Jumat, 09 Maret 2012

Sportifitas Tatung FC bagi PSSI Tamtama

Setelah berhasil menang 2-0 atas AIK Swedia dan klub Independiente Argentina , untuk ketiga kalinya PSSI Tamtama di bawah pelatih Hendriks menang lagi. Lawannya kesebelasan Tatung dari Taiwan dicukur setengah losin gol (3-0). Namun ekor yang meyakinkan itu belum cukup kuat menanamkan kepercayaan bagi 30 ribu penonton Senayan, tanggal 8 Maret 1975 pada masa lalu.

Bayangkan pada babak pertama kiper Yudo hanya kebagian memegang bola 4 kali. Sementara barisan penyerang PSSI yang dipimpin oleh Waskito dari sayap kiri. Lebih banyak memperlihatkan permaian gocekannya degan kelemahan penyelesaian terakhir. Di lini tengah duel-duel memperebutkan bola memang terjadi, meskipun hal itu belum menunjukkan kematangan kerjasama Sofyan Hadi, Junaedi Abdillah dan Anjasmara dalam usaha menciptakan peluang. Terlihat sekali mereka cenderung meremahkan Tatung FC.

Pertarungan kedua keseblasan, lebih tepat adalahnya atraksi kekuatan PSSI. Jalannya bola pun lebih banyak terjadi di kawasan daerah Tatung. Sehingga barisan pertahanan PSSI yang terdiri dari Sutan Harhara, Suaib Rizal, Oyong Liza dan Rusdi Bahalwan lebih banyak bertindak sebagai mandor-mandor alias banyak diamnya.

Memang saat sebelum pertandingan keadaan berat sebelah itu, sudah di ramalan oleh Pelatih Hendrik. Targetnya bahwa PSSI "paling kurang akan menang 3 gol", lebih dari tepat.

Sebenernya andai kata PSSI dapat memanfaatkan peluang-peluang yang disuguhkan begitu matang dihadapannya, mungkin bisa 8-0 hasilnya. Dirijen line tengah Anjasmara, memang sangat terlihat meremehkan Tatung, seringkali ia terlalu banyak membuat gerakan tak perlu atau gojek-gojek. Yang makin jelas secara langsung memperlihatkan kelemahan pertahanan lawan. Demikian pula Junaedi Abdilah yang semula berharap mendapat lawan sepadan,banyak membuang-buang keringat menyusun kombinasi melebarkan permainan.

Satu taktik yang sesungguhnya dibutuhkan ketika PSSI Tamtama berhadap dengan barisan pertahanan Independiente beberapa waktu yang lalu. Ketika itu PSSI Tamtama bermain sangat efektif dan sangat baik.

Berbeda saat melawan Tatung dengan menghadapi lawan yang tak setanding, Anjasmara cs terlihat sekedar sedang mempraktekkan pelajaran dari sang pelatih. Meskipun di mata seorang awam, pelajaran tersebut masih terlalu elementer buat dijadikan bekal memenangkan babak penyisihan Turnamen Piala Asia di Bangkok pada Juni 1975.

Sebab kalau toh jumlah gol kemenangan lawan dijadikan ukuran, rasanya kok kurang. Karena sebelumnya Tatung FC di gebuk Persib Bandung (8-O) secara meyakinkan.

Pada masa itu kehadiran Tatung FC di Stadion Utama mengundang banyak pertanyaan. Sebab kesebelasan ini lebih tepat diadu dengan kesebelasan Sukabumi atau Bogor misalnya. Hanya dua orang pemain mereka yang lumayan. Kebetulan sekali kedua orang itu penjaga gawang dan penyerang-tengah yang masing-masing memakai kaos no 1 dan no 7. Selebihnya mereka memakai kaos nomor 14 ke atas. Malah ada yang bernomor 46.Karena pada masa itu, umumnya pemain top biasa memakai berurutan dari no 1 sampai 11.

Nah sebenernya siapa sih Tatung ?????

Calvin Chen dari staf Perwakilan Taiwan di Jakarta menerangkan, bahwa Tatung FC memang team juara. Hanya saja juara dari kalangan karyawan setempat. Tentu saja berbeda dengan kesebelasan junior nasional yang beberapa waktu lalu mengadu kekuatan dengan Persija di lapangan Menteng. "Mereka adalah karyawan perusahaan yang membikin barang-barang elektronika", tambahnya, "dan kedatangan mereka di Jakarta tidak lebih dari program promosi produksi mereka".

Tak heran banyak celoteh di para pemain kita Tak heran, "tukang-tukang listrik" itu badannya kaku-kaku celetuk Sutan Harahara. Waskito juga berkelakar "Gerak mereka bagai mesin yang kekurangan pelumas”.

Tapi apapun itu positifnya meskipun dalam menghadapi hujan gol dari PSSI mereka tidak pernah putus asa, tetapi melakukan tugas dengan sportif. Setelah kisah berlalu akhirnya Tatung FC pun menjadi klub profesional di Taiwan, dengan mengikuti liga Profesional Taiwan (Intercity Football leage) dengan memiliki stadion megah bernama Taipe Municipal Stadium.

3 komentar: