Minggu, 31 Januari 2010

Dengarlah Wahai PSSI (3)

Skandal mafia wasit bukan hanya mencederai fair play dan sportivitas, tetapi juga menghancurkan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia. Jadi, tidak mengherankan jika prestasi tim nasional terpuruk karena pemainnya dihasilkan dari kompetisi yang penuh rekayasa dan tidak sehat.

Kian jebloknya prestasi tim nasional Merah Putih dianggap sebagai cerminan dari kualitas kompetisi sepak bola dalam negeri. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dituding tak mampu menciptakan kompetisi sepak bola yang berkualitas dan sehat.

Menurut mantan Pelatih PSMS Medan Parlin Siagian, PSSI sebagai penanggung jawab kompetisi sepak bola di Tanah Air tak pernah sadar, kualitas kompetisi semakin terpuruk beberapa tahun terakhir. Padahal dari indikator yang kecil saja, orang bisa menilai ada yang salah dengan kompetisi sepak bola di Indonesia.

”Banyak aturan yang kemudian justru dilanggar pengurus PSSI sendiri. Ini menjadi penyebab banyak pertandingan yang justru mengakibatkan perkelahian. Ada pertandingan yang tak boleh ditonton suporter. Ini kan buah pengorganisasian sepak bola yang enggak betul,” ujarnya.

Dikuasai mafia

Menurut Parlin, pengorganisasian kompetisi yang tidak sehat menjadi pangkal merosotnya prestasi tim nasional. Dia melihat, kualitas pemain sebenarnya tak kalah dengan negara Asia lainnya. Namun, sayang, kualitas mereka tak pernah terasah dalam kompetisi yang menjunjung tinggi sportivitas. ”Masalahnya selalu sama, kompetisi sepak bola kita dikuasai mafia. Jadi semua tim menghalalkan segala cara untuk menang,” katanya.

Secara terpisah, mantan pemain tim nasional era 1960-an, Bob Hippy, mengatakan, jual beli hasil laga berimbas buruk pada tim nasional. ”Jual beli hasil pertandingan memperburuk kualitas kompetisi yang imbasnya sudah pasti kepada tim nasional. Kompetisi seperti itu tidak akan menghasilkan pemain yang berkualitas,” ujar Hippy.

Hippy menjelaskan, kualitas pemain akan semakin terasah jika bermain pada kompetisi yang bermutu. Menurutnya, ada tiga kelemahan yang mencolok pada kompetisi kali ini, yakni materi pemain lokal yang tidak membaik, pemain asing yang tidak memadai, serta kualitas wasit yang juga buruk, bukan hanya dari sisi teknis, melainkan juga moral, terbukti dengan terbongkarnya kasus mafia wasit.

Parlin menambahkan, PSSI juga selalu jatuh dalam lubang yang sama saat membina tim yunior. ”Enggak tahu mungkin karena proyek sehingga pengurus PSSI ramai-ramai berebut jika ada timnas yunior dikirim ke luar negeri. Padahal tak pernah ada yang berhasil dari tim usia muda yang dikirim ke luar negeri. Itu karena di sana mereka tak pernah berkompetisi dengan benar,” ujarnya.

Pembinaan nyaris mati

Soal pembinaan pemain usia muda juga menjadi sorotan mantan pemain PSMS dan tim nasional era 1980-an, Ricky Yakob. Menurut Ricky, sejak era Liga Indonesia, saat kompetisi perserikatan dan Galatama digabung, praktis tak ada lagi pembinaan pemain usia muda. Penggabungan ini mengakibatkan banyak kompetisi internal tim perserikatan, yang sebenarnya menjadi wadah pemain muda, mati suri, kalau tidak dikatakan mati selama-lamanya.

”Coba sekarang, mana ada lagi kompetisi di (internal) perserikatan. Inilah salahnya model kompetisi sekarang ini (menggabungkan perserikatan dan Galatama). Tak ada regenerasi karena tidak ada pembinaan pemain muda,” katanya.

Mantan pemain tim nasional PSSI tahun 1977, Yopie Lumoindong, menilai buruknya prestasi tim nasional PSSI tidak lepas dari perubahan paradigma pemain bola. Sejak sepak bola Indonesia memasuki era profesionalisme, dedikasi pemain terhadap tim nasional menurun. Selain itu, buruknya prestasi juga diakibatkan kegagalan pembinaan PSSI.

Kompetisi klub anggota perserikatan, misalnya, dilaksanakan asal-asalan. PSSI juga hanya memerhatikan kompetisi Liga Super, tetapi lalai memerhatikan kompetisi anggota perserikatan. PSSI juga tidak memerhatikan kompetisi tingkat yunior.

Dengarlah Wahai PSSI (2)

Untuk membenahi tim persepakbolaan yang terpuruk, bukan hanya teknik para pemain yang menjadi perhatian. Menurut mantan pemain dan pelatih tim nasional, Sarman Panggabean, yang tidak kalah penting ialah pembenahan di PSSI dan Badan Tim Nasional.

Sarman yang bersama Bertje Matulapelwa mengantarkan timnas Indonesia ke semifinal Asian Games Seoul 1986 mengatakan, pemikiran dan konsep pembinaan pemain yang dilakukan PSSI melalui Badan Tim Nasional (BTN) selama ini salah. Sarman melihat, badan itu selama ini ditangani orang yang tidak berkompeten mengurusi teknis sepak bola sehingga menelurkan kebijakan yang asal-asalan, seperti pengiriman pemain muda berlatih ke luar negeri, yang sejauh ini tidak ada hasilnya.

”Bukannya membenahi kompetisi dan pembinaan pemain muda di dalam negeri, mereka mencoba cara instan dengan mengirimkan pemain ke luar negeri. Pemikiran-pemikiran yang salah seperti itu harus dibuang dari PSSI atau BTN hingga pembinaan di dalam negeri kembali berjalan. Saat ini di PSSI juga tidak ada lembaga yang mengurusi soal teknis,” kata Sarman.

Lebih jauh, ujar Sarman, tidak dibenahinya pembinaan berakibat pada regenerasi pemain yang mandek, menyulut krisis pemain tim nasional. Sarman mengatakan, krisis pemain tim nasional bukan semata-mata karena kehadiran pemain asing, tetapi lebih disebabkan oleh pola pembinaan yang salah tersebut.

”Kalau pembinaan benar, akan selalu muncul pemain lokal berbakat yang bisa bersaing dengan pemain asing. Jangan selalu menyalahkan pemain asing, yang salah adalah konsep dan pemikiran dalam pembinaan selama ini,” ujar Sarman.

Di Bandung, Jawa Barat, mantan asisten pelatih sekaligus mantan pemain Persib Bandung, Bambang Sukowiyono, mengatakan, PSSI harus mencari pelatih dan direktur teknik tim nasional sepak bola Indonesia yang kualitasnya telah teruji. Harapannya, mereka bisa menyusun program kerja jangka yang tepat bagi pemain timnas Indonesia.

”Terpuruknya prestasi timnas menunjukkan ada yang tidak tepat dalam program latihan dan kerja. Hal ini harus diperbaiki bila menginginkan terbentuknya tim yang solid untuk bersaing dengan negara lain,” ujarnya.

Sementara itu, mantan Bendahara PSSI Irawadi Hanafi sangat kecewa dengan ucapan mantan Ketua BTN Rahim Sukasah yang seolah-olah melepas tanggung jawab atas kegagalan BTN mengangkat prestasi tim nasional. ”Itu adalah ucapan orang yang frustrasi. Mereka selalu menyalahkan orang lain. Contohnya, menyebut cara berpikir pemain Indonesia yang kurang luas dan menyalahkan situasi. Kalau sudah tidak mampu jadi pengurus, sebaiknya mundur saja,” kata Irawadi.

Secara terpisah, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat Margiono seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Presiden meminta pers bersama KONI untuk memelopori diselenggarakannya kongres sepak bola Indonesia. Ada keinginan Presiden agar sepak bola maju dan harus menjadi olahraga kebanggaan Indonesia.

Dengarlah Wahai PSSI (1)

Mandeknya prestasi persepakbolaan Tanah Air selama ini menunjukkan ketidakmampuan manajemen PSSI. Untuk itu, revitalisasi dan reorganisasi PSSI, termasuk Badan Tim Nasional, mutlak diperlukan demi mengatasi keterpurukan dan mencegah agar tidak berulang.

Menurut Hippy, kegagalan tim nasional pada kancah kompetisi internasional merupakan bentuk ketidakmampuan pengurus yang perlu dipertanggungjawabkan kepada publik. ”Tidak bisa begitu saja melimpahkan kesalahan pada pemain. Padahal, faktanya tidak ada pembibitan,” ujarnya.

Hippy mengakui, prestasi tim nasional tidak bisa didapatkan dengan cara instan, tetapi harus melewati proses jangka panjang. Untuk itu, dibutuhkan pembinaan pemain usia muda secara fokus dan berkelanjutan.

”Pembinaan usia muda selama ini berhenti, tidak ada kontinuitasnya. Jadi tidak pernah didapat pemain yang berkualitas,” kata Hippy.

Mantan Sekretaris Jenderal PSSI Tri Gustoro menambahkan, pembinaan usia muda perlu dilakukan dengan menggulirkan kompetisi secara berkesinambungan. ”Boleh saja mengirimkan pemain ke luar negeri, tetapi jangan mengabaikan kualitas kompetisi di dalam negeri,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengimbau kepada para pengurus klub dan PSSI untuk secara jujur menilai kondisi persepakbolaan Tanah Air sekarang ini. ”Jika memang pengurus dinilai tidak baik, jangan dipilih lagi nantinya,” ungkap Tri Gustoro.

Secara terpisah, pemerhati sepak bola nasional, Isfahani, mengatakan, sepak bola Indonesia tidak akan pernah berkembang jika orang-orang yang saat ini menjadi pengurus PSSI masih bercokol. ”Selain kemampuan teknis, ada dua hal yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi pengurus, yakni moralitas (berani untuk mengaku salah) dan sportivitas (mau mengaku jika tidak mampu). Dua hal itu tidak dimiliki oleh Nurdin Halid dan pengurus PSSI lainnya,” kata Isfahani, yang juga aktif sebagai peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi.

Isfahani menambahkan, para pengurus PSSI saat ini sudah terbukti gagal membina persepakbolaan Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari prestasi tim nasional, baik yunior maupun senior, serta kompetisi yang penuh rekayasa, terbukti dengan terbongkarnya kasus suap dan mafia wasit.

”Nugraha Besoes, Andi Darussalam Tabusalla, dan Rahim Sukasah itu sudah mengurus sepak bola sejak kapan? Sudah bertahun-tahun, tetapi sepak bola kita justru semakin terpuruk. Mereka jelas tidak mampu, tetapi masih juga bertahan meski tidak ada prestasinya. Jangan cari kambing hitam terus, kalau tidak mampu, harus turun. Revitalisasi dan reorganisasi PSSI harus dilakukan jika persepakbolaan Indonesia ingin bangkit,” tutur Isfahani.

Jumat, 29 Januari 2010

Kejujuran seorang Peter Withe


Peter Withe mengangkat pengalamannya sebagai pelatih di kawasan Asia Tenggara, Withe juga menyebutkan pengalamannya menangani Indonesia. Withe menyatakan Indonesia [PSSI] telah melakukan kesalahan besar, dan kini berada dalam masalah, karena telah memecat dirinya.

Menurut Withe, Indonesia mengakui Indoneia mempunyai banyak pemain berbakat yang perlu diasah perlahan-lahan. Namun Withe melihat ada perbedaan mendasar antara pemain Thailand dan Indonesia.

“Pemain Thailand selalu diarahkan untuk bermain demi raja dan negaranya. Banyak pemain Indonesia diarahkan, ini yang menyedihkan, kepada uang. Itu memang tidak salah, tapi bermain untuk negara adalah sesuatu yang membanggakan dalam karir sepakbola Anda. Ketika saya membela Inggris saat melawan Brasil, saya merasa bangga,” ujar Withe.

“Saya tidak mengatakan semua pemain Indonesia seperti itu, tapi berdasar pengalaman saya, motivasi uang jauh lebih besar.”

“Butuh waktu untuk mengubah semua kebiasaan itu yang sepertinya sudah melewati berbagai generasi. Anda harus mengubah sikap seperti ini terhadap pemain muda, dan juga orang tua yang mempunyai impian besar. Seperti yang Anda tahu, Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi terbanyak, dan beberapa pemain datang dari keluarga miskin.”

“Indonesia tidak mempunyai peluang untuk lolos ke Piala Asia, dan bisa mengalahkan Austarlia di pertandingan terakhir.”

“Kami pernah bermain melawan Australia di Perth untuk menggalang dana tsunami di Indonesia, dan menelan kekalahan 3-0. Saya pikir, sekalipun Australia menurunkan pemain dari kompetisi negaranya, mereka tetap akan menang. Tapi mereka hanya membutuhkan
hasil imbang.”-Rezza mahaputra Lubis-

Berita Terakhir Radja Nainggolan & Irfan Bachdim

Pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan, senang dengan kepindahan ke Cagliari. Pemain asal klub Serie B Italia Piacenza ini secara resmi pindah ke klub barunya dan siap menyongsong tantangan di kompetisi tingkat teratas.

"Saya datang dengan penuh antusiasme. Tujuan saya di sini untuk berkembang pesat," tuturnya kepada Itasportpress."Saya mempelajari transfer ini dan saya segera menyepakatinya. Cagliari kelihatannya tim yang bersatu dan kompak. Sisanya saya akan ketahui langsung nanti."Radja siap bermain di posisi manapun sesuai instruksi pelatih Massimiliano Allegri."Saya bisa bermain di berbagai posisi di lini tengah. Saya lebih baik jika diposisikan di kiri, tapi saya harap bisa mendapat tempat dalam tim inti, di mana saya ditempatkan itu tak masalah," tukasnya. Di tim Cagliari Radja kini mengunakan No 28. Sebelumnya di Piacenza ia selalu mengunakan No 21 atau 10.

Radja bermain untuk Piacenza sejak 2005 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari timnas Belgia U-21 sebelum akhirnya mencicipi debut bersama timnas senior tahun lalu. Pemain 21 tahun itu didatangkan sebagai program pertukaran dengan gelandang Belarusia Mikhail Siyakov.Nainggolan diboyong dengan status transfer dengan opsi menjadi pemain tetap di Cagliari. Ia telah bergabung dengan Piacenza sejak 2005.

Nainggolan adalah gelandang tim nasional Belgia yang lahir di Antwerp. Nama Indonesianya didapat dari sang ayah dan ibu asli Belgia. Sebaliknya, Piacenza akan mendapat Sivakov, 21 tahun dengan status pinjaman selama enam bulan.Ayahnya, Marianus, adalah pria berdarah Batak yang menjadi pengusaha di Bali dan ibunya, Lizi Bogaerd berkewanegaraan Belgia. Meski berdarah Indonesia, Radja saat ini tercatat sebagai anggota timnas Belgia U-21.

Radja ditarik dari klub Belgia, Germinal Beeschot ke Piacenza, Italia pada 2005. Di klub Serie B ini, karir Radja mulai bersinar. Ia pun sempat menjadi incaran Fiorentina dan AS Roma sebelum akhirnya bergabung dengan Cagliari


Sementara itu Irfan Bachdim, mantan pemain FC Utrecht Belanda, yang saat ini tengah menjalani tes di Persija Jakarta, membuka rahasia kenapa dirinya memilih untuk berlabuh di "Macan Kemayoran".

Padahal, beberapa tim dikabarkan sangat ingin menggunakan tenaganya. Maklum saja karena dia merupakan salah satu pemain yang nota bene produk dari Liga Eropa.

Ditemui usai menyaksikan laga Persija kontra Bontang FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan,Irfan menyatakan pemain Persija cukup bersahabat.

Ia pun mengaku cukup senang sekiranya bisa membela Persija di putaran kedua Superliga 2009/10, karena menurutnya pemain yang menghuni skuad Persija saat ini cukup berkualitas.

"Itulah alasan saya kenapa memilih Persija. Memang ada beberapa tim yang
menginginkan saya. Tapi pilihan pertama saya adalah Persija," beber Irfan dengan bahasa Inggris yang pasih.

"Pemain Persija sangat friendly. Saya bisa katakan ini, karena saya sudah tinggal bersama mereka di mes sejak beberapa hari lalu. Saya sangat senang bisa bermain di Persija. Ini tim hebat," tambahnya.

Ditanya mengenai kemungkinan bermain di Persib Bandung yang juga menginginkannya, Irfan mengaku tidak tertarik karena dirinya merasa klub tersebut tidak bersahabat.

Sedangkan mengenai alasan dirinya ingin merumput di Liga Indonesia dan tidak melanjutkan karir di Liga Eropa, seperti yang selama ini ia jalani, pemain muda dengan potongan rambut yang cukup nyentrik ini mengaku karena ingin berbaju timnas Indonesia.

Meski begitu, penampilan mantan pemain FC Utrecht di Liga Belanda ini setidaknya mendapat pujian dari direktur teknik Persija Benny Dolo, yang menilainya memiliki visi bermain cukup baik.

"Secara kualitas, Irfan tidak ada masalah. Dia (Irfan) memiliki visi bermain yang cukup baik," sebut Benny Dollo saat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, kemarin.

"Bagaimana pun, dia itu kan pemain yang merupakan produk dari Liga Eropa, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan. Saya pikir, dia sangat layak bermain di Persija untuk putaran kedua nanti."

Hanya saja masih kata pria bertubuh tambun yang akrab disapa Bendol, keputusan untuk merekrut pemain itu ada di tangan manajemen tim, sehingga dirinya belum bisa memastikan kapan Irfan akan teken kontrak. -Rezza Lubis dari berbagai sumber-

Selasa, 14 Juli 2009

Regenerasi Tim Nasional Indonesia





Andika Yudistira Lubis
--Pemain depan--

Andika Yudistira termasuk Anak Ajaib dan menjadi salah satu pemain muda berbakat hebat di kancah Liga Super Indonesia. Kecepatan, teknik, dan giringan bola adalah kelebihan Andika. Ia juga dapat bermain di posisi sayap kanan, pemain asal Medan ini sudah mengemas banyak gol bagi PSMS Medan. Sayangnya, penampilan Andika, seperti tim yang dibelanya PSMS, menurun belakangan ini, kesempatan bermainnya pun banyak di ambil oleh stiker-stiker asing. Tapi saya yakini dia akan menjadi Gol gatter handal dimasa datang bagi Timnas Indonesia, asal ada kesempatan untuknya.

Emanuell Wanggai
--Gelandang -- 23 Februari 1988

Setelah menelurkan bakat-bakat baru seperti Boaz Sallosa dan Ricardo Salampessy, Persipura kembali memunculkan Emanuell Wanggai. Pemain ini dianggap sebagai bintang masa depan tim nasional kita. Wanggai bisa bermain sebagai gelandang bertahan skaligus pengatur serangan. Ia terkenal berkat dan mempunyai kecerdasan dalam mengatur tempo permainan. Serangkaian klub besar asal jawa sudah mengincar Wanggai.

Rachmad Latif
--Bek tengah--27 September 1990

Rachmad Latif mulai bersinar saat tampil di klub U-21 PSM Ujung Pandang. Rahmad adalah salah satu bek muda terbaik Indonesia saat ini, dan kemampuannya disebandingkan dengan Chariss Yulianto dan Nur' Alim. Cepat, berani, dan penggasak yang tangguh, hanya butuh waktu bagi Rahmad untuk tampil reguler di timnas senior Indonesia. Setelah penampilan kosistennya bersama PSM dan timnas junior U-21 dan U-23 Indonesia.

Ferdinand Alfred Sinaga
-Sayap kiri- 18 September 1988

Ferdinand tampil mengesankan saat melakoni kompetissi U-21 bersama Pelita Jaya. Pemain sayap kiri memiliki kelebihan pada sektor kaki kirinya, tapi ia masih harus meningkatkan kemampuan dalam bertahan. Posisi terbaik Ferdinand adalah sayap kiri luar, posisi yang memungkinkannya mengeksploitasi kecepatan dan kebolehan umpan silangnya.