Minggu, 07 Februari 2010

DAFTAR PEMAIN ASING LIGA INDONESIA 1996 s/d 1998

DAFTAR PEMAIN ASING LIGA INDONESIA 1997/1998


WILAYAH BARAT
Nama Asal Klub
  • Juan Manuel Rubio Chile (Arema Malang)
  • Mourmada Marco Chad ( Medan Jaya)
  • Essama A. Raymond Cameroon (Medan Jaya)
  • Oum Luc Junior Cameroon (Medan Jaya)
  • Julio Cesar Da Costa Brazil Persebaya
  • Jacksen F. Tiago Brazil (Persebaya)
  • Olinga Atangana Cameroon( Persija) *
  • Dahiru Ibrahim Nigeria Persija
  • Mambouo Mbeng Jean Cameroon Persija
  • Joseph Lewono Cameroon Persija
  • Mbambouk Justin Ledoux Cameroon Persikabo Bogor
  • Nteze John Lungu Tanzania Persikabo Bogor
  • Oumarou Mohaman Cameroon Persikabo Bogor
  • Fabio Oliveira Brazil (Persita Tangerang)
  • Antonic Dejan Yugoslavia (Persita Tangerang)*
  • Miloslav Vasae Czech Rep. Persita Tangerang
  • Claude Babe Gabon PSBL Lampung
  • Ebanda Ebanda Timothe Gabon (PSBL Lampung)
  • Stephen Weah Liberia (PSBL Lampung)*

WILAYAH TENGAH
Nama Asal Klub
  • Reynold Carrington Trinidad & Tobago Mitra Surabaya
  • Carlos de Mello Brazil (Pelita Mastrans)
  • E. Maboang Kessack Cameroon (Pelita Mastrans)*
  • Jean Sunday Cameroon Pelita Mastrans
  • Dejan Gluscevic Montenegro Pelita Mastrans
  • Musa Kallon Cameroon Persikota Tangerang
  • Emmanuel Bessong Cameroon Persikota Tangerang
  • Francis Yonga Cameroon Persikota Tangerang
  • Ali Ibrahim Yahya Cameroon PSIM Yogyakarta
  • Francisco J.R. Rubio Chile PSIM Yogyakarta
  • Simamo A. Basile Cameroon PSIS Semarang
  • Thomas Marcus Hungary PSIS Semarang
  • Janos Bezenyei Hungary PSIS Semarang
  • Mouro Sergio Brazil PSMS Medan
  • Saphou Lassy Axel Gabon (PSMS Medan)*
  • Mambenda Alain Gabon PSMS Medan
  • Antonio Claudio Brazil PSP Padang
  • Gomes de Oliveira Brazil PSP Padang
  • Claudio Luzardi Brazil PSP Padang

WILAYAH TIMUR
Nama Asal Klub
  • Julio Cesar Moreno Chile (Gelora Dewata)
  • Humberto Vega Lara Chile Persema Malang
  • Jaime Rojas Chilie (Persema Malang)
  • Nelson Leon Sanchez Chile Persema Malang
  • Fouda Ntsama Cameroon (Persma Manado)*
  • Rodrigo Araya Chile Persma Manado
  • Onana Jules Dennis Cameroon (Persma Manado)*
  • Luciano Leandro Brazil PSM Ujungpandang
  • Mauro Sergio Gripe Brazil PSM Ujungpandang
  • Joseph Nesvacil Czech Rep. PSM Ujungpandang
  • Michael Jiran Czech Rep. PSM Ujungpandang
  • Imandi Justin Cameroon (Pupuk Kaltim)*
  • Tibidi Alexis Cameroon Pupuk Kaltim
  • Essomba Atangana Cameroon Putra Samarinda
  • Ebwelle Bertin Cameroon (Putra Samarinda)*

PEMAIN ASING LIGA INDONESIA 1996/1997

WILAYAH BARAT
Nama Asal Klub
  • Juan Manuel Rubio Chile Arema Malang
  • Morteno Chile Arema Malang
  • Nelson Sanchez Chile Arema Malang
  • Stephen Weah Liberia Bandung Raya
  • Olinga Atangana Cameroon Bandung Raya
  • Halidou Malam Ibrahim Cameroon Bandung Raya
  • Mourmada Marco Brazilian Medan Jaya
  • Essama A. Raymond Cameroon Medan Jaya
  • Oum Luc Junior Cameroon Medan Jaya
  • Justino Pinheiro Da Silva Brazilian (Persebaya)
  • Carlos De Mello Brazilian (Persebaya)
  • Jacksen F. Tiago Brazilian( Persebaya)
  • Mambouou Mbeng Jean Cameroon Persija
  • Joseph Lewono Cameroon Persija
  • Efoa Ondoa Cameroon Persiraja
  • Michael Ayeni Nigerian Persiraja
  • Fabio Oliveira Brazilian Persita Tangerang
  • Antonic Dejan Yugoslavian (Persita Tangerang)*
  • Miloslav Vasae Czech Rep. Persita Tangerang
  • Claude Babe Gabonese PSBL Lampung
  • Ebanda Ebanda Timothe Gabonese PSBL Lampung
  • Samson Naukini Kengi Gabonese PSBL Lampung


WILAYAH TENGAH
Nama Asal Klub
  • Jorge Robson da Silva Brazilian (Mataram Indocement)
  • Ivan Monteanu Romanian Mataram Indocement
  • Julio Cesar da Costa Brazilian Mitra Surabaya
  • Reynold Carrington Trinidad & Tobago Mitra Surabaya
  • Tibidi Alexis Cameroon Mitra Surabaya
  • E. Maboang Kessack Cameroon (Pelita Mastrans) *
  • Djang Sunday Cameroon Pelita Mastrans
  • Dejan Gluscevic Montenegran (Pelita Mastrans)
  • Emmanuel Besong Cameroon PSB
  • Martin Esomba Cameroon PSB
  • Bako Sadissou Cameroon (PSB)
  • Arfiston de Oliveira Brazilian PSIS Semarang
  • Alfonso Abel Campos Angola (PSIS Semarang)*
  • Jose G.R. Viana Brazilian PSMS Medan
  • Antonio Claudio Brazilian PSP Padang
  • Linvord Herve Brazilian PSP Padang
  • Gaston Roberts Brazilian PSP Padang

WILAYAH TIMUR
Nama Asal Klub
  • Nadoveza Branko Yugoslavian (Assyabaab SGS)
  • Vata Matanu Garcia Angola (Gelora Dewata)*
  • Mfede Paul Lois Cameroon Gelora Dewata
  • Mbog Nyetam Jeremi Cameroon Gelora Dewata
  • Herman Kubin Bulgarian Persedikab
  • Martin Kuber Bulgarian Persedikab
  • Miloslav Brozek Bulgarian Persedikab
  • Darryl Sinnerine Trinidad & Tobago ( Persema Malang)*
  • Ketcha Serryl Cameroon Persema Malang
  • Moreno Sergio Brazilian Persema Malang
  • Timo Schunemman German ( Persiba Balikpapan)
  • Onana Jules Denis Cameroon (Persma Manado)*
  • Fiala Jean Piere Cameroon (Persma Manado)*
  • Ebongue L.Ernest Cameroon Persma Manado
  • Luciano Leandro Brazilian (PSM Ujungpandang)
  • Musa Kallon Cameroon (PSM Ujungpandang)
  • Charles Orume Lionga Cameroon PSM Ujungpandang
  • Imandi Justin Cameroon (Pupuk Kaltim)*
  • Fouda Ntsama Cameroon Pupuk Kaltim
  • Simon Atangana Cameroon Pupuk Kaltim
  • Mahouve Marcel Cameroon ( Putra Samarinda)*
  • Ebwelle Bertin Cameroon Putra Samarinda*
  • (* ) pemain yang pernah memperkuat Tim nasional negaranya

Perjalalan panjang Dejan Antonic

Dejan memulai karir bermain sepakbola di klub lokal terbesar di Serbia Red Star Belgrade.Pada tahun 1987 Dejan Antonic dipanggil untuk bergabung di skuad Tim Nasional Yugoslavia. Yugoslavia memenangkan titel paling bergengsi di dunia persepakbolaan untuk pertama kalinya pada pertandingan final melawan tim nasional Jerman Timur melalui adu penalti. Dan mereka dikenang sebagai "generasi emas" Yugoslavia (Golden Generation).

Rekan-rekan tim Dejan pada saat itu antara lain: Robert Jarni, Igor Stimac, Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, Predrag Mijatovic dan Davor Suker. Setelah itu Dejan Antonic bergabung dengan Red Star Belgrade. Dan pada tahun 1995, Dejan meninggalkan benua Eropa dan mencoba meniti karir di benua Asia dan bergabung dengan Persebaya Surabaya di Indonesia.

Pada tahun 1996 Dejan bergabung dengan salah satu klub raksasa di Indonesia yang berdomisili di Surabaya, Persebaya Surabaya bersama dua rekan pemain asing lainnya, dan mereka merupakan pemain asing pertama yang bermain untuk Persebaya Surabaya. Selain Persebaya Surabaya, Dejan juga pernah bergabung dengan klub-klub sepabola lainnya, antara lain: Persema Malang, Persita Tangerang dan Deltras Sidoarjo. Dejan sempat mengantarkan Persebaya Surabaya juara Divisi Satu dan sekaligus mengantar Persebaya Surabaya kembali masuk ke Divisi Utama Liga Indonesia. Dejan juga menikah dengan wanita berkebangsaan Indonesia bersuku asli Manado, bernama Venna Tikoalu, pada tanggal 3 Juli 1999. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang anak pada tanggal 6 Februari 2001, yang kemudian mereka namai Stefan Antonic .

Pada tahun 1998 - 1999, Dejan Antonic bergabung dengan tim Divisi Utama Hong Kong, Instant-Dict FC. Debut pertamanya adalah pertandingan semi-final melawan South China FC di FA Cup Hong Kong dan memenangkan pertandingan di babak final. Dejan selalu dipanggil untuk bergabung dengan Hong Kong Seleksi untuk bertanding di turnamen bergengsi Carlsberg Cup dan juga dipercaya untuk mejabat sebagai kapten Hong Kong Seleksi.

Dejan mencetak gol dalam adu penalti pada pertandingan Carlsberg Cup melawan tim nasional Uruguay U-21. Dejan bermain gemilang pada musim itu dan berhasil meraih penghargaan The Most Fair Player dan beberapa kali dinominasikan sebagai 11 pemain terbaik dalam Hong Kong Footballer Awards. Pada tahun 2000 - 2001, Dejan membantu Instant-Dict FC memenangkan FA Cup Hong Kong.Pada awal tahun 2000, Dejan bergabung dengan Sun Hei FC dan menyabet tiga piala sekaligus, Senior Shield Cup Hong Kong, FA Cup Hong Kong and Copa Liga Hong Kong.

Pemegang Lisensi UEFA "A" ini, ditunjuk oleh salah satu klub sepakbola terbesar di Hong Kong, Kitchee FC sebagai pelatih kepala dan berhasil menyabet dua piala sekaligus pada tahun pertamanya menjabat sebagai pelatih, Copa Liga Hong Kong 2005 dan Senior Shield Cup Hong Kong 2006 dan satu piala, Copa Liga Hong Kong di tahun 2006.Dejan membantu Kitchee FC menuju babak kualifikasi AFC CUP 2008.


Dejan dinobatkan sebagai "Pelatih Terbaik 2006" dan juga ditunjuk sebagai pelatih Hong Kong League XI dalam turnamen bergengsi di Hong Kong, Carlsberg Cup. Setelah meninggalkan Kitchee FC, klub sepakbola profesional pendatang baru di Hong Kong, TSW Pegasus FC menunjuk Dejan sebagai Manajer Tim & Direktur di Bidang Perkembangan Pemain Muda.Dejan saat ini dipercaya untuk menjabat sebagai pelatih kepala Tim Nasional Hong Kong dalam persiapan untuk Babak Kualifikasi AFC Asian Cup 2011.

Data Lengkap

Tanggal lahir : 22 Januari 1969 (umur 41)
Tempat lahir : Belgrade, Yugoslavia (sekarang berganti nama Serbia)
Posisi bermain : Gelandang

Karir bermain: Red Star FC (1984-1991) ,Napredak FC Yugoslavia (1991-1992) ,Beveren FC Belgium (1992-1994) ,Obilic FC Yugoslavia (1994-1995) ,Persebaya FC Indonesia (1995-1996),Persita FC Indonesia (1996-1997), Persema Malang (1997), Deltra Sidoarjo (1998) Instant-Dict FC Hong Kong (1998-2000) ,Hong Kong Rangers FC, Sun Hei FC Hong Kong

Karir Timnas : Timnas Yugoslavia U-21 (1987)
Karir Pelatih : Kitchee FC (2005-2007),Tim Nasional Hong Kong (pelatih kepala)
TSW Pegasus FC (2008- sampai sekarang)

Sabtu, 06 Februari 2010

Kunci Sukses Jacksen F. Tiago

MERAIH sukses di negeri orang. Itulah kata singkat untuk Jacksen F. Tiago dari Brasil. Tak percuma ia terbang jauh ke Indonesia untuk melanjutkan karirnya sebagai pesepakbola.Selama berkiprah 14 tahun berkiprah di Liga Indonesia (LI), ia mendapatkan segala-galanya sebagai pemain: juara (bersama Persebaya Surabaya), runner-up (Petrokimia Putra dan PSM Ujung pandang), gelar Top Skorer (LI III). Dan, sebagai pelatih, ia sukses mengantarkan klub Assyabaab menjuarai Kompetisi Persebaya dan membawa Persebaya kembali ke Divisi Utama Liga Bank Mandiri 2004.

Petrokimia Gresik menjadi pelabuhan pertama Jacksen di Indonesia pada musim 1994/1995. Petrokimia hanya menjadi runner-up, Jacksen F Tiago pemain asal Brasil ini harus kembali gigit jari karena gol kemenagannya di rampas wasit di partai Final. Setahun dikota pudak itu, Jacksen lalu bergabung di PSM Makasar.Tetapi,sayangnya dia hanya juga sanggup mengantar PSM sebagai runner up.

Baru di tahun 1996/97, akhirnya Jacksen F Tiago berhasil merasakan gelar juara ligina, kali ini bersama Persebaya Surabaya dengan dream teamnya, ia pun berhasil membalas kekalahannya dari Bandung Raya saat itu bernama Mastrans Bandung Raya (MBR). Jacksen pun menyabet sepatu emas dengan torehan 26 gol.

Jacksen datang di Indonesia bermula dari ketidaksengajaan,yg terjadi akibat sebuah penipuan.Sebenarnya Jacksen akan bermain di Malaysia,dan kenyataanya malah bermain di Indonesia,dan penipuan ini dilakukan oleh agen FIFA,Angel Lonita. Awalnya saya berat bermain di Indonesia.Tapi saya seorang petarung,saya tidak ingin kalah oleh keadaan,tegasnya.

Semangat itu membuahkan hasil dan Jacksen menuai kesuksesan.Sebagai pemain,sepak terjangnya tentu tidak bisa kita lupakan.Sebagai pelatih,dia pun layak dicap sebagai arsitek papan atas di LIGINA.Setelah gantung sepatu pada tahun 2002,beberapa klub sudah merasakan sentuhan tangannya.Selain Persebaya,masih ada Persita,Persiter,Peraitara dan Persipura.

Kunci sukses Jacksen adalah kemauannya untuk melebur dan memasuki budaya di sekitarnya. Tak heran, kalau ia tak sekadar fasih berbahasa Indonesia tapi juga bahasa Jawa dialek Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya.

Komunikasi dan diskusi -dengan pemain, asisten pelatih, pengamat, dan suporter- memang menjadi bagian penting dari program Jacksen untuk menambah wawasannya sebagai pelatih sepakbola di tanah air.
Keberhasilan pelatih Jacksen F. Tiago dalam membawa Persipura Jayapura memuncaki klasemen sementara Liga Super Indonesia juga , sempat mendapat apresiasi dari pers terkemuka di Brasil, Trivela.Salah satu tabloid olahraga terkenal di negara "Samba" itu memuat profil Jacksen dan mengupas habis profil Persipura serta dirinya selama di Indonesia baik sebagai pemain maupun pelatih.

Bahkan Kata Jacksen isi berita tabloid olaraga tersebut mencatumkan judul bahwa tahun 2010 adalah ulang tahun Persipura yang ke-60, dan diberi judul “Tiada Kado yang Special”, yang digambarkan obsesi tim berjuluk "Mutiara Hitam" itu menembus Liga Champion Asia bersama Jacksen F Tiago.

Data Jacksen F. Tiago
  • Lahir Rio De Janiero, Brasil, 1968-05-28
  • Karir Pemain: 1994-1995 Petrokimia Putra , 1995-1996 PSM Makassar , 1996-1998 Persebaya Surabaya , 1998-1999 Geylang Singapore , 1999-2000 Persebaya Surabaya , 2001- Petrokimia Putra
  • Top skor Liga Indonesia tahun 1996/1997 (26 GOL)
  • Karir Pelatih: 2002-2003 Klub Assyabaab (anggota kelas utama Persebaya) , 2003- Persebaya di Divisi I , 2004- Persebaya di Divisi Utama
  • Prestasi: runner-up LI I (Petrokimia Putra) , runner-up LI II (PSM) , Juara LI III (Persebaya) , Top Skorer LI III (26 gol) , membawa klub Assyabaab juara kelas utama Kompetisi Persebaya , Persebaya juara Kompetisi Divisi I PSSI
  • Pelatih terbaik Djarum Indonesia Super League Fair Play Awards 2009

Jumat, 05 Februari 2010

Awal yang baik akhir yang suram

Turnamen segitiga antara Ajax (Belanda),Manchester United (MU) dan timnas PSSI Tamtama Juni 1975. menjadi babak baru sejarah kebangkitan timnas Indonesia di era 70an.

Penampilan PSSI Tamtama lumayan, bermain imbang tanpa gol melawan MU 0-0 lewat pertandingan yang cepat dan menarik. PSSI Tamtama saat itu dalam masa peralihan dan dilatih AE Mangindaan-Endang Witarsa yang merupakan cikal bakal timnas PSSI Pra-Olimpiade 1976 yang diasuh Wiel Coerver.

Timnas Pra-Olimpiade ditulangbelakangi sejumlah bintang yang sampai kini masih dikenang para penggemar, seperti Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Junaedi Abdillah, Ronny Pasla, Sutan Harhara, Sofyan Hadi, Andi Lala, dan Anjas Asmara. Pada masa peralihan itu, di PSSI Tamtama masih ada generasi yang lebih senior, seperti Tumsila, Waskito, Surya Lesmana, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale. Pembinaan profesional ala PSSI Pratama menjadi awal kesadaran PSSI melangkah ke kompetisi profesional Lembaga Sepak Bola Utama (Galatama) yang disahkan Oktober 1978 dan digulirkan awal 1979.

Timnas dekade 1958-1986 disegani. PSSI lolos dari penyisihan grup Asia-Afrika untuk Piala Dunia 1958 setelah menyingkirkan China. Namun, Bung Karno memerintahkan timnas tak melanjutkan penyisihan babak selanjutnya karena berhadapan lawan Israel yang eksistensinya tidak diakui Pemerintah RI. Pada tiga dekade selanjutnya, timnas, yang kala itu diperkuat generasi Ramang, Soetjipto Soentoro, Iswadi, sampai Herry Kiswanto menduduki peringat papan atas berbagai turnamen di kawasan Asia Pasifik.

Mereka terbiasa jadi juara atau paling sedikit lolos ke final turnamen-turnamen bergengsi, seperti Piala Anniversary di Jakarta, Piala Kemerdekaan di Malaysia, Piala Raja di Thailand, Piala Aga Khan di Pakistan, atau Piala Presiden di Korea Selatan. PSSI A yang terdiri dari pemain-pemain senior bahkan pernah berlaga versus PSSI B (tim yunior) di final Piala Tiger di Singapura. Para pencinta belum melupakan prestasi timnas tahun 1976, tinggal selangkah lagi Iswadi Idris dan kawan-kawan lolos ke Olimpiade Toronto 1976 saat di final di GBK ditundukkan Korea Utara melalui adu penalti 4-5 (0-0, 0-0) yang amat menegangkan.

Setelah generasi tersebut muncul generasi Herry Kiswanto, Dede Sulaeman, Ricky Jakobi, Rully Neere, Elly Idris, Ristomoyo, Zulkarnain Lubis, dan sebagainya. Merekalah yang membawa tim nasional ke semifinal Asian Games 1986 di Korea Selatan. Mereka juga yang meloloskan Indonesia ke prestasi terbaik dalam sejarah PSSI, yakni ke babak penyisihan Zona Asia ke Piala Dunia 1986 meskipun akhirnya ditaklukkan Korsel.

Berkat gengsi itu Indonesia selalu kedatangan timnas/klub dari Eropa dan Amerika Latin sejak era stadion nasional di Ikada sampai GBK. Di antara nama-nama beken itu terdapat kiper Uni Soviet Lev Yashin, si ”Mutiara Hitam” Pele, libero Jerman Barat Franz Beckenbauer, otak ”total football” Johan Cruyff, Euse

bio dari Portugal, ujung tombak Argentina Mario Kempes, bintang Belanda berambut gimbal Ruud Gullit, dan lain-lain. Terakhir kali timnas yang lolos ke Piala Dunia 1986, Paraguay bahkan mau beruji coba dengan PSSI yang tahun itu lolos ke semifinal Asian Games 1986.

Dalam periode 1975-1976 saja tak terhitung klub yang datang ke Jakarta, juga Medan dan Surabaya. Sebut saja klub Argentina yang menjuarai Piala Libertadores 1974, Independiente dan juga sebuah klub lain dari negeri elite sepak bola itu, Rosario Central. Kemudian ada juga Dnepr dari Uni Soviet, Offenbach Kickers dari Jerman Barat, Benfica dari Portugal, Grashopper (Swiss), Middlesex Wonderers dan Stoke City (Inggris), Hajduk Split (Yugoslavia), Brno (Cekoslovakia), dan lain-lain. Data tahun 1975 menunjukkan, timnas dalam pertandingan di dalam dan luar negeri memenangi sembilan pertandingan, kalah sembilan kali, seri tiga kali, dengan rekor gol 40-39.

Selain menjuarai berbagai turnamen di Asia Pasifik, timnas PSSI juga disegani karena keterampilan individual sejumlah pemain yang dilirik klub-klub di kawasan ini. Abdul Kadir dikontrak klub Liga Hongkong, Seiko, dengan bayaran 5.000 dollar Hongkong per bulan. Di klub lain Liga Hongkong, McKinnons, sudah ada Surya Lesmana, Jeffrey Pranata, dan Risdianto. Iswadi hijrah ke Western Suburbs di Melbourne, Australia. Junaedi Abdillah sempat dites sebuah klub Belanda, Go AheadEagles. Belakangan ada pula, misalnya, Ricky Jakobi yang dikontrak klub Jepang, Yanmar.

Prestasi meningkat pada tahun 1970-an berkat Galatama ketika PSSI dipimpin oleh Ketua Umum Ali Sadikin. Galatama merupakan wujud dari PPSN (Pola Pembinaan Sepak Bola Nasional) yang menempatkan kompetisi profesional sebagai ”universitas” yang jadi pusat rekrutmen pemain nasional. Telah terbukti dari Galatama itulah timnas lolos ke babak akhirpenyisihan grup Zona Asia dan ke semifinal Asian Games 1986. Galatama pula yang sukses mengundang keterlibatan ”oran g-orang gila bola” mendirikan klub seperti BennyMulyono (Warna Agung), F Hutasoit (Jayakarta), Benniardi (Tunas Inti), Syarnoebi Said (Krama Yudha), dan keluarga Pardede (Pardedetex).

Teori dasar olahraga mengatakan klub pemangku kepentingan pembinaan untuk menggapaiprestasi tertinggi. Logika itu yang ditegakkan Galatama. Pada kenyataannya, pembinaan yang mengandalkan perserikatan terbukti gagal. Jumlah perserikatan lebih dari 300 entitas, tetapi lebih dari 90 persen tak menjalankan tugas pokok memutar roda kompetisi. Oleh Ali Sadikin (juga para ketua umum era-era selanjutnya sampai kepemimpinan Ketua Umum Kardono), peranan perserikatan dibatasi untuk pembinaan amatir. Pembagian fungsi pembinaan PPSN ini sudah berjalan ideal, tetapi berantakan ketika PSSI dipimpinKetua Umum Azwar Anaz yang menyatukan Galatama dengan perserikatan pada awal 1990-an.

Kekeliruan penyelenggaraan kompetisi itulah yang mengakibatkan prestasi timnas terpuruk dan kondisi memprihatinkan ini telah berjalan hampir 20 tahun. Secara perlahan-lahan BLBI berupaya mengembalikan idealisme Galatama dan perjuangan itu tampaknya masih panjang. Prestasi timnas sudah jauh di bawah era 1958-1986, stok pemain berbakat makin menipis, jumlah penggemar berkurang, dan tamu asing makin malas bertandang.

Kompetisi Galatama di masa lalu

Hingga tahun 1979,kompetisi sepak bola nasional di Indonesia diselenggarakan secara amatir, dan lebih dikenal dengan istilah Perserikatan

Pada tahun 1979/1980 diperkenalkan kompetisi Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Meski demikian, baik Perserikatan maupun Galatama tetap berjalan sendiri-sendiri. Galatama merupakan kompetisi sepak bola semi-profesional yang terdiri dari sebuah divisi tunggal (kecuali pada musim tahun 1983 dan 1990 terdiri dari 2 divisi).

Kompetisi Galatama adalah sebuah akronim yang memiliki kepanjangan Liga Sepakbola Utama. Liga ini merupakan sejarah pertama kali Indonesia mengenal sepakbola semi-profesional. Galatama bergulir antara tahun 1979 dan 1994.

Hingga musim kompetisi 1982 PSSI mengizinkan penggunaan pemain asing di pentas Galatama. Ada satu orang pemain asing asal Singapura yang sangat tenar di kompetisi Galatama yaitu Fandi Ahmad yang memperkuat Niac Mitra Surabaya. Bersama Niac Mitra Fandi Ahmad berhasil membawa klubnya menjadi jawara di Galatama. Namun setelah itu Fandi Ahmad harus keluar dari Indonesia karena adanya regulasi larangan penggunaan pemain asing di Galatama.


Galatama semula diikuti hanya delapan klu. Selanjutnya berkembang terus dan meramaikan putaran kompetisi nasonal yang selama itu pelaksanaannya kurang teratur. Namun Galatama menimbulkan masalah baru, kareena klub-klub perserikatan menganggap kehadiran Galatama sebagai hal yang tidak menyenangkan, yang terlalu dimanjakan.

Pada awal-awal kompetisi, minat masyarakat bola cukup tinggi sehingga mampu menyedot setiap pertandingan. Namun di tengah-tengah minat yang tinggi itulah, klub-klub Galatama digerogoti pengaturan skor yang dilakukan oleh para petaruh/penjudi. Akibatnya beberapa pemain yang ketahuan kena suap, diajukan ke pengadilan, demikian juga para penyuapnya. Pamor Galatama dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Terlebih sejak dikeluarkannya pelarangan pemain asing, kemudian adanya kecurigaan main mata antarbeberapa klub, diperparah isu suap. Galatama bukan hanya ditinggalkan penonton, satu per satu klub pesertanya mengundurkan diri.

Tidak hanya itu, wajah sepakbola Indonesia kemudian menjadi semakin beringas. Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit, kekurangdewasaan penonton dalam menerima kekalahan dengan mudah dapat menyulut emosi. Kerusuhan demi kerusuhan begitu cepat berubah menjadi amuk. Apalagi hal ini diperparah oleh ketidaktegasan PSSI dalam bersikap pada setiap kasus kerusuhan, sehingga tidak juga menimbulkan efek jera. Akhirnya mimpi-mimpi sepakbola Indonesia menuju pentas dunia, seperti yang dulu dikampanyekan oleh PSSI-pun semakin jauh dari kenyataan.

Menjelang musim kompetisi 1993-1994, tak banyak klub-klub Galatama yang bisa bertahan dari kesulitan finansial. Sungguh berbeda dengan tim-tim asal perserikatan yang masih bisa eksis karena ditopang dana APBD. Untuk menyelamatkan klub-klub Galatama tersebut, PSSI akhirnya melakukan sebuah revolusi dengan membuat sebuah kompetisi baru dengan menggabungkan tim perserikatan dengan Galatama yang dikenal dengan Liga Indonesia pada tahun 1994.




Juara Galatama

Musim Juara Hasil Runner-up
1979/1980 Warna Agung

Jayakarta
1980/1982 Niac Mitra

Jayakarta
1982/1983 Niac Mitra

UMS 80
1983/1984 Yanita Utama
1-0 Mercu Buana
1984 Yanita Utama

UMS 80
1985 Krama Yudha Tiga Berlian

Arseto
1986/1987 Krama Yudha Tiga Berlian

Pelita Jaya
1987/1988 Niac Mitra

Pelita Jaya
1988/1989 Pelita Jaya

Niac Mitra
1990 Pelita Jaya

Krama Yudha Tiga Berlian
1990/1992 Arseto

Pupuk Kaltim
1992/1993 Arema

Pupuk Kaltim
1993/1994 Pelita Jaya
1-0 Gelora Dewata

Berikut ini daftar klub yabg pernah berkiprah di kompetisi GALATAMA :


1. Aceh Putra (Lhokseumawe, Aceh) 1990-1994
2.Pardedetex (Medan) 1979-1984
3.Mercu Buana (Medan) 1980-1984
4.Medan Jaya (Medan) 1987-1994
5.Semen Padang (Padang) 1983-sekarang
6.Pusri Palembang (Palembang) 1987-1989
7.Jaka Utama Lampung/Yanita Utama (1983)/Tiga Berlian (1985)/Krama Yudha Tiga Berlian(1986) (1979 Lampung,1983 Bogor,1986 Palembang,1990 Bekasi) 1979-1991
8.Lampung Putra (Lampung) 1987-1989
9. Warna Agung (Jakarta) 1979-1994
10. Jayakarta (jakarta) 1979-1982
11. Indonesia Muda (Jakarta) 1979-1984
12. BBSA (Bangka Billiton Sports Association) Tama (Jakarta) 1979/1980 1 musim
13. Buana Putra (Jakarta) 1979-1982
14. Cahaya Kita (Jakarta) 1979-1982
15, Tunas Inti (Jakarta) 1979-1987
16. Angkasa (Jakarta) 1980-1984
17. UMS '80 (Jakarta) 1980-1984
18. Arseto (1979 Jakarta, 1983 Solo/Surakarta ) 1979-1994
19. Pelita Jaya (Jakarta) 1986-sekarng
20.Perkesa '78/Perkesa Mataram(1987)/Mataram Putra(1992)(1979 Bogor, 1980Sidoarjo,1987 Yogyakarta) 1979-1994
21.Sari Bumi Raya (1979 Bandung, 1980 Yogyakarta) 1979-1984
22.Tempo Utama (Bandung) 1983/84 1 musim
23.Bandung Raya (Bandung) 1987-1994
24.Bintang Timur (Cirebon) 1980-1983
25.Tidar Sakti (Magelang) 1979-1982
26.Gajah Mungkur Muria Tama (Kudus) 1990-1992 1 musim
27.B.P.D. Jateng (Semarang) 1988-1994
28.Niac Mitra/Mitra Surabaya(1990) (Surabaya) 1979-1994
29.ASGG Assyabaab Salim Grup Galatama/1992 ASGS (Surabaya) 1990-1994 Petrokimia Putra (Gresik) 1988-1994
30.Arema (Malang) 1987-sekarang
31.Bentoel Galatama (Jember) 1990/1992 1 musim
32.Caprina (Denpasar) 1983/84 1 musim
33.Bali Yudha (Denpasar) 1984 1 musim
34.Gelora Dewata (Denpasar) 1990-1994
35.Barito Putra (Banjarmasin) 1988-1994
36.Pupuk Kaltim (Bontang) 1989-sekarang
37.Putra Mahakam/1993 Putra Samarinda (Samarinda) 1990-1994
38.Makassar Utama (Makassar) 1980-1989
39.Bima Kencana (Makassar) 1983/84 1 musim
40.Palu Putra(Palu) 1987-1989

Dari sekian banyak tim ex Galatama tinggal beberapa tim yang masih tetap eksis hingga detik ini, meskipun ada beberapa tim yang merger, ganti nama ataupun pindah home base.

* Hingga saat ini yang masih eksis, antara lain:
  • Super Liga: Arema, Pelita Jaya sekarang Pelita Jabar (pindah homebase di Kab Bandung), Gelora Dewata sekarang Deltras Sidoarjo(diakuisisi Pemkab Sidoarjo)
  • Divisi Utama: Putra Samarinda menjadi Persisam Putra Samarinda (hasil merger dengan Persisam Samarinda), Petrokimia Putra sekarang Gresik United (hasil merger dengan Persegres Gresik), Mitra Surabaya sekarang Mitra Kukar diakuisisi oleh Pemda Kutai Kartanegara Tenggarong.
  • Divisi II: Barito Putra, Medan Jaya sekarang Penajam Medan Jaya (diakuisisi oleh Pemkab Penajam Paser Utara Kaltim.
  • Divisi III Regional: Bandung Raya, sempat vakum beberapa tahun tidak mengikuti kompetisi setelah bubar pada pra Ligina Ke I.ditambah lagi dengan Pro Duta di Divisi I

    Top Scorer

    Musim Nama Klub Goals
    1979/1980 Hadi Ismanto
    Indonesia Muda 22
    1980/1982 Syamsul Arifin
    Niac Mitra 30
    1982/1983 Dede Sulaiman
    Niac Mitra 17
    1983/1984 Bambang Nurdiansyah
    Mercu Buana 16
    1984 Bambang Nurdiansyah
    Yanita Utama 13
    1985 Bambang Nurdiansyah
    Krama Yudha Tiga Berlian 9
    1986/1987 Ricky Yakoby
    Arseto 9
    1987/1988 Nasrul Kotto
    Arseto 16
    1988/1989 Mecky Tata & Dadang kurnia
    Arema & Bandung Raya 18
    1990 Ricky Yakobi
    Arseto
    1990/1992 Singgih Pitono
    Arema 21
    1992/1993 Singgih Pitono
    Arema 16
    1993/1994 Ansyari Lubis
    Pelita Jaya 19

Kamis, 04 Februari 2010

Perjuangan Pemain Asing di Liga Indonesia

Mau tau cerita mengenai kisah Liga Indonesia pada masa lalu? Kita bisa lihat pada Liga Indonesia V. pada saat itu banyak seliweran pemain bola yang warna kulitnya berbeda dengan atlet Indonesia. Merekalah pemain asing yang dikontrak oleh klub-klub yang berlaga dalam pertandingan tersebut.

Dari 10 klub yang bertanding dalam pesta rakyat itu, ada 16 pemain asing yang terlibat. Yang terbanyak, 12 orang, berasal dari Kamerun, negeri jauh di Benua Afrika. Kepiawaian pemain Kamerun dalam menggelandang bola memang sudah dikenal sejak negara itu lolos ke Piala Dunia 1982. Ketangguhan pemain Afrika itu tak disia-siakan oleh klub-klub yang berlaga. "Mereka punya banyak kelebihan. Selain permainannya bagus, bayaran mereka terjangkau," kata Rusdy Bahalwan, pelatih Persebaya. pada saat itu.

Bayaran terjangkau? Bukankah klub-klub sepak bola Indonesia sedang megap-megap dan harus memangkas semua honor pemainnya? Ternyata bayaran yang terpangkas itu pun diterima para pemain Kamerun dengan senang hati. Krisis ekonomi yang melanda dunia menyebabkan industri sepak bola di negeri itu macet total. Dua tahun lalu, klub Tune atau Unispo, misalnya, masih berani menggaji pemainnya dengan bayaran sekitar US$ 500. "Sekarang pertandingan sepi. Pemain harus ke luar negeri bila ingin mendapat pekerjaan," kata Joseph Lewono, pemain asal Kamerun yang memperkuat kesebelasan Persebaya. disaat itu

Maka ladang kehidupan yang sudah didapat di Indonesia tak akan mereka lepaskan. Padahal jumlah uang yang mereka terima jauh menyusut dibandingkan dengan sebelumnya. Dalam putaran Liga Indonesia dua periode lalu, misalnya, klub masih berani membayar pemain asing US$ 1.500 hingga US$ 3.500..

Namun, menurut Lewono, kondisinya masih lebih baik daripada situasi ekonomi di Kamerun. Lewono termasuk pemain yang berkurang pendapatannya. Saat memperkuat kesebelasan Persija (1997-1998), mantan pemain Liga Kamerun (1991-1996) ini masih bisa tersenyum dengan bayaran US$ 1.500 (sekitar Rp 12 juta, dengan kurs Rp 8.000). Dari gaji yang ditabungnya, ia sempat membeli sebuah sedan untuk dipakai sebagai kendaraan keluarga di negeri asalnya. Kini pendapatan Lewono merosot hingga tinggal Rp 7 juta.

Kondisi serupa dialami Simon Atangana, 26 tahun. Ketika bergabung bersama tim Pupuk Kalimantan Timur (1995-1997), Atangana mendapat bayaran US$ 3.500. Dan di tahun kedua, bayaran itu naik menjadi US$ 4.000. Dengan bayaran yang memadai, ia bisa mengajak istri dan anaknya, Clemence dan Thin, tinggal di Bontang. Setelah kontraknya dengan tim Pupuk Kal-Tim diputus, pemain tim nasional Kamerun (1989) itu kemudian bergabung dengan klub Putra Samarinda, dengan sejumlah catatan tentunya.

Rumah tinggal yang ditempati tak sebagus rumahnya ketika Atangana dikontrak Pupuk Kal-Tim. Pendapatan yang diterima pun merosot tajam. Tahun pertama gajinya Rp 5 juta dan tahun ini kembali disesuaikan menjadi Rp 4 juta. "Saya tak punya pilihan lain. " katanya.

Begitu pula Ebanda Timothe, 27 tahun. Dua tahun bergabung di PS Bandarlampung (1997-1998), dengan gaji US$ 2.500, ia bisa makan hamburger sepuas-puasnya. Bahkan, setiap akhir tahun, Timothe mengisi jeda dengan berlibur ke Prancis. Dengan gaji pas-pasan, sementara keluarga di Kamerun tetap harus dihidupi. Ia mengakalinya dengan mengambil barang dari Taman Puring, Kebayoran Baru, dan Pasar Rumput, dua lokasi penjualan barang "bermerek" tapi dengan harga pasaran.

Baju bermerek desainer terkenal apa saja ada di sana. Soal mutu jangan ditanya. Bisa saja sekali cuci, baju sudah luntur. Yang penting, harganya sungguh terjangkau. Inilah yang dibutuhkan warga Kamerun. Maka Simon Atangana menyambi sebagai pengekspor sepatu olahraga bekas ke negaranya. Dengan modal Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu, ia menjual kembali dengan harga sampai Rp 500 ribu. Baju bermerek seperti Versace buatan Bandung juga menjadi komoditi unggulannya.

"Di Afrika, baju sangat mahal karena dipasok langsung dari Prancis. Harganya bisa Rp 1 juta," katanya. Peluang serupa disambar Ebanda Timothe. Sebagai orang asing, menurut pengakuannya, penggemar nasi goreng ini sempat "dikadali". Untuk sepasang sepatu tenis yang dibelinya di Lampung, ia harus mengeluarkan uang Rp 600 ribu. Ternyata jenis sepatu yang sama di Jakarta harganya Rp 200 ribu. Selama 10 Besar Liga Indonesia V, segala kepandaian berbisnis itu mereka simpan dulu. Mereka menikmati kemewahan hidup di hotel dengan makanan bergizi yang gratis.

Tapi, seiring dengan berakhirnya kontrak mereka dengan klub seusai pertandingan Liga Indonesia, hiruk-pikuk bisnis yang dijalankan warga Kamerun akan kembali berdenyut. Mereka akan kembali tinggal berjejalan di perkampungan orang asing di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Pasar loak atau Pasar Ular di Jakarta Utara mulai dipadati konsumen berkulit hitam.
Daftar Gaji Pemain Asing Liga Indonesia V

Persikota

  • Bell Simon Hitler (Kamerun) Rp 2 juta
  • Steven Weah (Liberia) Rp 2,5 juta
  • Simamo Armand (Kamerun) Rp 5 juta

PSIS Semarang
  • Ebanda Timothe (Kamerun) Rp 8 juta
  • Simon Atangana (Kamerun) Rp 4 juta
  • Ali Syaha Alley (Tanzania) Rp 6 juta
PSM Ujungpandang
  • Charles Yongga (Kamerun) Rp 5 juta
  • Izack Jaime (Brasil) Rp 3 juta
PSMS Medan
  • Om Luc Junior (Kamerun) Rp 3 juta
  • Bako Sadisque (Kamerun) Rp 4 juta
  • Jean Michael Baboaken (Kamerun) Rp 5 juta
Persija
  • Mbeng Jean (Kamerun) Rp 12 juta
  • Olinga Atangana (Kamerun) Rp 10 juta
  • Luciano Leandro (Brasil) Rp 14 juta
Persebaya
  • Musa Kallon (Kamerun) Rp 5 juta
  • Joseph Lewono (Kamerun) Rp 7 juta

Suharno Stopper Medan yang Terlupakan


Serangan balik yang cukup cepat oleh para pemain Pardedetex ke gawang Korea, membuat pertahanan Korea kocar-kacir. Seorang stopper Pardedetex berhasil menerobos jantung pertahanan Korea, melewati hadangan beberapa pemain belakang Korea.

Brak….! Tackling keras yang dilakukan pemain Korea di kotak pinalti menghentikan langkahnya. Tanpa ragu lagi wasit pun menunjuk titik putih karena dinilai pemain belakang Korea telah membuat pelanggaran.

Itulah Suharno, pemain belakang yang terkenal lugas, keras dan tak kenal kompromi. Serangan baliknya ke gawang Korea pada Kejuaraan Marah Halim Cup pada tahun 1980-an, menjadi jalan pembuka membobol gawang Korea yang terkenal solid. Heri Kiswanto yang jadi algojo pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Meskipun, Korea akhirnya menang 3-1.

Momen itulah yang sampai saat ini tidak pernah hilang dalam benak Suharno. Pasalnya, dari beberapa tim yang ikut kejuaran tersebut semuanya mengalami kekalahan telak di atas 6 gol atas Korea.

Namun, pengawalan ketat yang dilakukannya berhasil meminimalisir serangan Korea menjadi gol. Malah, serangan baliknya membuahkan gol bagi timnya.

“Yang paling membanggakan, saat even Marah Halim. Ketika melawan Korea, tim-tim lain seperti PSMS bisa kalah sampai 6-0. Tapi Pardedetex hanya kalah 3-1. Dan satu-satunya gol itu gara-gara saya yang ditakling oleh pemain Korea di kotak pinalti. Meskipun akhirnya tim saya kalah,” ujar Suharno saat di temui Global di rumahnya, Gg Rohis Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

Sikap yang lugas, keras dan tak kenal kompromi ini jugalah yang membuat mantan stopper Klub PSMS Medan, Pardedetex, Semen Padang dan PSSI ini dijuluki Galion serta Batang Kelapa Sawit.

”Kalau sudah main sepak bola, apalagi saya bagian bek, jadi saya selalu keras dan tak kenal kompromi. Tak jarang saya sering terkena peringatan dari wasit,” papar pria kelahiran tahun 1952 di Kerasaan, Perdagangan ini.

Suharno menceritakan, awalnya ia adalah seorang pemain bola kelas kiyam (kaki ayam). Tiap hari ia bermain bola bersama dengan kawan-kawan di daerah Perkebunan Nusantara 4. Dari sinilah ia bergabung dengan klub Dosin (Dolok Sinumbah), klub milik perkebunan.

Di usianya yang ke-20 tahun, ia lalu bergabung di PSS Simalungun sekaligus bekerja di perkebunan.

Pada saat seleksi Pra PON, Suharno lantas ditarik untuk memperkuat tim PSMS bersama dengan Suimin Diharja dan Alm Syarifudin Jaya, yang sama-sama anak daerah. Ia kemudian menjalani pusat pelatihan di PSMS, hingga kemudian di rekrut oleh tim Ayam Kinantan itu.Bersama dengan Nobon, Sunardi, Parlin, Wibisono, Posan, Suparjo, Ismail Ruslan, Taufik Lubis dan Edi Juniadi, Suharno menjadi tulang punggung kesebelasan PSMS Medan.Bahkan, mereka berhasil mengantar tim kebanggan Kota Medan Juara II di Kejuaran Marah Halim Cup setelah kalah dari Burma. Karena diminati oleh Pardedetex, Suharno hanya beberapa tahun saja bergabung dengan PSMS.

“Setelah dari PSMS Medan, pada tahun 1979 saya pindah ke Pardedetex. Dari sinilah kemudian saya diminta untuk memperkuat PSSI untuk ajang Olympiade di Malaysia 1980 dan Pra Piala Dunia 1982,“ ujar Suharno yang mengaku sudan pernah menjajal kekuatan Australia, Korea, Jepang, PSV Eindhoven, Ajax Amsterdam dan juga Lokomotiv Rusia.

Sukses memperkuat Pardedetex dan berhasil masuk di tim PSSI, Suharno kemudian bergabung dengan Semen Padang. Di klub ini, Suharno gantung sepatu sebagai pemain sepak bola.

Pada tahun 1987, setelah memutuskan gantung sepatu, Suharno dipercaya menjadi asisten pelatih Semen Padang selama dua periode.