Selasa, 07 Desember 2010

Rencana Filipina





Filipina menjadi tim yang fenomenal di Piala AFF 2010. Setelah berhasil merepotkan dan menahan imbang Singapura 1-1, Filipina mengejutkan Asia Tenggara dengan mengalahkan tuan rumah Vietnam 2-0. Kebangkitan negara kecil di dunia sepakbola Asia Tenggara ini, ditambah keberhasilan Laos memetik angka dari Thailand dalam 35 tahun sejarah pertemuan, agaknya bisa memberikan tema turnamen kali ini: "Tidak ada lagi tim lemah di Asia Tenggara". Redaksi memutuskan menerbitkan ulang tulisan tentang kekuatan Filipina, yang pernah dimuat 1 November lalu, untuk menjawab rasa penasaran pembaca.Simon McMenemy sungguh bersyukur Filipina sukses lolos dari kualifikasi Piala AFF 2010 sehingga bisa berlaga di putaran final.

Filipina berhasil menjadi tim terbaik pada babak kualifikasi yang digelar di Laos. Dua kali bermain imbang melawan tuan rumah dan Kamboja, Filipina berhasil berpesta gol ke gawang Timor Leste. Bagi McMenemy, kunci keberhasilan Filipina adalah persatuan tim.

"Saat mulai menangani Filipina Agustus lalu, persiapan tim sudah berjalan serius. Kami harus bekerja keras menyatukan tim karena kami memiliki paduan pemain lokal dan pemain yang datang dari berbagai belahan dunia," tukas sang pelatih.

Belahan dunia?

Filipina bukan negara sepakbola. Jika ditinjau secara geografis, ukuran negara kepulauan ini tidak jauh berbeda seperti Jerman. Luas daratan Filipina 299.764 km persegi dengan populasi 84,6 juta jiwa. Jerman memiliki luas negara 357.021 km persegi dan berpopulasi sekira 82,4 juta jiwa. Di tingkat sepakbola, Filipina jelas kalah jauh. Jumlah pemain sepakbola mereka hanya 1,7 juta orang, bandingkan dengan Jerman yang memiliki 16,3 juta sumber daya. Klub sepakbola? Filipina cuma punya 85 buah, Jerman 26.837! Pengurus sepakbola? Filipina hanya memiliki 299 orang, sedangkan Jerman 159.172 profesional.

Pertengahan Oktober lalu, Spox membahas secara menarik diaspora Filipina di lapangan sepakbola. Meski reputasi Filipina tidak menjulang di olahraga menyepak si kulit bulat, adalah seorang Paulino Alcantara yang mendarat di Spanyol awal abad 20. Kalangan sejarawan masih bersilang pendapat. Ada yang bilang Alcantara pindah untuk mencari penghidupan lebih baik dan bermain sebagai pemain sepakbola di kelas tertinggi, ada pula yang bilang keluarga Alcantara pindah akibat Revolusi Filipina 1896.

Apapun, saat berusia 15 tahun, Alcantara sudah memperkuat tim inti Barcelona dan sukses mencetak gol. Sepanjang kariernya di klub Katalan pada 1912 hingga 1927, Alcantara mencetak 357 gol dalam 357 pertandingan. Pada 1914, Alcantara pulang ke Filipina memperkuat timnas dalam debut internasional pertama mereka menghadapi Republik Cina. Tiga tahun berselang, Alcantara bahkan menginspirasi kemenangan bersejarah Filipina atas Jepang, 15-2!

Sukses itu tinggal jadi debu sejarah. Jangankan lolos ke Piala Asia, Filipina kerap jadi bulan-bulanan di kawasan Asia Tenggara. Pada Piala AFF 2000 lalu, Filipina bahkan ditelan bulat-bulat tuan rumah Indonesia, 13-1. Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif mencetak empat gol sekaligus saat itu!

Kehilangan jejak sejarah sepakbola seperti itu memancing federasi sepakbola Filipina (PFF) mengambil langkah revolusioner. Pada mulanya adalah seorang Alfons Schunk yang memperistri seorang Filipina. Melihat antusiasme sepakbola yang mulai berkembang awal 2000, Schunk mencetuskan ide perekrutan pemain-pemain berdarah Filipina untuk membela tanah air. Tertarik dengan gagasan tersebut, presiden PFF Jose Mari Martinez menjadikan Schunk penasihat. Kemudian bertugaslah sang penasihat memburu pemain Filipina di Jerman.

Sasaran pertama Schunk adalah pemain Gruether Fuerth, Stephan Schroeck, yang dilahirkan dari rahim seorang Filipino. Pemain andalan Fuerth itu tertarik berseragam Filipina. Namun, kepindahannya terkendala masalah hukum Filipina, sama seperti Indonesia, yang melarang prinsip dwikewarganegaraan. Fuerth juga enggan melepas pemainnya begitu saja membela sebuah tim di belahan dunia lain.

Kendala Schroeck tidak dialami ketika Filipina berupaya membujuk gelandang FC Ingolstadt berusia 18 tahun, Manuel Ott. Schunk memperoleh informasi awal tahun ini dan Ott sudah dimainkan ketika Filipina menjalani laga uji coba melawan Taiwan beberapa bulan lalu. Bersama Ott, juga tampil Jason de Jong, pemain profesional di divisi dua Belgia.

Daftar incaran Schunk masih panjang. Ada nama pemain Hannover 96, Denis Wolf; sayap Magdeburg dan eks pemain Schalke 04, Jeffrey Tumanan, dan kiper ketiga Duisburg Roland Mueller. Sayangnya, Schunk tidak bisa membujuk bek berbakat Bayern Muenchen, David Alaba. Anak Miss Filipina 1980-an itu sudah terlanjur berseragam timnas Austria di pentas internasional. Begitu juga halnya dengan De Guzman bersaudara, Julian dan Jonathan. Julian membela timnas Kanada, sedangkan Jonathan sudah pernah memperkuat tim yunior Belanda.Proyek naturalisasi kian kencang setelah datangnya milyarder Dan Palami. Penggemar sepakbola yang "kebetulan" seorang pengembang jalan raya itu mau menyokong penuh proyek pengembangan timnas. Berkat bantuan dana itu, PFF mendatangkan pelatih asal Inggris, Simon McMenemey.

Meski dikritik mendatangkan pelatih tak ternama-- "berkelas kampung," komentar seorang fans Filipina dalam sebuah forum -- McMenemey jalan terus. Pelatih muda berusia 32 tahun asal Inggris ini pernah lama tinggal di Asia dan sempat sekali memperkuat timnas Brunei Darussalam. Di Inggris, karier kepelatihannya hanya diwarnai dengan kiprah di tim divisi rendah, Haywards Heath dan Worthing.

Di babak kualifikasi Piala AFF 2010, terbukti program naturalisasi membantu beban kerja McMenemey. Para pemain blasteran seperti kiper Neil Etheridge, kapten Alexander Borromeo, serta Younghusband bersaudara, James dan Philip, bahu membahu bersama jagoan lokal seperti Ian Araneta dan Emelio Caligdong.

Etheridge adalah kiper 20 tahun yang berseragam Fulham. Penjaga gawang setinggi 1,91 meter ini pernah membela timnas Inggris U-16. Saat berusia 13 tahun, Etheridge membela tim taruna Chelsea dan menyeberang ke Fulham tiga tahun berselang.

Borromeo, lahir 27 tahun lalu di San Francisco, Amerika Serikat, dan sudah membela timnas Filipina sejak 2004. Pemain jangkung berjuluk "Ali" ini bermain sebagai bek tengah, tapi juga dapat diandalkan sebagai penyerang.

Younghusband bersaudara lebih mirip bintang film daripada sepakbola. Paras mereka dijamin tidak kalah bersaing dengan idola pop yang digemari remaja Indonesia, Christian Bautista. James, sang kakak, lebih tua 11 bulan daripada Philip. Kakak beradik Younghusband ini besar di kawasan Middlesex, Inggris, dan mulai dirambah program naturalisasi Filipina sejak 2006. James dan Phil pernah menghuni tim taruna dan cadangan Chelsea. James bermain sebagai gelandang, sedangkan sebagai striker, Phil sudah mempersembahkan 11 gol dalam 12 penampilan.

Selain nama-nama tersebut, masih ada pemain seperti bek Rob Gier dan Ray Anthony Jonsson yang diimpor Filipina masing-masing dari Inggris dan Islandia.

Warna internasional seperti inilah yang akan diusung Timnas Filipina, dengan segala rencana dan programnya.

4 komentar:

  1. Sejak awal sih aku hanya berpikir mengenai duo Younghusband. Waktu main FM, dua orang ini selalu aja nongol di Chelsea, walau cadangan. Saya baru tahu kalau ternyata ada banyak pemain keturunan lain. Kalau memang programnya sukses, Indonesia dalam bahaya nih. Bukan lagi Thailand, Vietnam, ma Singapore.

    BalasHapus
  2. Benar.. karena program tim naturalisasi mrk juga di dukung kalangan pengusaha dan konglomerasi di sana. Dalam segi pendanaan mereka lebih bisa serius di banding kita. Semoga saja timnas kita bisa mengatasi Filipina di semifinal AFF ini yaa

    BalasHapus
  3. Kemarin searching keturunan Filipina di FM ada kiper muda kelahiran 1993 yang main di PSG, Alphonse Areola. Gimana coba kalau ia lebih milih Filipina daripada Perancis, walau cukup kecil kemungkinan.

    BalasHapus
  4. Semoga si Alphonse, nggak pilih Filipina.. tp milih Indonesia saja Ha..ha.ha..

    BalasHapus