Selasa, 07 Desember 2010

Rencana Filipina





Filipina menjadi tim yang fenomenal di Piala AFF 2010. Setelah berhasil merepotkan dan menahan imbang Singapura 1-1, Filipina mengejutkan Asia Tenggara dengan mengalahkan tuan rumah Vietnam 2-0. Kebangkitan negara kecil di dunia sepakbola Asia Tenggara ini, ditambah keberhasilan Laos memetik angka dari Thailand dalam 35 tahun sejarah pertemuan, agaknya bisa memberikan tema turnamen kali ini: "Tidak ada lagi tim lemah di Asia Tenggara". Redaksi memutuskan menerbitkan ulang tulisan tentang kekuatan Filipina, yang pernah dimuat 1 November lalu, untuk menjawab rasa penasaran pembaca.Simon McMenemy sungguh bersyukur Filipina sukses lolos dari kualifikasi Piala AFF 2010 sehingga bisa berlaga di putaran final.

Filipina berhasil menjadi tim terbaik pada babak kualifikasi yang digelar di Laos. Dua kali bermain imbang melawan tuan rumah dan Kamboja, Filipina berhasil berpesta gol ke gawang Timor Leste. Bagi McMenemy, kunci keberhasilan Filipina adalah persatuan tim.

"Saat mulai menangani Filipina Agustus lalu, persiapan tim sudah berjalan serius. Kami harus bekerja keras menyatukan tim karena kami memiliki paduan pemain lokal dan pemain yang datang dari berbagai belahan dunia," tukas sang pelatih.

Belahan dunia?

Filipina bukan negara sepakbola. Jika ditinjau secara geografis, ukuran negara kepulauan ini tidak jauh berbeda seperti Jerman. Luas daratan Filipina 299.764 km persegi dengan populasi 84,6 juta jiwa. Jerman memiliki luas negara 357.021 km persegi dan berpopulasi sekira 82,4 juta jiwa. Di tingkat sepakbola, Filipina jelas kalah jauh. Jumlah pemain sepakbola mereka hanya 1,7 juta orang, bandingkan dengan Jerman yang memiliki 16,3 juta sumber daya. Klub sepakbola? Filipina cuma punya 85 buah, Jerman 26.837! Pengurus sepakbola? Filipina hanya memiliki 299 orang, sedangkan Jerman 159.172 profesional.

Pertengahan Oktober lalu, Spox membahas secara menarik diaspora Filipina di lapangan sepakbola. Meski reputasi Filipina tidak menjulang di olahraga menyepak si kulit bulat, adalah seorang Paulino Alcantara yang mendarat di Spanyol awal abad 20. Kalangan sejarawan masih bersilang pendapat. Ada yang bilang Alcantara pindah untuk mencari penghidupan lebih baik dan bermain sebagai pemain sepakbola di kelas tertinggi, ada pula yang bilang keluarga Alcantara pindah akibat Revolusi Filipina 1896.

Apapun, saat berusia 15 tahun, Alcantara sudah memperkuat tim inti Barcelona dan sukses mencetak gol. Sepanjang kariernya di klub Katalan pada 1912 hingga 1927, Alcantara mencetak 357 gol dalam 357 pertandingan. Pada 1914, Alcantara pulang ke Filipina memperkuat timnas dalam debut internasional pertama mereka menghadapi Republik Cina. Tiga tahun berselang, Alcantara bahkan menginspirasi kemenangan bersejarah Filipina atas Jepang, 15-2!

Sukses itu tinggal jadi debu sejarah. Jangankan lolos ke Piala Asia, Filipina kerap jadi bulan-bulanan di kawasan Asia Tenggara. Pada Piala AFF 2000 lalu, Filipina bahkan ditelan bulat-bulat tuan rumah Indonesia, 13-1. Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif mencetak empat gol sekaligus saat itu!

Kehilangan jejak sejarah sepakbola seperti itu memancing federasi sepakbola Filipina (PFF) mengambil langkah revolusioner. Pada mulanya adalah seorang Alfons Schunk yang memperistri seorang Filipina. Melihat antusiasme sepakbola yang mulai berkembang awal 2000, Schunk mencetuskan ide perekrutan pemain-pemain berdarah Filipina untuk membela tanah air. Tertarik dengan gagasan tersebut, presiden PFF Jose Mari Martinez menjadikan Schunk penasihat. Kemudian bertugaslah sang penasihat memburu pemain Filipina di Jerman.

Sasaran pertama Schunk adalah pemain Gruether Fuerth, Stephan Schroeck, yang dilahirkan dari rahim seorang Filipino. Pemain andalan Fuerth itu tertarik berseragam Filipina. Namun, kepindahannya terkendala masalah hukum Filipina, sama seperti Indonesia, yang melarang prinsip dwikewarganegaraan. Fuerth juga enggan melepas pemainnya begitu saja membela sebuah tim di belahan dunia lain.

Kendala Schroeck tidak dialami ketika Filipina berupaya membujuk gelandang FC Ingolstadt berusia 18 tahun, Manuel Ott. Schunk memperoleh informasi awal tahun ini dan Ott sudah dimainkan ketika Filipina menjalani laga uji coba melawan Taiwan beberapa bulan lalu. Bersama Ott, juga tampil Jason de Jong, pemain profesional di divisi dua Belgia.

Daftar incaran Schunk masih panjang. Ada nama pemain Hannover 96, Denis Wolf; sayap Magdeburg dan eks pemain Schalke 04, Jeffrey Tumanan, dan kiper ketiga Duisburg Roland Mueller. Sayangnya, Schunk tidak bisa membujuk bek berbakat Bayern Muenchen, David Alaba. Anak Miss Filipina 1980-an itu sudah terlanjur berseragam timnas Austria di pentas internasional. Begitu juga halnya dengan De Guzman bersaudara, Julian dan Jonathan. Julian membela timnas Kanada, sedangkan Jonathan sudah pernah memperkuat tim yunior Belanda.Proyek naturalisasi kian kencang setelah datangnya milyarder Dan Palami. Penggemar sepakbola yang "kebetulan" seorang pengembang jalan raya itu mau menyokong penuh proyek pengembangan timnas. Berkat bantuan dana itu, PFF mendatangkan pelatih asal Inggris, Simon McMenemey.

Meski dikritik mendatangkan pelatih tak ternama-- "berkelas kampung," komentar seorang fans Filipina dalam sebuah forum -- McMenemey jalan terus. Pelatih muda berusia 32 tahun asal Inggris ini pernah lama tinggal di Asia dan sempat sekali memperkuat timnas Brunei Darussalam. Di Inggris, karier kepelatihannya hanya diwarnai dengan kiprah di tim divisi rendah, Haywards Heath dan Worthing.

Di babak kualifikasi Piala AFF 2010, terbukti program naturalisasi membantu beban kerja McMenemey. Para pemain blasteran seperti kiper Neil Etheridge, kapten Alexander Borromeo, serta Younghusband bersaudara, James dan Philip, bahu membahu bersama jagoan lokal seperti Ian Araneta dan Emelio Caligdong.

Etheridge adalah kiper 20 tahun yang berseragam Fulham. Penjaga gawang setinggi 1,91 meter ini pernah membela timnas Inggris U-16. Saat berusia 13 tahun, Etheridge membela tim taruna Chelsea dan menyeberang ke Fulham tiga tahun berselang.

Borromeo, lahir 27 tahun lalu di San Francisco, Amerika Serikat, dan sudah membela timnas Filipina sejak 2004. Pemain jangkung berjuluk "Ali" ini bermain sebagai bek tengah, tapi juga dapat diandalkan sebagai penyerang.

Younghusband bersaudara lebih mirip bintang film daripada sepakbola. Paras mereka dijamin tidak kalah bersaing dengan idola pop yang digemari remaja Indonesia, Christian Bautista. James, sang kakak, lebih tua 11 bulan daripada Philip. Kakak beradik Younghusband ini besar di kawasan Middlesex, Inggris, dan mulai dirambah program naturalisasi Filipina sejak 2006. James dan Phil pernah menghuni tim taruna dan cadangan Chelsea. James bermain sebagai gelandang, sedangkan sebagai striker, Phil sudah mempersembahkan 11 gol dalam 12 penampilan.

Selain nama-nama tersebut, masih ada pemain seperti bek Rob Gier dan Ray Anthony Jonsson yang diimpor Filipina masing-masing dari Inggris dan Islandia.

Warna internasional seperti inilah yang akan diusung Timnas Filipina, dengan segala rencana dan programnya.

Selasa, 09 November 2010

Siapkah kita untuk Naturalisasi

Menjelang Piala Dunia 1934, pelatih Italia, Vittorio Pozzo, mengatakan jika oriundi, sebutan pemain asal Amerika Latin di Italia, berani mati untuk Italia, maka mereka layak bermain untuk Gli Azzurri. Pernyataan untuk menepis kritikan sekaligus tantangan kepada empat bintang Serie A, yakni Raimundo Orsi, Luis Monti, Attilio Demaria, dan Enrique Guaita, yang baru menjalani naturalisasi.

Soal kualitas, publik Italia telah melihat langsung kapasitas para pemain tim nasional Argentina itu karena mereka telah bertahun-tahun tampil di Serie A. Orsi dan Monti bahkan menjadi sosok yang mengantarkan Juventus menjadi juara Serie A lima kali beruntun pada 1931 hingga 1935. Demaria bersama Inter menjadi pesaing Juventus sebagai runner-up tiga kali pada 1933 hingga 1935.

Pozzo dan para pemain bukan kaum fasis meski di era itu Italia dikuasai pemimpin fasis, Benito Mussolini. Namun, Pozzo menekan para pemain untuk habis-habisan demi negara fasis meski nyawa taruhannya. Dalam setiap laga, Pozzo pun selalu meminta timnya untuk melakukan salam fasis demi menumbuhkan nasionalisme. Hasilnya Italia menjadi juara di Piala Dunia 1934 dan Pozzo mempertahankanya pada 1938.

Menyangkut proses naturalisasi, banyak negara termasuk Italia dan Argentina menerima dual nationality sehingga kewarganegaraan Argentina yang dimiliki Orsi dkk. tidak hilang.

Naturalisasi karena faktor politik juga kerap terjadi seperti saat Ferenc Puskas pindah warga negara ke Spanyol karena Uni Soviet mengintervensi negaranya, Hongaria, pada 1956. Namun, setelah Omar Sivori, pemain Argentina yang melakukan naturalisasi ke Italia pada 1961, FIFA melarang perpindahan kewarganegaraan pemain, kecuali karena alasan imigrasi atau faktor keturunan dengan memiliki darah negara baru yang dibelanya.

Pada aturan FIFA, pemain bisa pindah warga negara jika memenuhi syarat: A. Lahir di wilayah dari asosiasi terkait. B. Ibu kandung atau ayah biologis lahir di wilayah dari Asosiasi terkait. C. Nenek atau kakeknya lahir di wilayah dari Asosiasi terkait. D. Telah tinggal terus-menerus selama minimal lima tahun setelah usia 18 tahun di wilayah asosiasi terkait.

Negara seperti Belgia juga terbuka kepada imigran dengan menerima pemain asal Kroasia, Josip Weber dan Branko Strupar. Begitu pula Austria, yang menerima pemain keturunan Kroasia, Ivica Vastic.

Setelah Juergen Klinsmann, Oliver Bierhoff, dan Ulf Kirsten pensiun, Jerman kerap memakai pemain imigran seperti Fredi Bobic (Slovenia), Paulo Rink (Brasil), Sean Dundee (Afrika Selatan), Oliver Neuville (Swiss-Prancis), Gerald Asamoah (Ghana), Kevin Kurany (Hungaria-Brasil), Miroslav Klose dan Lukas Podolski (Polandia), hingga Mesut Oezil (Turki).

Polandia menerima lamaran pemain asal Nigeria, Emanuel Olisadebe. Swedia memanfaatkan imigran Yugoslavia, Zlatan Ibrahimovic. Prancis bahkan sukses menjadi juara di Piala Dunia 1998 dan juara di Euro 2000 ketika dibela sebagian besar pemain imigran seperti Zinedine Zidane (Aljazair), Patrick Vieira (Senegal), Marcel Desailly (Ghana), Lilian Thuram dan Thierry Henry (Guadaloupe), serta Christian Karembeu (Kaledonia Baru).

UU Kewarganegaraan

Kisah-kisah naturalisasi tersebut semuanya atas kemauan sendiri karena alasan imigrasi atau telah tinggal dalam jangka waktu tertentu di negara barunya. Deco, misalnya, rela menunggu enam tahun agar memenuhi syarat untuk mendapatkan kewarganegaraan Portugal.

Sementara itu, kabar naturalisasi pemain yang tengah bergulir di negeri ini terasa berbeda. PSSI mencari pemain keturunan yang memiliki darah Indonesia di Eropa dan menawari mereka untuk pindah warga negara dan membela timnas. Jika terjadi, hal itu berbenturan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. Naturalisasi atau pewarganegaraan merupakan tata cara bagi orang asing untuk memperoleh kewarganegaraan RI.

Bagaimanapun, para pemain keturunan yang telah memiliki kewarganegaraan lain statusnya adalah orang asing karena kita tidak mengenal dual nationality. Pada pasal 9 ayat B ditegaskan bahwa jika ada orang asing yang ingin mendapatkan warga negara Indonesia, pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara RI paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut. Pada ayat F juga disebutkan jika memperoleh kewarganegaraan RI tidak menjadi berkewarganegaraan ganda.

Di luar itu, ada jalur khusus pemberian kewarganegaraan dari presiden sesuai pasal 20, yakni orang asing yang telah berjasa kepada negara RI atau dengan alasan kepentingan negara dapat diberi kewarganegaraan RI oleh presiden setelah memperoleh pertimbangan DPR RI, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda.

Saat tim nasional kalah 1-7 dari Uruguay, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di SUGBK bahkan sempat bertemu beberapa pemain asing yang oleh PSSI ditawari untuk membela timnas. Pertanyaannya, apakah mereka telah berjasa bagi negeri ini sehingga layak diperlakukan spesial? DPR pun harus memberi pertimbangan untuk para pemain yang sebetulnya tidak akan memberi jaminan munculnya prestasi.

Selain itu, maukah mereka melepaskan kewarganegaraannya karena kita tidak mengenal kewarganegaraan ganda? Kabarnya ada pemain yang tertarik menjadi warga negara kita untuk beberapa waktu saja dan setelah tidak bermain untuk timnas pindah lagi warga negara.

Ironis sekali, negara ini seperti mengemis dengan menawar-nawarkan kewarganegaraan. Padahal penduduk negeri ini telah mencapai 240 juta jiwa dan 31 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Menjadi pengkhianatan ketika memberi keistimewaan kepada orang-orang yang belum pernah tinggal di sini, belum tentu sepenuh hati apalagi rela mati untuk negeri ini, dan belum tentu memberi kebanggaan prestasi.

Singapura menerima naturalisasi pemain karena hanya berpenduduk 4,6 juta jiwa dan jauh dari cerita kemiskinan. Hal serupa terjadi di Jepang, yang malah memberikan syarat ketat kepada para pemain yang ingin mengajukan naturalisasi, nah bagaimana soal kita ya, apa Naturalisasi ini bisa mengangkat prestasi sepakbola kita atau hanya sekedar wacana

Senin, 25 Oktober 2010

Wacana Naturalisasi bagi sepakbola Indonesia

Sejarah sepakbola Indonesia adalah sejarah kekalahan demi kekalahan. Kemenangan 3-0 atas Maladewa di Stadion Siliwangi, Bandung, 12 Oktober 2010 lalu, sehabis dibantai 1-7 oleh Uruguay, notabene kemenangan pertama dalam 12 laga internasional terakhir.

Betapa tidak, sukses penghabisan yang pernah dipetik timnas senior merah putih sebelumnya adalah pada Piala AFF 2008 dengan skor 4-0 atas Kamboja.

Seperti halnya seorang Nurdin Halid yang masih juga bermuka tembok meski telah didesak turun di mana-mana, begitulah keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia yang tak kunjung bangkit, kendati (konon) berbagai jawaban telah dicari dan banyak langkah telah ditempuh.

Salah satu solusi yang kemudian menyeruak ke permukaan adalah naturalisasi pemain asing. Nama-nama seperti Tobias Waisapy, Johnny van Beukering, dan Raphael Guillermo Eduardo Maitomo pun berkibar sebagai kandidat calon pemain asing yang bakal diimpor PSSI. Selain mereka, terdapat pula Sergio van Dijk, Kim Jeffrey Kurniawan, Jeffry de Vischer, Alessandro Trabucco, Irfan Bachdim, dan beberapa nama lagi yang seyogianya akan dibujuk jadi warganegara Indonesia.

Hari ini, naturalisasi di dunia sepakbola memang bukan lagi hal baru. Lihatlah, bagaimana negara-negara Eropa yang kampiun sepakbola pun mengandalkan pemain impor dalam tim nasionalnya. Tetapi persoalannya, naturalisasi PSSI ini terlanjur dicap sebagai jalan pintas untuk mendongkrak prestasi. Langkah ini dipandang instan, tak lebih rasa frustasi dari gagalnya sistem pembinaan yang dilakukan PSSI, jika tidak langkah kalap sang ketua umum sendiri. Yang lebih gamang lagi, semua pemain asing yang diincar tersebut adalah mereka yang punya darah keturunan Indonesia di luar negeri, terutama dari Belanda. Alhasil, pro dan kontra pun bermunculan.

Apakah naturalisasi pemain asing memang dibutuhkan PSSI?

Dalam timnas Prancis untuk Piala Dunia 2010 misalnya, tercatat sekitar 13 pemain naturalisasi memperkuat Les Bleus, yang notabene merupakan ulangan empat tahun sebelumnya di Jerman. Tak dapat dipungkiri kalau berkat jasa dan prestasi para pemain keturunan imigran dan naturalisasi seperti Zinedine Zidane (Aljazair), Patrick Veira (Senegal), Lilian Thuram (Guadeloupe), atau Thiery Hendry (Guadeloupe-Martinique) itulah, Prancis berhasil merajai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 serta meraih runner up Piala Dunia 2006.

Bahkan Jerman yang termasyhur dengan ego "Deustch über alles", timnasnya semakin terbiasa dipenuhi oleh para pemain naturalisasi termasuk dari kalangan imigran yang kerap dipandang sebagai sumber beban dan masalah. Sebut saja Sami Khedira yang keturunan Tunisia, Cacao dari Brasil yang baru dinaturalisasi tahun 2009, Denis Aogo (Nigeria), Jerome Boateng (Ghana), hingga seorang Mesut Oezil (Turki) yang melejit sebagai bintang baru di Afrika Selatan. Di Asia, Jepang dan Singapura termasuk yang paling rajin melakukan naturalisasi pemain asing.

Tetapi naturalisasi yang mereka lakukan tidaklah asal-asalan dan segampang yang kita bayangkan. Apalagi negara-negara Eropa dikenal memiliki akar rasisme yang cukup panjang dalam menjaga kemurnian darah. Bukankah sebelum dekade 90-an, di sana masih sering terjadi streotipe rasial dalam pengaturan posisi pemain? Di mana posisi sentral seperti kiper, sweeper, atau striker selalu diisi oleh pemain kulit putih yang dianggap memiliki intelegensi lebih tinggi dibanding pemain berkulit hitam.

Di masa kini, naturalisasi pesepakbola di Prancis pun sebetulnya bukan tanpa masalah, kendati para pemain naturalisasi dan imigran telah banyak membuktikan prestasinya di bawah panji Les Bleus. Ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998 sebagai contoh, politikus sayap kanan Jean-Marie Le Pen sempat menyerang pelatih Aime Jacquet karena menganggap porsi yang diberikan kepada para pemain keturunan imigran di timnas terlalu luas. Bagi orang seperti Le Pen: "Orang Prancis asli-lah yang paham soal membela negara."

Martabat bangsa dan kepentingan diri

Barangkali kekhawatiran Le Pen tak sepenuhnya keliru. Selalu terbersit kecemasan jika para pemain naturalisasi tidak akan bermain sepenuh hati membela negeri barunya. Sebab, selain sepakbola telah lama menjadi bagian dari diplomasi dan kebanggaan suatu bangsa, di era globalisasi ini nasionalisme dan identitas bisa menjadi begitu lentur oleh kuasa ekonomi.

Karenanya, makna warganegara pun berbeda dengan bangsa. Pengertian bangsa tidak sekadar urusan administrasi, mematuhi undang-undang yang berlaku, membayar pajak, atau memikul hak dan kewajiban yang sama. Lantaran hal inilah, pemerintah dan rakyat Prancis tak pernah mempersoalkan kecintaan Zidane pada Aljazair dan paspor gandanya. Tak ada orang Brasil yang menuding Liedson, Pepe, Deco sebagai "Malin Kundang" karena mereka memilih membela Portugal. Tak masalah bagi orang Belanda ketika Giovanni van Bronchost, sang kapten, mengakui Indonesia sebagai negeri leluhurnya dengan bangga. Yang penting adalah bagaimana mereka menunjukkan prestasi gemilang dan mengharumkan nama tim negara yang dibela.

Sebab di era globalisasi, sebuah kewarganegaraan bisa jadi hanyalah persoalan kepentingan diri: "Apa yang akan aku dapatkan jika aku membela negaramu?" Sehingga di sini, yang berlaku adalah hukum ekonomi; perkara untung-rugi. Dengan demikian naturalisasi tak lain adalah persoalan pasar.

Sedangkan: "Sebuah negeri bukan hanya tanah dan rumah-rumah. Sebuah negeri adalah wajah-wajah, kaki yang menjangkar dalam bumi, kenangan, bau yang tercium pada masa kanak, sepetak ladang mimpi, sebuah nasib ke arah harta karun yang tersembunyi di balik gunung," begitulah seorang gadis dusun Berber dalam novel Yeux Baisses, karya Tahar ben Jelloun, sastrawan muslim Maroko yang menulis dalam bahasa Prancis—sebagaimana dikutip Goenawan Mohamad di sebuah Catatan Pinggir.

Maka, saya kira alangkah naifnya jika PSSI (atau Nurdin Halid?) begitu ngotot ingin menaturalisasi para pemain asing keturunan Indonesia di Eropa sembari berharap mereka masih memiliki sedikit rasa kecintaan pada tanah leluhurnya. Sementara dalam suatu kurun waktu cukup panjang, warga keturunan Tionghoa di negeri ini pernah di-"bumiputera"-kan secara diskriminatif, mulai dari dipaksa berganti nama hingga kebudayaannya dipasung.

Jika naturalisasi memang dipandang sebagai sebuah solusi mumpuni bagi kepentingan sepakbola nasional dan martabat bangsa Indonesia, menurut saya yang lebih patut dipertanyakan adalah soal sejauh mana kualitas para pemain incaran itu. Mengingat nama-nama yang masuk dalam daftar kandidat PSSI memang serba meragukan prestasi-kiprahnya, dan kebanyakan hanya bermain di klub-klub gurem divisi bawah. Bahkan nama mereka pun nyaris tak terdengar sebelumnya. Lantas, kenapa tanggung-tanggung mencari pemain asing? Buat apa menaturalisasi pemain asing jika kemampuan mereka tak jauh berbeda dengan pemain lokal kita?

Tentu saja, kita sudah mafhum kalau jawabannya adalah sebuah pertanyaan balik: Adakah pemain sekelas van Bronchost sudi bermain untuk timnas Indonesia yang ranking 131 FIFA, hanya lantaran orangtuanya berasal dari Maluku?

Jangan sampai rasa frustasi pada prestasi sepakbola membuat kita bermimpi di siang bolong. Eropa dengan liga-liganya yang bergengsi adalah impian semua pemain sepakbola profesional. Gelimang uang, prestise, ketat dan berbobotnya kompetisi merupakan alasan utama banjirnya bintang-bintang sepakbola yang merumput di berbagai liga utama Inggris, Spanyol, atau Italia. Termasuk di sini beralih kewarganegaraan untuk membela negara Eropa.

Hal-hal demikianlah yang membuat seorang Cacao memilih bermain untuk Jerman daripada negaranya Brasil. Atau Mauro Camoranesi memutuskan memperkuat skuad Italia ketimbang berlaga bersama timnas Argentina, negeri kelahirannya. Dalam Piala Dunia 2010, paling tidak ada sekitar 10 pemain berdarah non-Jerman yang memilih membela Der Panzer, kendati sesungguhnya mereka mampu membela tim negerinya sendiri jika mau.

Selain itu, banyaknya pemain naturalisasi di timnas Prancis misalnya memang terbilang hal yang wajar jika kita merujuk kepada sejarah negara ini. Karena sejak belum jadi republik pun, Prancis telah menjadi tujuan migrasi dari berbagai negeri, terutama Benua Hitam dan Kepulauan Karibia. "Naturalisasi sudah mengakar di negara ini. Namun, bukan berarti tak ada pemain asli Prancis yang berkualitas,"tukas Eric Abidal yang berdarah Martinique.

Begitu pula halnya dengan Jerman yang dibanjiri gelombang buruh migran (gastarbeiter) Turki pasca Perang Dunia II. Mesut Oezil adalah generasi kedua imigran Turki ini yang lahir di daerah perindustrian Gelsenkirchen.

Lain lagi dengan kisah Jong Tae-se, bintang muda Korea Utara. Jong lahir dari orang tua berdarah Korea Selatan yang tinggal di Jepang. Ia lahir di Nagoya, Jepang, 2 Maret 1984 dan tidak pernah bermain di kompetisi domestik Korut. Bergabungnya ia ke skuad Korut pun tak gampang. Jong Tae-se memutuskan membela Korut sehabis menyaksikan kekalahan negeri komunis itu dari Jepang pada kualifikasi Piala Dunia 2006. Ia lantas mendatangi kedutaan Korut di Jepang dan memohon kewarganegaraan. Tetapi pemohonannya ditolak karena Korut tak mengakui keberadaan Korsel. Barulah kemudian berkat bantuan Chongryon, sebuah organisasi pro Korut, ia akhirnya mendapatkan paspor. Syahdan, pilihan Jong Tae-se membela Korut lantaran dirinya merasa memiliki ikatan batin selepas menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang didirikan negara itu.

Ah, kembali pada rencana PSSI menaturalisasi para pemain asing keturunan Indonesia demi mendongkrak prestasi, agaknya kita masih harus menunggu pembuktian sejauh mana hasilnya pada Piala AFF, 1-29 Desember mendatang, di mana Indonesia menjadi tuan rumah bersama Vietnam. Pasca kegagalan melangkah ke Piala Asia, Piala AFF memang menjadi target minimal yang dicanangkan PSSI untuk meraih prestasi di kawasan regional. Pelatih timnas Alfred Riedl yang dikontrak hingga 2012 pun ketimpa tugas yang tak mudah ini, mengingat Indonesia tergabung di grup A yang cukup berat bersama Thailand dan Malaysia.

Entahlah. Untuk sementara kita barangkali hanya bisa berandai andai atau hanya bisa bermimpi

Senin, 20 September 2010

Syamsir Alam dan Reffa Money akan berlabuh di Penarol.

Kabar gembira datang dari dua pesepak bola muda, Syamsir Alam dan Reffa Money. Dua anggota timnas SAD Indonesia yang sedang menjalani latihan di Uruguay itu telah dikontrak oleh klub setempat, Atletico Penarol.

Saat ini Syamsir dan Reffa sedang mengikuti program pembinaan pesepak bola muda Indonesia yang telah dua tahun berlatih di Uruguay.

Kesepakatan perekrutan Syamsir dan Reffa telah ditandatangani keduanya dengan wakil Presiden klub, Edward Welker dan direktur olahraga Osvaldo Gimenez, awal pekan ini. Namun, tidak disebutkan nilai maupun durasi kontrak yang diterima Syamsir dan Reffa. Penarol memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil di Cuarta Division Uruguay mulai tahun 2011.

Cuarta Division adalah kompetisi liga remaja yang rutin digelar sebagai tingkatan pembinaan sepakbola Uruguay. Kompetisi yang sama juga diikuti SAD Indonesia sepanjang masa latihan mereka untuk tahun kedua 2010 ini. Jenjang ini mempertandingkan para pemain di bawah 20 tahun.

Perjanjian ini merupakan kesempatan bagi Penarol dan Indonesia untuk berbagi bakat sekaligus memperkaya kerja sama budaya dan olahraga. Langkah pertama dari perjanjian tersebut adalah mendatangkan Syamsir Alam dan Reffa Money mulai Januari 2011 sebagai materi tim yang berlaga di Cuarta Division," bunyi pernyataan resmi Penarol.

Penandatanganan kerjasama telah dilakukan di markas CA Penarol, Montevideo, Uruguay,. Perjanjian tersebut disepakati Sekjen klub Osvaldo Gimenez dan Ketua Indonesia SAD, Milton Kreninger.

Sebagai langkah awal, klub CA Penarol akan melakukan pemantauan tahap akhir terhadap pemain-pemain Indonesia SAD. Pemain yang nantinya terpilih, akan diberikan kesempatan untuk memperkuat klub CA Penarol disemua level kompetisi yang akan diikuti klub itu.

Hal ini memberikan bukti, kehadiran tim Indonesia SAD di Uruguay telah menarik perhatian khalayak sepak bola negara semifinalis Piala Dunia 2010 itu. "Buah kerjasama yang terjalin rapi antara pelatih, pemain, official pendukung, dan jajaran manajemen tim Indonesia SAD, baik yang berada di Indonesia ataupun Uruguay, telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan demi memajukan persepakbolaan Indonesia.

Sementara itu Syamsir dan Reffa juga belum berbicara tentang berita bagus ini. Namun, kebenaran berita itu bisa dilihat disitus resmi Penarol dan ketika Reffa memajang foto dirinya mengenahkan seragam Penarol dalam blog pribadinya.

Dalam sejarah sepak bola Uruguay, Penarol merupakan salah satu tim terbaik Uruguay dan dinobatkan sebagai Klub Terbaik Amerika Selatan di abad ke-20. Sepanjang sejarahnya, Aurinegros telah lima kali menjuarai Copa Libertadores dan tiga kali juara Piala Interkontinental. Maju terus garuda-garuda Muda !!!!!!

Nurdin versus Arifin

Kompetisi sepakbola kasta tertinggi di tanah air, Liga Super Indonesia (LSI), memiliki tandingan yakni Liga Primer Indonesia (LPI) yang telah dideklarasikan pada Jumat sore (17/9) di Griya Jenggala, Jakarta.
LPI sendiri digagas oleh pengusaha terkenal, Arifin Panigoro, sejak 5 September 2010 lalu. Sedianya, LPI akan bergulir pada 26 Oktober mendatang dan sebanyak 20 klub dari Divisi Utama dan LSI memastikan bakal tampil di sini.

Wacana liga tandingan ini sebelumnya telah diketahui Direktur PT Liga Indonesia (LI), Andi Darussalam. Ia pun telah bertemu dengan Arifin untuk membicarakan hal-hal penting menyangkut LPI tersebut.

"Tiga hari sebelum lebaran, saya telah bertemu dengan penggagas LPI, Arifin Panigoro. Saya sampaikan gagasan yang disampaikan sangat baik. Namun saya juga katakan kompetisi yang tidak berada di bawah PSSI tidak akan mempunyai ruang untuk bicara di tingkat AFC dan FIFA," kata Andi.

Andi pun dengan segera mengumpulkan seluruh klub LSI 2010/11 dan hanya dua klub yang tidak mengirimkan wakilnya, yakni Persipura dan Persisam. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan kepada mereka untuk tetap berjalan sesuai dengan statuta yang berlaku.

"Mereka sudah tahu konsekuensinya bila melanggar statuta karena itu saya tidak perlu menjelaskannya lagi," kata Andi.

Dengan demikian Andi kembali menegaskan bahwa LSI 2010/2011 akan tetap digelar mulai 26 September 2010. Kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia ini akan diawali dengan Community Shield pada 25 September 2010 yang akan mempertemukan Arema Indonesia vs Sriwijaya FC.

Berikut daftar tim beserta perwakilannya di LPI.

1. Persema Malang (Peni Suparto)*
2. PSMS Medan (Dzulmi Eldias)
3. Persma/Manado United (Adjie Dermana)
4. Persebaya Surabaya (Saleh Mukadar)
5. Persipura Jayapura (Anton Imbenay)*
6. PSPS Pekanbaru (Dityo Pramono) *
7. Semen Padang (Toto Sudibyo Daconi) *
8. Medan United (Sarluhut Napitupulu)
9. Persitara Jakarta Utara (Rizal Hafid, Achmad Mawardi, Effendi Anas)
10. Persija Jakarta (Hadi Basalamah) *
11. PSM Makassar (Noor Karompot) *
12. PSIS Semarang (Novel Al Bakrie)
13. Arema Malang (Muhamad Nur) *
14. Deltras Sidoarjo (Saiful illah) *
15 Mitra Kukar (Endri)

Catatan :
*) Klub LSI musim 2010/2011

Pengelola LPI mengklaim bahwa kompetisi tersebut dibentuk bukan untuk menandingi kompetisi yang dibuat oleh PSSI dan Liga Indonesia. LPI bertujuan untuk memperbaiki kompetisi yang sudah ada.

"Apa yang kami lakukan ini sudah dilakukan Inggris pada 1992, Skotlandia pada 1998, dan Italia pada tahun ini. Di negeri-negeri itu, federasi sepak bola tetap dilibatkan dalam pengelolaan kompetisi," tutur Arya.

Perbedaan antara kompetisi yang digelar PSSI saat ini dengan LPI dan di negara-negara tadi, adalah kedudukan penyelenggara kompetisi yang sejajar dengan federasi sepak bola.

Perbedaan lainnya, LPI dan kompetisi di tiga negara tadi dimiliki oleh pesertanya sehingga seluruh keuntungan yang didapat dari kompetisi itu dikembalikan ke peserta. Sedangkan kompetisi di Indonesia pada saat ini dimiliki oleh PSSI. Klub tidak mendapatkan keuntungan finansial apa pun dengan mengikuti kompetisi tersebut.

Selain itu, LPI juga dibentuk dengan tujuan agar klub-klub peserta bebas dari suntikan dana APBD. Nantinya, klub peserta akan diberi modal dengan besaran beda tergantung kebutuhan. Agar modal tidak diselewengkan, setiap klub bakal diaudit oleh auditor publik.

Mengenai kemungkinan adanya tekanan kepada klub-klub tersebut nantinya, menurut Arya, PSSI dan PT Liga Indonesia tidak bisa semena-mena dan mencoret klub-klub yang akan berpartisipasi di LPI. Katanya, PSSI bisa kena sanksi FIFA jika melakukan hal itu. "PSSI tidak bisa melarang klub berkompetisi," tutur Arya.

"Kami ingin sekali perubahan dalam sepakbola Indonesia. Sudah tidak zamannya lagi klub-klub ditakut-takuti (oleh PSSI). Kami ikut di baris terdepan dalam perubahan besar melalui liga baru independen ini. Kami yakin LPI bisa lebih baik dan menguntungkan klub-klub anggotanya," papar Noor Korompot, salah satu pengurus teras PSM Makassar.

Senin, 30 Agustus 2010

Agen Africa Binaan Liga Indonesia

Melihat kiprah para mantan pemain timnas Kamerun di Indonesia, mungkin nama Joles Onana, kalah top di bandingkan oleh Roger Milla dan Maboang Kessack. Tapi Denis Jules Onana yang lahir 12 Juni 1964 adalah pemain asal timnas Kamerun yang berkiprah paling lama di bumi Indonesia ini .

Onana adalah juga saudara Elie Onana. Awalnya Onana muda bermain untuk klub lokal Canon Yaounde, ia juga turut serta ambil bagian dalam Piala Dunia 1990, bermain 3 dari 5 pertandingan tim nasional sepak bola Kamerun pada waktu itu,. Prestasi terbesarnya salah satunya saat Singa Afrika mengalahkan Timnas Argentina 1-0. Masa emas Onana telah membawanya 56 kali memperkuat tim nasional sepak bola Kamerun.

Setelah masa emasnya hilang, ia lalu memutuskan untuk pensiun di tahun2005, langkahnya ia ambil setelah bermain di beberapa klub Camerron, Perancis. dan Pelita Jaya Krakatau Steel Indonesia. Setelah pensiun, ia memutuskan bekerja sebagai agen pemain di Asia, management Onana juga memiliki pemain-pemain top seperti pesepak bola Singapura Agu Casmir dan Pierre Njanka (Bek timnas Kamerun).

Kiprah kesuksesannya di Indonesia justru bukan saat menjadi pemain, tetapi saat dirinya menjadi Agen parta pemain Africa. Karena hanya ada tujuh agen pemain di Indonesia yang masuk daftar resmi FIFA. Salah satunya, Onana Jules Denis. Pria asal Kamerun ini bukan wajah baru di Indonesia. Sebelumnya, di juga pernah berkiprah sebagai pelatih di negeri ini.

Dia berharap agar website mengenai agen pemain-pemainya bisa dikonsumsi oleh klub-klub di Indonesia dan pasar yang lebih luas. “Makanya, saya menyajikan website ini dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa lainnya menyusul,” tegasnya.

Nanti, lewat website itu, bapak dua anak tersebut ingin mendatangkan pemain luar negeri ke Indonesia. Selain itu, dia ingin bisa mengirimkan pemain Indonesia berlaga di negara-negara yang sepak bolanya lebih maju. Ya, Onana sangat ingin meluaskan sayap. Dia mengakui, bisnis tersebut amat menjanjikan hingga waktu mendatang. “Makanya, saya betah di sini. Indonesia telah menjadi negara kedua saya,” ujar mantan pemain Pelita Krakatau Steel itu.
Selain bisnis, Onana tidak memiliki alasan lain untuk bertahan di Indonesia. Sebab, istrinya, Madeleine, orang Kamerun pula. “Soal makanan dan lain-lain, tak ada persoalan. Sebab, saya termasuk orang yang mudah beradaptasi,” tutur Onana.

Malah, dua tahun terakhir ini, dia terpikir untuk menetap di Indonesia. “Sebelumnya, saya berniat tinggal setahun di sini, eh nambah lagi satu tahun dan nambah lagi satu tahun sesuai kontrak,” ujar jelas laki-laki yang biasa bermain sebagai pemain sayap dan defender saat masih menjadi pemain itu.
Tak terasa, Onana merumput di Indonesia selama 12 tahun. Karirnya pun berganti tiga kali. Yakni, pemain, pelatih, dan agen pemain.

Dia menilai, tantangan menjadi agen pemain begitu besar. Memang, keuntungannya cukup menggiurkan. Dia menerima komisi sepuluh persen dari setiap nilai kontrak kotor pemain selama satu tahun.Dalam setahun, Onana bisa meraup pendapatan sekitar Rp4 miliar. Musim lalu saja Onana sukses mendatangkan 39 pemain. Jika satu pemain dikontrak Rp800 juta, bisa dibayangkan jumlah yang didapat Onana. Pendapatannya kian besar jika sukses mengantarkan pemain dengan gaji tertinggi. Misalnya, Abanda Herman, yang kontraknya bersama Persija Jakarta menembus Rp1,3 miliar. Maka, Onana dapat meraup keuntungan miliaran rupiah.

Pendapatan itu dinilai Onana sangat layak. Maklum, tanggung jawab sebagai agen pemain lebih sulit daripada menjadi pemain atau pelatih. “Kondisi di Indonesia belum seratus persen oke. PSSI harus memperbaiki lebih banyak lagi peraturan untuk melindungi kepentingan berbagai pihak” ujarnya.

Masalah yang ditemui Onana selama menjadi agen di antaranya adalah sistem kontrak bagi para pemain di kompetisi sepak bola Indonesia belum menguntungkan pemain. Kontrak itu juga belum bisa memberikan kepastian kelangsungan kerja bagi pemain di kompetisi yang digulirkan PSSI.

Rabu, 25 Agustus 2010

Menunggu Kebangkitan sepakbola Serambi Mekah

Berbicara soal pembinaan usia dini, mengingatkan saya pada sejumlah anak-anak muda Aceh seumur remaja SMA yang sampai saat ini masih berada di Paraguay. Sejumlah anak-anak muda Aceh itu, sejak 8 Agustus tahun 2008 dikirim oleh Pemerintah Aceh ke sana dalam rangka menuntut ilmu sepakbola. Oleh sejumlah sejumlah koran lokal, mereka disebut sebagai Timnas Aceh.

Dalam skuad timnas Aceh yang dikirim ke Paraguay berjumlah tiga Puluh putra terbaik Aceh diantaranya, Muarif dari Langsa, Faumi Syah Reza dari Kabupaten Singkil, Satria Setiawan dari Aceh Utara, Zikrillah Tarmidi dari Aceh Utara, Zikri Akbar dari Bireuen, Rahmat Maulana dari Bireuen, Syahrijal dari Bireuen, T M Iqbal dari Bireuen, Zoel Fadli dari Pidie, Nendi Fadriansyah dari pidie, Ahmad Agung Fauzan dari Banda Aceh, Taufik Aksal dari Banda Aceh, Malem Budiman dari Banda Aceh, Dede Ramadhan dari Banda Aceh, Rivaldi dari Banda Aceh, Randi Rizki dari Aceh Besar, Andri dari Aceh Besar, Brayan dari Sabang, dll. Selama di Paraguay, Timnas Aceh saat ini ditangani Escuela Empoli FC.


Mengingat mereka masih harus menempuh pendidikan tingkat SMA, maka mereka juga didampingi oleh empat guru pendamping, yaitu Samsuar,S.Pd sebagai Manager, Mirza Afuadi,S.Pd, Mahdalena,S.Pd, dan Nasruddin,S.Pd.

Tentu saja salah satu tujuan penggiriman tim sepakbola Aceh ke Paraguay adalah untuk memajukan persepakbolaan Aceh. Menurut Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf yang dikutip beberapa media local bahwa suatu saat Aceh memiliki tim sepakbola yang tangguh, sehingga akan menjadi kiblat persepakbolaan di Tanah Air. Karena itu Pemerintah Provinsi Aceh telah mengalokasikan dana sekitar Rp45 miliar untuk mendanai pembinaan tim junior ke Paraguay selama tiga tahun. Bahkan dalam berita terakhir disebutkan masa latihan mereka yang seyoganya tiga tahun, akan diperpanjang satu tahun lagi.


Mengenai keadaan mereka selama di Paraguay, sebagaimana yang dilaporkan media local di Aceh, selama ini perkembangan Timnas Aceh sudah mengalami kemajuan. Bahkan beberapa kali mampu mengalahkan klub papan atas Liga Paraguayo seperti Cerro Porteno. Meskipun pada awal-awal tahun 2010 ini pernah terbersit kabar bahwa timnas Aceh pernah terlunta-lunta berkaitan masalah tempat tinggal dan konsumsi. Sehingga sempat ramai diprotes oleh orang tua mereka di Aceh. Namun hal itu sudah kembali di atasi setelah dibentuk tim khusus untuk menanggani masalah itu.


Melihat track record kesebelasan Paraguay selama piala dunia kali ini, memang membawa harapan tertentu kepada timnas di Aceh. Seperti yang kita saksikan Timnas Paraguay mampu berbuat banyak meskipun akhirnya dihentikan dapat dihentikan Spanyol untuk memperoleh satu tiket menuju babak semifinal.


Pertanyaannya adalah apakah gaya sepakbola Aceh ke depan akan seperti yang diperlihatkan oleh timnas Paraguay selama piala dunia itu? Jawabanya sangat tergantung pada kemampuan mereka yang sedang berlatih di Paraguay dalam mengadopsi gaya sepakbola di sana. Banyak yang berharap mereka mampu melakukan itu sehingga dapat membawa perubahan dalam dunia sepakbola kita.


Satu hal yang perlu dicatat, melihat perkembangan sepakbola kita selama ini yang belum dapat berbicara banyak banyak. Mungkin ini salah satu solusi, bagaimana setiap daerah mau mengirim atlet sepakbolanya untuk belajar di negeri orang. Tak perlu mengharapkan pada PSSI. Memang hasilnya perlu ada pembuktian, tetapi Aceh sudah mencoba melakukannya. AYO BANGKIT GARUDA-GARUDA MUDA SERAMBI MEKAH


Minggu, 01 Agustus 2010

Pijar Lampu UMS

Pecinta sepakbola nasional mengenal UMS sebagai salah satu klub sepakbola tertua di Jakarta. Banyak pemain ternama yang lahir, dibesarkan dan kemudian membawa nama baik klub ini ke mancanegara. Klub yang didirikan pada tahun 1905 ini memiliki sejumlah pemain yang melegenda, yang pada masanya pernah menjadi andalan di timnas Indonesia, dan sebagian diantaranya kini menjadi saksi hidup dari pasang surut perkembangan sepakbola nasional.

Beberapa nama bisa disebut, dari generasi pertama, misalnya, Him Tjiang, Djamiat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, Van der Vin, dan tentu saja almarhum Liem Sun Yu, yang lebih dikenal dengan nama drg. Endang Witarsa.

Beberapa pemain dari generasi kedua masih memiliki nama harum dan dikenal banyak orang, seperti Fan Tak Fong alias Hadi Mulyadi atau Mulyadi, Renny Salaki, Surya Lesmana, Kwee Tik Liong dan kiper Yudo Hadiyanto.

Masa keemasan UMS memang meredup seiring pudarnya kejayaan generasi kedua, atau ketika perkembangan zaman dan politik turut mempengaruhi minat dan rasa suka warga keturunan terhadap sepakbola. Padahal, para generasi tua UMS terus berusaha dan berjuang agar ada diantara warga keturunan yang menekuni sepakbola dan berlatih keras untuk menjadi pemain nasional. Sampai sekarang. Betapa pun, UMS menjadi contoh di mana pembauran memperoleh tempatnya secara layak..

"Sekarang kami banyak membina pemain-pemain dari kelompok usia dini, dan sebagian besar memang pribumi," kata Tek Fong, salah satu legenda hidup UMS.

Tek Fong sangat bangga ketika UMS kini mampu memodernisasi diri, terutama dengan pengadaan lampu penerangan di dalam stadion.

Lampu penerangan sebesar 18.000 watt itu diresmikan pemakaiannya pada Senin (26/7) malam, oleh pembina UMS Agum Gumelar, mantan ketua umum PSSI dan ketua umum KONI Pusat. Peresmian pemakaian lampu penerangan di dalam stadion UMS ini diwarnai penandatanganan prasasti oleh Agum Gumelar. Dalam sambutan singkatnya, Agum Gumelar antara lain mengutarakannya kebanggaannya bahwa UMS bisa bertahan dan eksis hingga usianya yang ke-105.

Lampu penerangan di dalam stadion klub Union Makes Strong (UMS) ini terpacak di enam tiang di sekeliling stadion, dengan masing-masing tiang memuat tiga lampau. Menurut keterangan Johannes Singgih, ketua umum klub UMS saat ini, dalam dua pekan kedepan akan ada penambahan enam lampu lagi untuk menggenapkan total dayanya menjadi 24.000 watt. Dia menyebutkan, biaya yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 750-an juta.

"Ini patungan dari seluruh pengurus yayasan, simpatisan dan beberapa sumber lainnya," kata ketua UMS

Minggu, 18 Juli 2010

Voetbal di Batavia Kisah Sejarahmu

Piala Dunia 2010 sudah berakhir. Tim Oranje belum beruntung melawan Spanyol di final. Bagaimanapun, Belanda memperkenalkan sepak bola ke Hindia Belanda. Ada baiknya kita sedikit menengok tentang voetbal (sepakbola) di Batavia. Di akhir tahun 1920, pertandingan voetbal atau sepak bola seringkali digelar untuk meramaikan pasar malam.

Pertandingan dilaksanakan sore hari. Sebenarnya selain sepak bola, bangsa Eropa termasuk Belanda, juga memperkenalkan olahraga lain seperti kasti, bola tangan, renang, tenis, hoki, dll. Hanya saja semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Jadi sangat eksklusif. Alhasil sepak bola paling disukai karena tidak memerlukan tempat khusus dan pribumi boleh memainkannya.

Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam (dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling doyan bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer tapi juga warga Belanda,Eropa dan Indo membuat bond-bond serupa.

Dari bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929 NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Demikian Zeffry Alkatiri berkisah dalam Pasar Gambir, Komik Cina dan Es Shanghai.

Bond Cina menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Sedangkan bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau si Sawo Mateng.

Zeffry menyebutkan, pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930 Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.

Memasuki tahun 1930-an pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond Cina dan pribumi seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933 VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke 3.

Di masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.

Tahun 1948 pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Zeffry mencatat, di tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.

Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola) dan tendangan 12 pas. Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an.

Selasa, 16 Maret 2010

Eddy Meeng Legenda Sepakbola BATAVIA

Mungkin tak banyak orang tau siapa Eddy Meeng. Dan mungkin orang memang sudah lupa tentang sejarah sepakbola kota tempo dulu yang bernama Batavia.

Freddy Henry atau yang biasa disapa Eddy Meeng lahir pada 20 Desember 1908 di Pladjoekota Palembang, Sumatera Selatan. Karena ayahnya di tugaskan di pulau jawa, maka lau ia Keluarga kemudian pindah ke Jawa dan menetap di Batavia (nama kota sebelum jakarta sekarang).

Bersama dengan adiknya Frans, Eddy sangat gila sepak bola. Mereka memiliki bakat yang luar biasa dari anak-anak seusianya. Lalu pada usianya yang ketiga belas ia dan Frans bergabung dalam Asosiasi Sport Internal Administrasi (SVBB), kemudian mereka juga sempat bergabung ke klub Boys Blue, klub yang dididirikan oleh salah seorang petinggi kompeni Belanda. Dan di klub ini lah Eddy tertempa sebagai palang pintu di garis belakang.

Selama berkiprah di blantika sepakbola, Eddy Meeng telah bermain dari 1921 sampai pada Perang Dunia II..Ia juga sempat menyebutkan kalau sang adik Frans adalah seorang pemain lapangan tengah yang baik. Sedangkan Eddy, dulu juga kadang-kadang bermain sebagai penyerang.

Eddy Meeng sangat merasakan kesuksesasannya dalam karik sepakbolanya di era 1928-1930.Yang menjadi kenangan terindah sampai di usia senjanya. Pada era 1928-1930, tim SBVV Batavia memang menjadi tim yang sangat menakutkan di kawasan asia. Di tim ini juga muncul nama-nama besar seperti Lasso, Van Hooydonk, Bert Bax, Sumo (yang di juluki Hercules), Weise, Chris Mols, dan Janus Becker.



Sebagai pelatihnya tim Batavia di isi oleh orang Belanda tulen bernama "Paatje" Crompvoets. Paatje juga termasuk pelatih yang paling berhasil di era tahun 1930 an kenang " Meeng Eddy"
.Keberhasilan SVBB Batavia memang sungguh luar biasa karena prestasinya dicapai setelah beberapa tahun sebagai klub promosi.

Puncak sepakbola Eddy Meeng dalam kehidupannya adalah saat timnya memenangi kejuaraan di Surabaya. Pada saat itu Tim Surabaya memiliki seorang stiker tangguh bernama Bep Bakhuy, bahkan stiker ini pada tahun 1937 menandatangani kontrak dengan FC Metz Perancis. Tapi tugas untuk menjinakan Bep Bakhuy akhirnya sukses di emban Eddy Meeng. Batavia pun akhirnya menang dengan skor 4-3.



Berkat prestasi itu,tim SVBB Batavia akhinya tercatat sebagai klub penyumbang pemain terbanyak dalam tim Hindia Belanda yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 1938 di Perancis. Salah satu hal yang ia sesalkan adalah kesempatan yang ia buang takkala ia harus bekerja penjadi angkatan laut , di banding membela tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938. Sementara sang adik Frans Meeng tetap memilih untuk meperkuat tim Hindia Belanda.

Tapi nasip Edy Meeng, masih terbilang beruntung. Mengingat sampai saat ia masih bisa mengenang prestasi sepakbolanya di usia yang menginjak 99 tahun. Sementara sang adik Frans Meeng terbunuh, saat di tangakap tentara Jepang di tahun 1944. Nama Frans Meeng termasuk di dalam 4.200 daftar " Romusha " yang tertawan.


Minggu, 07 Maret 2010

Kiprah Jong Ambon di Liga Futsal Indonesia

Siapa tidak kenal Ronny Pattinasarani, Donny Latupeirissa, Bertje Matulapelwa, Berty Tutuarima, John Lesnusa, dan Elly Idris pesepakbola di era 70-an. Era 80 s/d 90-an diwakil Imran Nahumamury, Sammy Pieterz, Ibrahim Lestaluhu, Ohorela, dan Rocky Putiray, mereka adalah pesepakbola keturunan Maluku. Saat ini salah satu propinsi di Indonesia Timur yang sempat mengalami konflik itu masih menelurkan para pemain bintang dan menyumbangkan pemain bagi tim nasional Indonesia sebut saja Ricardo Salampessy, Fandy Mochtar, Leonard Tupamahu, Rahmat Rivai dan Talaohu A Musafry.Seperti juga di cabang sepakbola konvensional, di cabang futsal-pun pemain futsal keturunan Maluku bertebaran di beberapa klub anggota Indonesian Futsal League, yang adalah kompetisi tertinggi Futsal di Indonesia. Terhitung sekitar ada belasan pemain futsal keturunan maluku yang dicatat oleh tim Spiritfutsal berkiprah di Indonesian Futsal League sejak musim 2006/2007 s/d 2010.

Tim SWAP (Sport, Worship And Praise) Futsal Club tercatat menyumbang pemain Maluku terbanyak sebanyak 8 pemain. Disusul Electric PLN dengan dua pemain dan Pelindo II, BiangBola dan Dupiad Fak-Fak masing-masing satu pemain. Delapan pemain keturunan Maluku di tim SWAP termasuk pemain-pemain muda usia, rata-rata 24 tahun bahkan yang termuda baru berusia 19 tahun, yaitu Imanuel Frans dan Kiper Gerry Ferdinandus. Sedangkan pemain tertua ada di tim Electric PLN, Ricardo Polnaya yang juga mantan pemain tim nasional futsal Indonesia, berusia 27 tahun.

Kakak beradik Manuhutu, Ronaldo dan Mozes mempunyai peran penting di tim SWAP. Ronaldo yang lebih tua satu tahun merupakan kapten cadangan tim SWAP. Sedangkan Mozes Manuhutu, merupakan pencetak gol terbanyak urutan kedua dengan 20 gol, hanya beda 2 gol dari Achmad Syaibani, top skor IFL Musim 2009. Di urutan ketiga daftar pencetak gol juga tercantum nama Socrates Matulessy dari Electric PLN. Pemain yang satu ini juga mantan pemain tim nasional futsal dan bintang iklan produk sepatu Specs.

Sementara itu, Vincent Vallent pemain keturunan Maluku yang pertama kali mengecap Juara Indonesian Futsal League bersama BiangBola di musim pertama. Di babak final four meski tidak mencetak gol, tetapi penampilannya sangat berperan atas keberhasilan BiangBola merebut juara IFL. Selain itu pencatat sejarah IFL juga dicatat oleh Jaconias AA Lakburlawal, ia adalah pencetak gol pertama IFL ketika SWAP melawan Produta, Bandung pada pertandingan pembukaan IFL yang diresmikan oleh Ketua PSSI, Nurdin Halid.

Pemain lainnya yang tidak kalah perannya bagi tim masing-masing adalah Miron Hehanussa, Reinhart Titaheluw, Edward Supusepa, Agustinus Latlutur, Gabriel Ditilebit (Ex Tim Nasional 2004), dan Piere Latupeirissa (lebih dikenal dengan Freestyler Indonesia) dari tim SWAP, Jusman (Pelindo II), dan A. Renyaan (Dupiad Fak Fak). Semua pemain, sependapat dan memiliki impian yang sama yaitu merindukan Negeri Ambon yang aman dan menghimbau kepada anak-anak muda Maluku untuk terus bermimpi besar dan berprestasi di cabang olahraga futsal

Sabtu, 27 Februari 2010

Tanah Papua Amunisi Talenta Muda

Sejarah membuktikan bahwa secara alami di tanah Papua selalu melahirkan pemain-pemain berbakat. Ini bisa terihat takakala seorang anak papua bernama Dominggus Waweyai, yang sangat fenomenal. Dahulu ia juga stiker tangguh timnas. Waweyai juga salah satu tendem Sucipto Suntoro alias Gareng dalam membela tim Merah Putih di kancah internasional.

Sayangnya ketika PSSI try out ke Eropa, Waweyai tidak kembali dan malah memilih tinggal di Belanda. Selain Waweyai yang fenomenal ada pula pemain lainnya seperti Timo Kapisa, Yohanes Auri, Adolof Kabo. Selanjutnya Noah Mariem, Rully Nere, Theorodorus Bitbit, Aples Tecuari, Rony Wabia dan Crist Leo Yarangga. Diera tahun 2000an kita mengenal Elly Aiboiy Alexander Pulalo, Boaz Solossa. Ortizan Solossa, Imanuel Wanggai, Ricardo Salampesy, Cristian Woarabay dan lainnya.

Menurut Rully Nere, generasi emas Papua akan segera kembali tercetak. Ia melihat striker Alan Arongear punya potensi bagus dia baru berusia 17 tahun dan juga punya skill individu yang bagus. Selain itu Rully Nere juga melihat pemain belakang seperti Edison Ames, Ilfred Soo, Yohanes Tjoe juga berpotensi mejadi pilar timnas dimasa datang. Kemudian Cristian Uram dan Yan Piet Alex, dua pemain sayap ini termasuk cikal bakal pemain yang baik. "Saya melihat banyak pemain baru yang bagus dan sekarang tinggal bagaimana mencari dan membina mereka serta memberikan sentuhan teknik dan skill individu yang baik," ujarnya.

Pendapat lainya juga di amini oleh Max Pieter, "Saya tidak percaya kalau tanah Papua krisis striker dan pemain, banyak pemain alam yang terus lahir di sini.Tapi sayang saya melihat pembinaan masih kurang sehingga mereka berkembang apa adanya tanpa banyak uji coba dan latih tanding ke luar Papua," tegas Max Pieter, mantan pemain tim PSSI dan juga mantan pelatih PSSI usia 15 tahun.

Menurut Max Pieter yang juga mantan pelatih Sekolah Sepak Bola Ragunan Jakarta, latihan-latihan dasar sepak bola bagi para pemain bola di tanah Papua sangat penting." Coba lihat saja seorang pemain yang sudah berpengalaman tetap harus berlatih dribling yang baik termasuk passing bola. Sebab kalau sudah menguasai teknik-teknik dasar sepak bola dengan sendirinya akan berkembang di lapangan,"tegas Max.

Walaupun tanah Papua gudang pemain bola, Tetapi dulu di persipura dengan cederanya Boaz Solossa justru membuat pelatih kepala Persipura Irvan Bhakti pusing kepala untuk mencari pemain baru pada posisi Boaz . Memang ada pemain muda seperti Korneles Kaimu, Tinus Pae dan Anthon Mahuse tetapi belum sebaik Boaz Solossa. Sehingga tidak ada pilihan lain sehingga terpaksa pelatih Kepala Persipura Irvan Bhakti memasukan pemain asal Kamerun Jeremiah yang berpasangan dengan striker asal Brasil Albeto.

Padahal sebelumnya Beto sudah padu dengan Boaz Solossa. Bisa di lihat oleksi goal Boaz pada putaran pertama Liga Indonesia 2006-2007 mampu membuat goal 13 goal dan merupakan satu satunya pemain Indonesia yang mampu menyaingi Cristian Gonzales pencetak goal terbanyak sebelumnya. Memamang Ironis hampir sebagian besar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia didominasi oleh pemain asing. Mungkin ini merupakan pekerjaan rumah bagi PSSI dan juga pengurus klub klub di daerah untuk selalu membina dan melahirkan pemain pemain muda berbakat

Sebenenarnya pembinanan berkala pemain bola Papua, bisa terlihat di ajang PON. Setiap PON selalu melahirkan bintang-bintang muda asal Papua. Boaz Solossa, Ricardo Salampesy, Cristian Worabay adalah bekas pemain PON Papua di Palembang 2004 lalu.

Begitu pula dengan Christ Leo Yarangga, Ronny Wabia, Aples Tecuari, Alexander Polalo, Herman Polalo,Izak Fatary dan Ritham Madubun yang juga merupakan pemain pemain eks PON. Kehebatan mereka pada saat itu tercermin disaat David Saidui memasukan gol dengan pantatnya atau yang dikenal dengan gol pantat di depan gawang tim PON Banda Aceh di tahun 1993 di partai final. Anak-anak Papua pun menang besar 6-2 dan sangat fenomenal karena mereka bermain dengan skill dan kerjasama yang baik.

Kini secara otomatis para pemain eks PON Papua pun secara langsung direkrut masuk Persipura, Persiwa Wamena dan Persidof. bahkan tim-tim di luar papua pun seperti PSMS dan Sriwijaya FC juga memakai tenaga mereka.

Sudah menjadi target time elit Papua kalau eks pemain PON akan direkrut jadi tim Mutiara Hitam atau Persipura sebut saja eks PON Palembang antara lain Ricardo Salampesy, Korinus Fingkreuw, Elias Korwa, Cristian Worabay dan lainnya pernah memperkuat skuad Mutiara Hitam. Tapi kini karena Mutiara Hitam kini sudah memiliki atau diback up tim Persipura U18 dan Persipura U23. Para pemain PON mulai tersebar ke beberapa klub lainya. Karena para pemain muda di Persipura U-18 dan U-23 juga memiliki kualitasnya permainan di atas rata-rata pemain seusia mereka.

Pelatih Kepala Persipura U 21 Ferdinando Fairyo mengatakan untuk menghasilkan banyak pemain berbakat atau mau menjadikan tanah Papua sebagai gudangnya pemain bola harus melakukan pembinaan yang terarah dan sungguh serta memiliki hati yang tulus. “Kalau tidak sepenuh hati maka saya khawatir akan tidak membawa hasil yang maksimal dan hanya memikirkan materi tanpa melahirkan pemain bintang,”ujar Fairyo mantan asisten pelatih PON Palembang lalu.

Dikatakan nya, "Dulu Ricardo Salampessy dianggap pemain yang tak berpotensi dan badannya terlalu kecil dan lembek tetapi sebagai pelatih harus mendorongnya terus agar maju dan percaya diri. “”Lihat sekarang dia jadi langganan timnas PSSI" üjar Fairyo yang baru saja mengikuti kursus pelatih lisensi C di Jakarta. Ia juga menyarankan diklat seperti PPLP Papua juga sanggup melahirkan banyak pemain kalau ada keseriuasan dan kemauan maka hasilnya pun akan maksimal.

Sekarang kini tinggal terserah kita saja, atau mungkin bapak-bapak di PSSI sudah mulai berpikir untuk serius membina bibit muda di tanah Papua, di bandingkan menghaburkan uangnya membina tim di luar negeri tanpa hasil.

Jumat, 26 Februari 2010

Liem Tiong Hoo Legenda Persebaya Yang Terlupakan

Penggemar sepak bola zaman sekarang mungkin tidak mengenal Liem Tiong Hoo alias Hendro Hoediono. Tapi cobalah bertanya kepada oma-opa yang pernah menikmati geliat Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya), bond atawa perserikatan bola kebanggaan arek-arek Suroboyo, pada era 1940-an dan 1950-an.Nama Liem Tiong Hoo, pemain klub Tionghoa (kemudian berganti nama menjadi Naga Kuning dan Suryanaga, Red), sangat terkenal pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Liem benar-benar menjadi idola masyarakat pada masanya. Dia bersama para pemain lain dari sejumlah klub di Surabaya berjasa melambungkan nama Persebaya di pentas bola nasional.

“Zaman saya dulu Persebaya hampir selalu menang, jarang kalah. Dan nggak pernah ada kerusuhan,” tegas Liem Tiong Hoo.Waktu masih anak-anak Ia sudah sangat suka main sepak bola. Pulang sekolah, Liem Tiong Hoo kecil langsung menuju lapangan di Cannalaan, yang sekarang jadi Taman Remaja.

Pada tahun 1934-1944, di Surabaya ini ada klub Persebaya dan SVB atau Soerabaiasche Voetbal Bond. SVB ini diikuti klub-klub seperti Tionghoa, HBS (Houd Braef Standt), Exelcior, THOR (Tot Heil Onzer Ribben), Gie Hoo, Annasher. Itu merupakan kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Ketika dirinya masih berjaya sebagai pemain sepak bola dan bisa mencetak banyak gol di gawang lawan. kemudian namanya akhirnya dikenal orang di mana-mana.

Akhirnya prestasinya itu membuat dirinya di lirik Persebaya.Tahun 1943 dirinya menjadi pemain termuda di Persebaya dengan usia 17 tahun. Setelah itu menLiem Tiong Hoo jadi langganan di Persebaya. Ikut kejuaraan dan turnamen di berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Bandung.

"Persebaya dulu itu beda dengan yang sekarang ini. Persebaya itu bukan klub yang membeli pemain-pemain dari luar, tapi mengambil pemain dari klub-klub yang ada di seluruh Kota Surabaya. Pemain yang bagus-bagus dari beberapa klub itu diambil untuk memperkuat Persebaya " kenangnya.

Pada saat masa nya dulu Persebaya memang terkenal sangat kuat.Dulu, Persebaya punya trio lini belakang dan trio lini depan yang disegani lawan-lawannya. Trio belakang: Sidi, Sidik, Sadran. Trio depan: (Liem Tiong Hoo), Bhe Ing Hien, Tee San Liong. "Kalau ada tiga teman di belakang ini, saya tidak khawatir pasokan bola dan pertahanan akan bagus. Itu yang membuat Persebaya sangat kuat " ujar Liem Tiong Hoo.

Suatu ketika tim nasional Republik Tiongkok Nasionalis berkunjung ke Surabaya. Liem tentu saja memperkuat Persebaya untuk menghadapi kesebelasan yang saat itu sangat disegani di Asia Timur Jauh (Far-East Asia). Melihat kelincahan Liem mengolah si kulit bundar dan mengecoh lawan-lawannya, Liem diajak memperkuat tim nasional Tiongkok."Saya menolak karena saya orang Indonesia. Saya bukan orang Tiongkok," tegas Liem Tiong Hoo.

Bukan itu saja. Liem juga dirayu agar bergabung dengan klub Feyenoord di Negeri Belanda. Biaya kuliah, biaya hidup, dan sebagainya ditanggung pihak Belanda asalkan bintang muda Persebaya asal Klub Tionghoa itu mau diboyong ke negara kincir angin. "Saya bilang tidak. Saya bukan orang Belanda. Saya orang Indonesia," kenang ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.

Menjelang Olimpiade 1952, diadakan seleksi pemain untuk membentuk tim nasional Indonesia. Liem tidak bisa berlatih intensif karena beban studi di FK Unair sangat tinggi. Namun, pelatih dan pengurus PSSI ingin agar Liem masuk tim nasional meskipun tidak ikut seleksi dan latihan. Liem kontan menolak. "Saya bilang, saya nggak ikut latihan kok masuk tim?" tukasnya.

Tim seleksi tetap meyakinkan bahwa kemampuan Liem Tiong Hoo masih selevel dengan pemain-pemain nasional lain meskipun tidak berlatih. Liem rupanya tak bisa dirayu. "Saya harus konsekuen. Kalau nggak ikut latihan, ya, tidak boleh ikut gabung. Itu sudah jadi prinsip saya," tegasnya.

Di usia 83 tahun, Liem Tiong Hoo, yang lebih dikenal sebagai Dokter Hendro Hoediono, masih tetap praktik sebagai spesialis penyakit kulit dan kelamin. Tubuhnya masih tegap, ingatan tajam, dan punya selera humor tinggi. Liem masih ingat persis kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya di lapangan hijau 70-an tahun silam.

“Gigi saya ini palsu karena yang asli sudah patah saat main sepak bola. Main sepak bola, ya, risikonya begitu. Kalau nggak mau, ya, silakan main pingpong atau badminton,” ujar Liem Tiong Hoo.

BIODATA

Nama : Liem Tiong Hoo
Nama populer : dr. Hendro Hoediono
Lahir : Surabaya, 23 Oktober 1926
Istri : Listiyani (almarhumah)
Idola : Lee Waitong, Raja Bola Timur Jauh (Tiongkok) era 1930-an.

Pendidikan :
- Algemeene Middelbare School (AMS), Jl Kusuma Bangsa Surabaya
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Penghargaan:
- Ketua Umum Persebaya Bambang DH, 18 Juni 2004, sebagai legenda Persebaya.
- Presiden Soeharto sebagai dosen FK Unair yang berdedikasi.

Senin, 22 Februari 2010

Nasrul Koto Mutiara Arseto Solo


Nasrul Koto adalah “mutiara” yang ditemukan Nobon. Pelatih sepak bola asal Sumatera Utara itulah yang melihat bakat Nasrul dan menggandengnya menjadi salah satu penyerang tim Pekan Olahraga Nasional Sumatera Utara 1984/1985. Ketajamannya dalam merobek jala gawang lawan membuat Nasrul menyisihkan striker utama PSMS Medan kala itu, Syamsir Alamsyah. “Hanya dua orang pemain PSKB Binjai yang masuk tim PON Sumatera Utara,” kenang Nasrul dengan bangga. Ajang PON mengantarkan Nasrul menjadi pemain sepak bola profesional.

Bakat bola Nasrul itu menetes dari ayahnya, Isti Jangge. Ayahnya pernah menjadi pemain di Binjai sebelum menekuni usaha konfeksi. Salah satu kakak kandungnya, Hambrita Koto, juga bekas pemain nasional.

Seusai PON, nama Nasrul bersinar dan kemalasan untuk sekolah menghinggapinya. “Kemalasan” itu disambar oleh Arseto Solo dengan menyodorkan tawaran menjadi pemain. Pada 1985, Nasrul menjadi salah satu pilar klub milik Sigit Hardjojudanto yang bermarkas di Kadipolo itu. Sebelumnya, ia sempat dipanggil menjadi salah satu calon pemain PSSI Garuda, tapi batal.

Di klub barunya, Nasrul hanya perlu dua tahun untuk membuktikan diri sebagai penyerang andalan. Pada musim kompetisi Galatama 1987, ia merebut sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak dengan mengemas 16 gol. Nasrul juga ikut andil membawa Arseto sebagai juara Galatama 1993.

Dari Solo, Nasrul melanglang buana ke sejumlah klub. Setelah berpesta di Arseto, ia berlabuh di Aceh Putra semusim dan membela Semen Padang juga semusim. Akhirnya Nasrul mengakhiri petualangannya di dunia sepak bola dengan kembali ke Kadipolo, kandang Arseto. Pemerintah Sumatera Barat sebenarnya menginginkan Nasrul membela PSP, salah satu klub Perserikatan. Ia juga akan dijadikan pegawai Bank Sumbar, tapi lagi-lagi ditolak. Ia balik ke Arseto, yang kemudian menjadi klub tempatnya mengakhiri karier sebagai pemain profesional.

Namun, sepak bola meninggalkan kenangan buruk bagi Nasrul. Ia pernah menerima enam jahitan di tengah lapangan karena “diambil” Donny Lattuperisa. Di lapangan hijau pula ia pernah tidak mampu menahan amarah dan beradu jotos. “Saya menyesal sekali. Satu-satunya kartu merah yang saya terima sepanjang saya menjadi pemain,” kata Nasrul saat mengenang sebuah pertandingan di Stadion Agus Salim, Padang.

Ia pernah diiming-imingi menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia seusai tim nasional meraih medali emas SEA Games Jakarta. Kalau itu diambil, “Mungkin (sekarang) sudah jadi kolonel atau letkol. Tapi waktu itu sama sekali tidak terlintas menanggapi tawaran Pak Kardono (Ketua Umum PSSI),” kata Nasrul.

Lelaki itu memilih menapaki jalur berliku di dunia bola, melanglang ke sejumlah klub. Berkat kecerdikannya menjadi penyerang, dia pernah “terdampar” di meja pabrik Pupuk ASEAN dan PT Semen Padang. Ia menjadi karyawan di sana, tapi cuma tahan semusim. Naluri bolanya tetap memanggil-manggil dan akhirnya ia meninggalkan seragam necis dan pekerjaan enak di belakang meja.

Pemerintah Sumatera Barat sebenarnya menginginkan Nasrul membela PSP, salah satu klub Perserikatan. Ia juga akan dijadikan pegawai Bank Sumbar, tapi lagi-lagi ditolak. Ia balik ke Arseto dan itu menjadi klub tempatnya mengakhiri karier sebagai pemain profesional. “Tidak mungkin berpisah dengan bola,” ujarnya.

Pilihannya itu akhirnya mengantarkan Nasrul melatih PSBS Bangkinang. Ia rela melakoni pekerjaan barunya itu meskipun harus berpisah dengan Veria Susanti, istrinya, serta dua anaknya, Nesia Zara Verina, 16 tahun, dan Fiqky Seto Ramadhan, 15 tahun. Orang-orang yang ia cintai itu tinggal di sebuah rumah yang dibelinya saat menjadi pemain Arseto di daerah Cemani, Sukoharjo.

Nasrul menyimpan obsesi besarnya yaitu memiliki klub sepak bola profesional sendiri, sesuatu yang masih jauh di awang-awang. Tapi impian itu bukan sesuatu yang mustahil. Dulu, saat Nasrul masih kecil di Binjai, ia tak bermimpi mengenakan kostum merah-putih berlogo Garuda. “Motivasi yang paling penting. Saya jadi pemain bola karena motivasi, bukan lantaran hasil didikan sekolah sepak bola,” ujarnya.

Butuh modal besar untuk membikin klub. “Saya sekarang belum punya apa-apa,” katanya. Namun, ia tetap bertekad mewujudkan impian itu. Ia yakin bisa mewujudkan cita-citanya. Lelaki itu pernah menjadi manajer pemasaran sebuah usaha konfeksi batik. Darah saudagar orang tuanya, Isti Jangge dan Rosmani, tampaknya mengalir deras ke Nasrul. “Kalau saya punya uang banyak, obsesi saya bisa memiliki klub sendiri,” katanya.

Karir bermain :

* PSKB Binjai (1983)
* Tim PON Sumatera Utara (1984)
* Arseto Solo (1985-1993)
* Aceh Putra (1993)
* Semen Padang (1994)
* Arseto Solo (1995-1997)
* Tim nasional King's Cup (1986)
* Tim nasional SEA Games (1987)
* Tim nasional Piala Kemerdekaan (1988-1989)
* Tim nasional Pra-Piala Dunia (1990)

Karir Pelatih :

* Persibi Boyolali (2001)
* PSBS Bangkinang Pekanbaru (2002-2004)
* Persibi Boyolali (2005)
* Persip Pekalongan (2005)
* PSBS Bangkinang Pekanbaru (2006-sekarang)





Jumat, 19 Februari 2010

Robby Darwis Libero Pangeran Biru

Bila kita melihat sejarah liga Indonesia pertama, tentu ada dalam sejarah bahwa juara pertama kalinya adalah Persib Bandung yang mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol tunggal Sutiono Lamso. Yang kita bahas adalah sang kapten legenda pujaan Bandung Robby Darwis. Robby Darwis lahirLembang 31 Oktober 1965 . Robby ini memang di gelari bakat yang menjulang dan demikian pula dengan kepemimpinannya sangat menonjol.

Sebagian besar waktu karirnya dihabiskan dengan menjadi kapten baik di klub maupun di timnas Indonesia. Robby sempat memperkuat timnas Indonesia sebanyak 53 kali dan mencetak 6 gol, juga ikut mempersembahkan piala emas SEA GAMES 1987 dan 1991juga pernah menjuarai piala Sultan Hasanal Bolkiah tahun 1986 sebelum pensiun tahun 1997 setelah mengabdi selama 10 tahun. Sebagai pribadi dia memperroleh gelar pemain terbaik Indonesia tahun 1987 dan Robby dianugerahi sebagai pemain legendaris Indonesia pada final Copa Indonesia 2007. Robby memang ditakdirkan untuk jadi seorang bintang. Sejak bakatnya terendus pelatih Persib asal Polandia Marek januta di awal '80-an, jalan karier seakan terhampar mulus untuknya. Secara kebetulan dia tumbuh ketika atmosfer sepak bola Bandung tengah menginjak masa keemasan. Bersama adjt Sudrajat, Robby mewakili generasi Persib paling mencorong di pertengahan '80-an dan medio '90-an.

Tidak berlebihan bila Robby dianggap sebagai wakil generasi emas Persib paling bercahaya. Setidaknya jika kiprah di timnas dijadikan parameternya. Total sepuluh tahun (1987-1997) ia mengenakan seragam Merah-Putih. Dan sebagian besar waktu kariernya di timnas ia lalui sebagai seorang kapten.

Kiprahnya meninggalkan kesan tersendiri buat publik bola Bandung. Sebab, setelah ia pensiun tidak ada lagi pemain Persib yang dipercaya menjadi pemanggul komando di timnas. Tak heran bila sampai saat ini nama Robby selalu dipersonifikasikan dengan romantisme kejayaan Persib tempo dulu.


Sebuah pengakuan yang sangat wajar, mengingat Persib sempat menancapkan kukunya dengan amat dalam di altar sepak bola nasional semasa Robby masih aktif. Bersama koleganya di generasi emas Persib, tiga gelar juara Perserikatan dan satu trofi Liga Indonesia ia persembahkan untuk para bobotoh. Robby menganggap keempat gelar itu sama-sama mengesankan. Gelar pertama di kancah Perserikatan yang direbut pada musim 1985-86, dia anggap sebagai gerbang prestasi generasi emas Persib.

Keberhasilan itu terasa sangat berarti karena sebelumnya tim Pangeran Biru sempat merasakan pahitnya terlempar ke Divisi I pada 1978. Gelar sekaligus juga mengakhiri paceklik prestasi selama 25 tahun. "Sedangkan gelar juara Perserikatan 1989-90 menjadi jawaban atas kegagalan generasi emas pada tiga musim setelah merebut gelar pertama," tutur Robby. Begitu pula dengan gelar ketiga yang direngkuh tahun 1993-94. Terutama karena itulah kompetisi Perserikatan terkahir. Pada msuim berikutnya PSSI mengubah format kompetisi menjadi Liga Indonesia dengan menggabungkan tim asal Perserikatan dan Galatama. Karena itu pula Persib berhak menyimpan Piala Presiden secara permanen di lemari koleksi mereka. Kesan terhadap gelar keempat idak kalah impresifnya. Robby menyebut kebehasilannya menyabet titel kampiun Liga Indonesia I mengandung sebuah keajaiban.

Masih mengandalkan skuad generasi emas, Persib menjadi satu-satunya tim eks Perserikatan yang tampil di abbak 8 besar. Meski demikian, Robby Darwis dkk akhirnya mampu berkelit dari ekpungan klub-klub eks Galatama, untuk menjadi juara di tahun pertama kompetisi.
"Generasi emas Persib berhasil memungkas kompetisi Perserikatan dan membuka era Liga Indonesia dengan gelar juara. Saya yakin ini sebuah prestasi yang akan selalu dikenang," ujar Robby.Romantisme terhadap generasi Robby kian menjadi-jadi lantaran setelah titel Liga Indonesia I, Persib tidak kunjung berhasil menambah koleksi trofi juara.

Tidak ada pemain yang punya karakter yang khas dan kuat seperti Robby. Karakternya semasa aktif membela panji tim Pangeran Biru maupun timnas sangat identik dengan ‘tukang sapu bersih’ di lini pertahanan. Sampai kemudian sepak terjangnya di lapangan melahirkan istilah yang sangat populer di kalangan bobotoh, yaitu “halik-ku aing!” ( minggir biar aku yang ambil!). Tahun 1991 Robby sempat pindah ke klub Malaysia Kelantan FC. Namun aral tak dapat diduga. Baru sekali turun bertanding dia terkena sanksi tidak boleh bermain selama 1 tahun.

Banyak pihak di Indonesia hal ini dilakukan Malaysia karena tidak ingin Robby bertanding di SEA GAMES 1991 akan tetapi Robby tetap bermain dan Indonesia menjadi juara. Selepas dari Malaysia Robby kembali mebela Persib sampai tahun 1997 dan menutup karirnya sebagai pesepakbola di Persikab Bandung.

Robby beristrikan Suci Guntari saudara mantan rekannya di Persib Yudhi Guntara dan memiliki 4 orang anak yaitu Canigia Fikri Robiana, Careca Raka (alm), Ratu Najra (Bulan), Ratu Najdah (Bintang). Robby berprofesi sebagai pegawai bank BNI’46 Bandung tetapi cuti untuk menjadi asisten pelatih Persib (memiliki lisensi B). Sebelumnya Robby sempat melatih di di Produta selama 2 musim dan Persikab. Robby juga bersama rekan-rekannya di Persib dahulu mendirikan sekolah sepak bola yang diberi nama SSB Robby Darwis di daerah kelahirannya Lembang dengan obsesi inginmelahirkan pemain-pemain berkualitas yang pada saatnya akan memperkuat Persib dan Timnas.

Selasa, 16 Februari 2010

Kepingan Emas pertama timnas

Untuk pertama kalinya, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah Putih di kejuaraan antarbangsa. Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games.

Ini merupakan trofi antarbangsa pertama yang pernah direbut timnas Indonesia. Dominasi Thailand dipatahkan. Kekuatan Malaysia dibenamkan. Sungguh prestasi yang heroik. “Pendahulu-pendahulu kami juga tak kalah hebatnya, tapi mereka tidak pernah berhasil mempersembahkan gelar juara. Wajar jika kami sangat bangga atas prestasi ini,” ujar Patar Tambunan, gelandang kanan yang ikut berandil mempersembahkan medali emas SEA Games 1987.

Tidak hanya Patar Tambunan yang patut berbangga hati. Semua pecinta bola Indonesia pastilah ikut bangga. Melihat prestasi timnas Indonesia kala itu, semua warga yang punya KTP Indonesia bisa sedikit mendongakkan kepala. Indonesia bukan lagi tim macan kertas. Indonesia adalah yang terkuat, setidaknya di Asia Tenggara. “Malah kami juga terhitung 4 besar di Asia,” ucap striker legendaris Indonesia, Ricky Yakobi.

Statement Ricky bukan sekadar bualan. Satu tahun sebelumnya, tim perebut medali emas SEA Games 1987 ini berhasil menapaki babak semifinal Asian Games 1986. Ini adalah prestasi tertinggi dalam lembaran sejarah sepak bola nusantara. Yang hingga saat ini, Indonesia belum bisa mengulanginya. BERSATU LUAR DALAM Tak dapat disangkal, timnas Indonesia 1986-87 merupakan timnas terhebat yang pernah dimiliki Indonesia—jika ukurannya trofi antarbangsa. Saat itu Indonesia punya pemain besar semacam Herry Kiswanto, Rully Nere, Robby Darwis, dan Ricky Yakobi. Talenta hebat yang kemudian berpadu dengan pelatih tak kalah hebat, mendiang Bertje Matulapelwa. “Bertje adalah pelatih hebat. Prinsip open management yang diterapkannya mampu menciptakan iklim tim yang kondusif,” kenang asisten pelatih Bertje kala itu, Sutan Harhara.

Prestasi Indonesia kala itu memang tak bisa dilepaskan dari sosok pelatih yang dijuluki “Sang Pendeta” tersebut. Dia bisa menyatukan pemain dari unsur yang berbeda, Galatama dan Perserikatan. Patut dicatat, saat itu beredar rumor bahwa pemain alumni Galatama tidak begitu akur dengan alumni Perserikatan. Embrio generasi emas itu terbentuk, pada akhir 1985. Setelah proyek timnas Garuda 1 selesai, PSSI memberikan mandat kepada Bertje guna membentuk tim baru. Mandat yang berat, pasalnya mental Indonesia sedang terpuruk setelah dibantai Thailand 0-7 di SEA Games 1985. Bertje mencoba membangkitkannya. Dengan lugas dia mengumpulkan talenta berbakat dari Galatama (seperti Ricky Yakobi dan Nasrul Koto), Perserikatan (Robby Darwis, Ribut Waidi, dll) dan sejumlah alumni Garuda 1 (semacam Patar Tambunan dan Marzuki Nyak Mad).

Proses pembentukan tim yang padu, ujar Sutan Harhara, ternyata gampang-gampang susah. Saat tim sudah lumayan padu, pada medio 1986 iklim tim hampir rusak karena masalah duit. Uang saku dari PSSI kepada pemain dinilai terlalu minim. Bayangkan saja, hadiah dari KONI untuk medali emas hanya Rp 1 juta per pemain. Sedangkan uang saku per bulannya selama pelatnas tak kalah mepet, kurang dari Rp 750.000/bulan.

Herry Kiswanto berkisah, dia bersama semua anggota tim pernah meminta kenaikan uang saku. Sayang, tuntutan tersebut tak digubris. Patah semangat? Untungnya tidak. Panggilan membela negara, ujar Herry Kiswanto, jauh lebih penting. Berkat suntikan semangat dari Bertje, para pemain Indonesia membuang jauh-jauh nafsu mengumpulkan duit. Yang tertanam hanya satu kalimat, kibarkan Sang Merah Putih di langit internasional. Tim Merah Putih di tangan Bertje, sebulan sebelum Asian Games digelar, sempat melakukan uji coba lebih dari sebulan di Brasil.

Formasi baru 4-3-3 yang memasang Ricky Yakobi sebagai striker tunggal ternyata lumayan paten. Hasilnya terbaca pada Asian Games 1986. Indonesia lolos ke semifinal. Sayang untuk kemudian kandas di tangan Korea Selatan. Seusai Asian Games, Bertje melakukan perubahan besar. Ban kapten dipindahkan dari lengan Herry Kiswanto ke Ricky Yakobi. Padahal, umur Ricky kala itu baru 23. “Bertje ingin melakukan regenerasi. Dan, aku merasa sudah saatnya dilakukan,” ujar Herry. Regenerasi itu berlangsung cemerlang. Indonesia benar-benar terbang tinggi di SEA Games 1987 Jakarta. Di hadapan pendukung setia, Indonesia tampil trengginas. Seusai membabat Burma 4-1 di semifinal, Indonesia menjinakkan Malaysia 1-0 di partai puncak. Indonesia juara. Merah Putih pun berkibar di langit Asia Tenggara.

Berikut ini skuad timnas Indonesia 1986-87 Pelatih: Bertje Matulapelwa
(Kiper): Ponirin Meka, Putu Yasa
(Belakang) : Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad.
(Tengah) : Sutrisno, Budi Wahyono, Patar Tambunan, Rully Nere, Azhary Rangkuti
(Depan) : Ricky Yakobi, Ribut Waidi, Nasrul Kotto

Prestasi: Semifinal Asian Games 1985, Juara SEA Games 1987 Raihan Timnas PSSI di level SEA Games Indonesia baru resmi ikut ajang SEA Games pada 1977. Selama kurun itu hingga saat ini, Indonesia hanya sempat 2 kali terbang tinggi. Pertama pada SEA Games 1987. Kedua pada 1991. Setelah itu prestasi Tim Merah Putih cenderung melorot. 1977 – Semifinal 1979 – Peringkat ke-2 1981 – Peringkat ke-3 1983 – Penyisihan grup 1985 – Semifinal 1987 – Juara 1989 – Peringkat ke-3 1991 – Juara 1993 – Semifinal 1995 – Penyisihan grup 1997 – Peringkat ke-2 1999 – Peringkat ke-3 2001 – Semifinal 2003 – Penyisihan grup 2005 – Semiifinal 2007 – Penyisihan gup 2009