terpilih, akan diberikan kesempatan untuk memperkuat klub CA Penarol disemua level kompetisi yang akan diikuti klub itu.

Hal ini memberikan bukti, kehadiran tim Indonesia SAD di Uruguay telah menarik perhatian khalayak sepak bola negara semifinalis Piala Dunia 2010 itu. "Buah kerjasama yang terjalin rapi antara pelatih, pemain, official pendukung, dan jajaran manajemen tim Indonesia SAD, baik yang berada di Indonesia ataupun Uruguay, telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan demi memajukan persepakbolaan Indonesia.

Sementara itu Syamsir dan Reffa juga belum berbicara tentang berita bagus ini. Namun, kebenaran berita itu bisa dilihat disitus resmi Penarol dan ketika Reffa memajang foto dirinya mengenahkan seragam Penarol dalam blog pribadinya.

Dalam sejarah sepak bola Uruguay, Penarol merupakan salah satu tim terbaik Uruguay dan dinobatkan sebagai Klub Terbaik Amerika Selatan di abad ke-20. Sepanjang sejarahnya, Aurinegros telah lima kali menjuarai Copa Libertadores dan tiga kali juara Piala Interkontinental. Maju terus garuda-garuda Muda !!!!!!

Nurdin versus Arifin

Kompetisi sepakbola kasta tertinggi di tanah air, Liga Super Indonesia (LSI), memiliki tandingan yakni Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah dideklarasikan pada Jumat sore (17/9) di Griya Jenggala, Jakarta.
LPI sendiri digagas oleh pengusaha terkenal, Arifin Panigoro, sejak 5 September 2010 lalu. Sedianya, LPI akan bergulir pada 26 Oktober mendatang dan sebanyak 20 klub dari Divisi Utama dan LSI memastikan bakal tampil di sini.

Wacana liga tandingan ini sebelumnya telah diketahui Direktur PT Liga Indonesia (LI), Andi Darussalam. Ia pun telah bertemu dengan Arifin untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut LPI tersebut.

"Tiga hari sebelum lebaran, saya telah bertemu dengan penggagas LPI, Arifin Panigoro. Saya sampaikan gagasan yang disampaikan sangat baik. Namun saya juga katakan kompetisi yang tidak berada di bawah PSSI tidak akan mempunyai ruang untuk bicara di tingkat AFC dan FIFA," kata Andi.

Andi pun dengan segera mengumpulkan seluruh klub LSI 2010/11 dan hanya dua klub yang tidak mengirimkan wakilnya, yakni Persipura dan Persisam. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan kepada mereka untuk tetap berjalan sesuai dengan statuta yang berlaku.

"Mereka sudah tahu konsekuensinya bila melanggar statuta karena itu saya tidak perlu menjelaskannya lagi," kata Andi.

Dengan demikian Andi kembali menegaskan bahwa LSI 2010/2011 akan tetap digelar mulai 26 September 2010. Kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia ini akan diawali dengan Community Shield pada 25 September 2010 yang akan mempertemukan Arema Indonesia vs Sriwijaya FC.

Berikut daftar tim beserta perwakilannya di LPI.

1. Persema Malang (Peni Suparto)*
2. PSMS Medan (Dzulmi Eldias)
3. Persma/Manado United (Adjie Dermana)
4. Persebaya Surabaya (Saleh Mukadar)
5. Persipura Jayapura (Anton Imbenay)*
6. PSPS Pekanbaru (Dityo Pramono) *
7. Semen Padang (Toto Sudibyo Daconi) *
8. Medan United (Sarluhut Napitupulu)
9. Persitara Jakarta Utara (Rizal Hafid, Achmad Mawardi, Effendi Anas)
10. Persija Jakarta (Hadi Basalamah) *
11. PSM Makassar (Noor Karompot) *
12. PSIS Semarang (Novel Al Bakrie)
13. Arema Malang (Muhamad Nur) *
14. Deltras Sidoarjo (Saiful illah) *
15 Mitra Kukar (Endri)

Catatan :
*) Klub LSI musim 2010/2011

Pengelola LPI mengklaim bahwa kompetisi tersebut dibentuk bukan untuk menandingi kompetisi yang dibuat oleh PSSI dan Liga Indonesia. LPI bertujuan untuk memperbaiki kompetisi yang sudah ada.

"Apa yang kami lakukan ini sudah dilakukan Inggris pada 1992, Skotlandia pada 1998, dan Italia pada tahun ini. Di negeri-negeri itu, federasi sepak bola tetap dilibatkan dalam pengelolaan kompetisi," tutur Arya.

Perbedaan antara kompetisi yang digelar PSSI saat ini dengan LPI dan di negara-negara tadi, adalah kedudukan penyelenggara kompetisi yang sejajar dengan federasi sepak bola.

Perbedaan lainnya, LPI dan kompetisi di tiga negara tadi dimiliki oleh pesertanya sehingga seluruh keuntungan yang didapat dari kompetisi itu dikembalikan ke peserta. Sedangkan kompetisi di Indonesia pada saat ini dimiliki oleh PSSI. Klub tidak mendapatkan keuntungan finansial apa pun dengan mengikuti kompetisi tersebut.

Selain itu, LPI juga dibentuk dengan tujuan agar klub-klub peserta bebas dari suntikan dana APBD. Nantinya, klub peserta akan diberi modal dengan besaran beda tergantung kebutuhan. Agar modal tidak diselewengkan, setiap klub bakal diaudit oleh auditor publik.

Mengenai kemungkinan adanya tekanan kepada klub-klub tersebut nantinya, menurut Arya, PSSI dan PT Liga Indonesia tidak bisa semena-mena dan mencoret klub-klub yang akan berpartisipasi di LPI. Katanya, PSSI bisa kena sanksi FIFA jika melakukan hal itu. "PSSI tidak bisa melarang klub berkompetisi," tutur Arya.

"Kami ingin sekali perubahan dalam sepakbola Indonesia. Sudah tidak zamannya lagi klub-klub ditakut-takuti (oleh PSSI). Kami ikut di baris terdepan dalam perubahan besar melalui liga baru independen ini. Kami yakin LPI bisa lebih baik dan menguntungkan klub-klub anggotanya," papar Noor Korompot, salah satu pengurus teras PSM Makassar.

Senin, 30 Agustus 2010

Agen Africa Binaan Liga Indonesia

Melihat kiprah para mantan pemain timnas Kamerun di Indonesia, mungkin nama Joles Onana, kalah top di bandingkan oleh Roger Milla dan Maboang Kessack. Tapi Denis Jules Onana yang lahir 12 Juni 1964 adalah pemain asal timnas Kamerun yang berkiprah paling lama di bumi Indonesia ini .

Onana adalah juga saudara Elie Onana. Awalnya Onana muda bermain untuk klub lokal Canon Yaounde, ia juga turut serta ambil bagian dalam Piala Dunia 1990, bermain 3 dari 5 pertandingan tim nasional sepak bola Kamerun pada waktu itu,. Prestasi terbesarnya salah satunya saat Singa Afrika mengalahkan Timnas Argentina 1-0. Masa emas Onana telah membawanya 56 kali memperkuat tim nasional sepak bola Kamerun.

Setelah masa emasnya hilang, ia lalu memutuskan untuk pensiun di tahun2005, langkahnya ia ambil setelah bermain di beberapa klub Camerron, Perancis. dan Pelita Jaya Krakatau Steel Indonesia. Setelah pensiun, ia memutuskan bekerja sebagai agen pemain di Asia, management Onana juga memiliki pemain-pemain top seperti pesepak bola Singapura Agu Casmir dan Pierre Njanka (Bek timnas Kamerun).

Kiprah kesuksesannya di Indonesia justru bukan saat menjadi pemain, tetapi saat dirinya menjadi Agen parta pemain Africa. Karena hanya ada tujuh agen pemain di Indonesia yang masuk daftar resmi FIFA. Salah satunya, Onana Jules Denis. Pria asal Kamerun ini bukan wajah baru di Indonesia. Sebelumnya, di juga pernah berkiprah sebagai pelatih di negeri ini.

Dia berharap agar website mengenai agen pemain-pemainya bisa dikonsumsi oleh klub-klub di Indonesia dan pasar yang lebih luas. “Makanya, saya menyajikan website ini dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa lainnya menyusul,” tegasnya.

Nanti, lewat website itu, bapak dua anak tersebut ingin mendatangkan pemain luar negeri ke Indonesia. Selain itu, dia ingin bisa mengirimkan pemain Indonesia berlaga di negara-negara yang sepak bolanya lebih maju. Ya, Onana sangat ingin meluaskan sayap. Dia mengakui, bisnis tersebut amat menjanjikan hingga waktu mendatang. “Makanya, saya betah di sini. Indonesia telah menjadi negara kedua saya,” ujar mantan pemain Pelita Krakatau Steel itu.
Selain bisnis, Onana tidak memiliki alasan lain untuk bertahan di Indonesia. Sebab, istrinya, Madeleine, orang Kamerun pula. “Soal makanan dan lain-lain, tak ada persoalan. Sebab, saya termasuk orang yang mudah beradaptasi,” tutur Onana.

Malah, dua tahun terakhir ini, dia terpikir untuk menetap di Indonesia. “Sebelumnya, saya berniat tinggal setahun di sini, eh nambah lagi satu tahun dan nambah lagi satu tahun sesuai kontrak,” ujar jelas laki-laki yang biasa bermain sebagai pemain sayap dan defender saat masih menjadi pemain itu.
Tak terasa, Onana merumput di Indonesia selama 12 tahun. Karirnya pun berganti tiga kali. Yakni, pemain, pelatih, dan agen pemain.

Dia menilai, tantangan menjadi agen pemain begitu besar. Memang, keuntungannya cukup menggiurkan. Dia menerima komisi sepuluh persen dari setiap nilai kontrak kotor pemain selama satu tahun.Dalam setahun, Onana bisa meraup pendapatan sekitar Rp4 miliar. Musim lalu saja Onana sukses mendatangkan 39 pemain. Jika satu pemain dikontrak Rp800 juta, bisa dibayangkan jumlah yang didapat Onana. Pendapatannya kian besar jika sukses mengantarkan pemain dengan gaji tertinggi. Misalnya, Abanda Herman, yang kontraknya bersama Persija Jakarta menembus Rp1,3 miliar. Maka, Onana dapat meraup keuntungan miliaran rupiah.

Pendapatan itu dinilai Onana sangat layak. Maklum, tanggung jawab sebagai agen pemain lebih sulit daripada menjadi pemain atau pelatih. “Kondisi di Indonesia belum seratus persen oke. PSSI harus memperbaiki lebih banyak lagi peraturan untuk melindungi kepentingan berbagai pihak” ujarnya.

Masalah yang ditemui Onana selama menjadi agen di antaranya adalah sistem kontrak bagi para pemain di kompetisi sepak bola Indonesia belum menguntungkan pemain. Kontrak itu juga belum bisa memberikan kepastian kelangsungan kerja bagi pemain di kompetisi yang digulirkan PSSI.

Rabu, 25 Agustus 2010

Menunggu Kebangkitan sepakbola Serambi Mekah

Berbicara soal pembinaan usia dini, mengingatkan saya pada sejumlah anak-anak muda Aceh seumur remaja SMA yang sampai saat ini masih berada di Paraguay. Sejumlah anak-anak muda Aceh itu, sejak 8 Agustus tahun 2008 dikirim oleh Pemerintah Aceh ke sana dalam rangka menuntut ilmu sepakbola. Oleh sejumlah sejumlah koran lokal, mereka disebut sebagai Timnas Aceh.

Dalam skuad timnas Aceh yang dikirim ke Paraguay berjumlah tiga Puluh putra terbaik Aceh diantaranya, Muarif dari Langsa, Faumi Syah Reza dari Kabupaten Singkil, Satria Setiawan dari Aceh Utara, Zikrillah Tarmidi dari Aceh Utara, Zikri Akbar dari Bireuen, Rahmat Maulana dari Bireuen, Syahrijal dari Bireuen, T M Iqbal dari Bireuen, Zoel Fadli dari Pidie, Nendi Fadriansyah dari pidie, Ahmad Agung Fauzan dari Banda Aceh, Taufik Aksal dari Banda Aceh, Malem Budiman dari Banda Aceh, Dede Ramadhan dari Banda Aceh, Rivaldi dari Banda Aceh, Randi Rizki dari Aceh Besar, Andri dari Aceh Besar, Brayan dari Sabang, dll. Selama di Paraguay, Timnas Aceh saat ini ditangani Escuela Empoli FC.


Mengingat mereka masih harus menempuh pendidikan tingkat SMA, maka mereka juga didampingi oleh empat guru pendamping, yaitu Samsuar,S.Pd sebagai Manager, Mirza Afuadi,S.Pd, Mahdalena,S.Pd, dan Nasruddin,S.Pd.

Tentu saja salah satu tujuan penggiriman tim sepakbola Aceh ke Paraguay adalah untuk memajukan persepakbolaan Aceh. Menurut Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf yang dikutip beberapa media local bahwa suatu saat Aceh memiliki tim sepakbola yang tangguh, sehingga akan menjadi kiblat persepakbolaan di Tanah Air. Karena itu Pemerintah Provinsi Aceh telah mengalokasikan dana sekitar Rp45 miliar untuk mendanai pembinaan tim junior ke Paraguay selama tiga tahun. Bahkan dalam berita terakhir disebutkan masa latihan mereka yang seyoganya tiga tahun, akan diperpanjang satu tahun lagi.


Mengenai keadaan mereka selama di Paraguay, sebagaimana yang dilaporkan media local di Aceh, selama ini perkembangan Timnas Aceh sudah mengalami kemajuan. Bahkan beberapa kali mampu mengalahkan klub papan atas Liga Paraguayo seperti Cerro Porteno. Meskipun pada awal-awal tahun 2010 ini pernah terbersit kabar bahwa timnas Aceh pernah terlunta-lunta berkaitan masalah tempat tinggal dan konsumsi. Sehingga sempat ramai diprotes oleh orang tua mereka di Aceh. Namun hal itu sudah kembali di atasi setelah dibentuk tim khusus untuk menanggani masalah itu.


Melihat track record kesebelasan Paraguay selama piala dunia kali ini, memang membawa harapan tertentu kepada timnas di Aceh. Seperti yang kita saksikan Timnas Paraguay mampu berbuat banyak meskipun akhirnya dihentikan dapat dihentikan Spanyol untuk memperoleh satu tiket menuju babak semifinal.


Pertanyaannya adalah apakah gaya sepakbola Aceh ke depan akan seperti yang diperlihatkan oleh timnas Paraguay selama piala dunia itu? Jawabanya sangat tergantung pada kemampuan mereka yang sedang berlatih di Paraguay dalam mengadopsi gaya sepakbola di sana. Banyak yang berharap mereka mampu melakukan itu sehingga dapat membawa perubahan dalam dunia sepakbola kita.


Satu hal yang perlu dicatat, melihat perkembangan sepakbola kita selama ini yang belum dapat berbicara banyak banyak. Mungkin ini salah satu solusi, bagaimana setiap daerah mau mengirim atlet sepakbolanya untuk belajar di negeri orang. Tak perlu mengharapkan pada PSSI. Memang hasilnya perlu ada pembuktian, tetapi Aceh sudah mencoba melakukannya. AYO BANGKIT GARUDA-GARUDA MUDA SERAMBI MEKAH


Minggu, 01 Agustus 2010

Pijar Lampu UMS

Pecinta sepakbola nasional mengenal UMS sebagai salah satu klub sepakbola tertua di Jakarta. Banyak pemain ternama yang lahir, dibesarkan dan kemudian membawa nama baik klub ini ke mancanegara. Klub yang didirikan pada tahun 1905 ini memiliki sejumlah pemain yang melegenda, yang pada masanya pernah menjadi andalan di timnas Indonesia, dan sebagian diantaranya kini menjadi saksi hidup dari pasang surut perkembangan sepakbola nasional.

Beberapa nama bisa disebut, dari generasi pertama, misalnya, Him Tjiang, Djamiat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, Van der Vin, dan tentu saja almarhum Liem Sun Yu, yang lebih dikenal dengan nama drg. Endang Witarsa.

Beberapa pemain dari generasi kedua masih memiliki nama harum dan dikenal banyak orang, seperti Fan Tak Fong alias Hadi Mulyadi atau Mulyadi, Renny Salaki, Surya Lesmana, Kwee Tik Liong dan kiper Yudo Hadiyanto.

Masa keemasan UMS memang meredup seiring pudarnya kejayaan generasi kedua, atau ketika perkembangan zaman dan politik turut mempengaruhi minat dan rasa suka warga keturunan terhadap sepakbola. Padahal, para generasi tua UMS terus berusaha dan berjuang agar ada diantara warga keturunan yang menekuni sepakbola dan berlatih keras untuk menjadi pemain nasional. Sampai sekarang. Betapa pun, UMS menjadi contoh di mana pembauran memperoleh tempatnya secara layak..

"Sekarang kami banyak membina pemain-pemain dari kelompok usia dini, dan sebagian besar memang pribumi," kata Tek Fong, salah satu legenda hidup UMS.

Tek Fong sangat bangga ketika UMS kini mampu memodernisasi diri, terutama dengan pengadaan lampu penerangan di dalam stadion.

Lampu penerangan sebesar 18.000 watt itu diresmikan pemakaiannya pada Senin (26/7) malam, oleh pembina UMS Agum Gumelar, mantan ketua umum PSSI dan ketua umum KONI Pusat. Peresmian pemakaian lampu penerangan di dalam stadion UMS ini diwarnai penandatanganan prasasti oleh Agum Gumelar. Dalam sambutan singkatnya, Agum Gumelar antara lain mengutarakannya kebanggaannya bahwa UMS bisa bertahan dan eksis hingga usianya yang ke-105.

Lampu penerangan di dalam stadion klub Union Makes Strong (UMS) ini terpacak di enam tiang di sekeliling stadion, dengan masing-masing tiang memuat tiga lampau. Menurut keterangan Johannes Singgih, ketua umum klub UMS saat ini, dalam dua pekan kedepan akan ada penambahan enam lampu lagi untuk menggenapkan total dayanya menjadi 24.000 watt. Dia menyebutkan, biaya yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 750-an juta.

"Ini patungan dari seluruh pengurus yayasan, simpatisan dan beberapa sumber lainnya," kata ketua UMS