Kamis, 28 Mei 2009

Vata Matanu : Pengabdian striker Benfica di Indonesia

Usia kepala 3 di dunia sepakbola, termasuk menginjak senja. akan tetapi,bagi stiker Vata Matanu, pengalaman, performa dan kematangannya masih sangat dibutuhkan bagi klub asal bali yang bakal berkecimpung di ajang Liga Indonesia.Jelas sebuah pengalaman menjadi modalnya untuk tetap eksis di dunia sepakbola. Apalagi, dia telah membela klub besar bersama Benfica (Portugal)

Karirnya mulai meredup ketika dipinjamkan ke klub Floriana Malta.Tapi ia sempat membawa klub tersebut mencicipi juara Liga Malta. Vata pun lantas mengadu nasib ke klub Indonesia, Gelora Dewata Bali.

Keputusan management Gelora Dewata,(HM. Mislan) untuk mendatangkan pemain asal
Angola pada transfer pembukan Liga Indonesia silam berbuah manis. Kehadiran pemain bernama lengkap Vata Matanu Garcia mampu meringankan beban Misnadi Amrizal di lini depan Gelora Dewata.

Faktor jam terbang dan pengalaman bertanding menjadikan Vata dan rekannya Abel Campos menjadi pemimpin anak-anak asal pulau bali seperti, Kadek Suartama, Komang Adnyana, Misnadi Amrizal, Nus Yadera dan I Bagus Mahayasa. Mantan bintang Benfica itu pun sukses menjalankan strategi yang diterapkan oleh Freddy Muli.

Oleh Freddy, pemain yang berulang tahun pada tanggal 19 Maret itu diberi kebebasan di lapangan. Tidak hanya bermain sebagai pemain striker, tapi juga dapat sebagai winger, atau pun second striker bersama Abel Campos

Vata pun menjawab kepercayaan sang pelatih dengan penampilan memukau. Puncaknya adalah ketika mampu menjadi top skor di Wilayah Timur dengan torehan 21 gol. Ia juga membawa Gelora berada di urutan 5 klasmen, di bawah Petrokimia, PKT, Assyabab SGS dan Barito Putra. Biarpun ia gagal mengantarakan Gelora menuju ke babak 8 besar, namun hasil pencapaiannya yang bagus bagi seorang pemain Afrika di tanah Indonesia, mengingat perbedaan kultur permainan dua negara.

Penampilan gemilang Vata mendapat banyak pujian dari banyak pihak, khususnya publik Bali. Pujian atas debut pemain berkewarganegaraan Angola itu datang dari pemain asing lainnya seperti Roger Milla dan Maboang Kessack. "Vata, adalah seorang penyerang hebat dan anda akan selalu membutuhkan bola untuk memberikan kepada dia didalam kotak penalti”, tambah Roger Milla.

Kisah Vata juga sempat di komentari oleh mantan pelatih Persema Suharno " Pada masa itu duet Vata dan Misnadi sangat tajam. Khususnya Vata termasuk stiker handal dalam bola-bola atas dengan sikap opurtutis di kotak penalti lawan.

Kegagalan ia membawa Gelora di musim pertama di kompetisi perdana Liga Indonesia, menjadi pemicu tekat dari Vata. Dan pada akhirnya pada kometisi musim 1997/1998, Vata berhasil membawa Gelora menjadi runner-up Wilayah timur, di bawah PSM Makasar. Keberhasilannya otomatis membawa Gelora Dewata lolos ke babak 8 besar, dengan torehan 14 gol yang di sumbangkannya.

Penampilan bagusnya dalam membobol gawang lawan membuat, Ia masuk dalam daftar pemain All-Star timur. Dan hasilnya, ia pun sukses membubuhkan 2 gol, yang membuatnya terpilih sebagai stiker utama dalama laga Indonesia All-Star vs Lazio.

Sebagai mantan striker Angola, nama Vata memang menjadi Idola di kompetisi Liga Indonesia. Kesemuanya karenaVata telah mengoleksi 65 caps pertandingangan dan membubuhkan 20 gol untuk timnas Angola. pemain yang mengawali karirnya bersama klub "Progresso" itu dikenal sebagai striker mematikan di dalam kotak penalti lawan.

Setelah masa emasnya habis Vata Matanu akhirnya banting stir menjadi pelatih sepakbola, di Australia dan Bali. Khasus bom Bali yang terjadi tahun 2002 mengetuk hatinya mengumpulkan dana melalui kegiatan ‘Beach Soccer’. Bersama dengan Hj.Agus Bambang Priyanto SH, salah satu simpatisan bom Bali, Vata mengadakan kegiatan ‘Beach Soccer’ tersebut murni kegiatan amal dana untuk keluarga korban bom Bali. “Sebagian dari uang sponsor di sumbangkan ke keluarga korban bom Bali, karena saya tahu sampai saat ini ada diantara mereka tidak punya rumah, dan membutuhkan bantuan dana untuk membesarkan anak-anak mereka,” kata Vata.





Pengalaman Sebagai Pemain dan Pelatih
v 1981-1991 : Bermain dengan Benfica Portugal Liga Eropa final dengan AC Milan
Pelatih Sven Erickson
v 1989-1990 : Top Skor untuk Portugal dengan 16 gol
v 1994-2001 : Pemain dan asisten Pelatih Gelora Dewata Bali
v 1995 : Top skor di wilayah timur Indonesia dengan 21 gol
v 2001 : Pelatih Kepala International Soccer Academy di bali
v 2002-2004 : Pelatih di sekolah sepak bola di Melbourne,Australia
v 2004-2005 : Pelatih Kepala International Soccer Academy di bali
: Pelatih Kepala Mitra Kukar Kalimantan, divisi I Indonesia
v 2005-2006 : Pelatih Kepala Ps Persegi Gianyar Bali, LIGINA

Penghargaan
v 1998 : Juara Nasional dengan Benfica
v 1989 : Top skor di liga nasional Porugal 38 kali bermain/16 gol
v 1990 : Juara di Piala Super denga SL Benfica
: Dengan SL Benfica Runer Up Piala Eropa dan juara AC Milan
: Dengan SL Benfica Juara Nasional
: Dengan Floriana Menjadi Juara Nasional di Malta
v 1995 : Top skor di liga Indonesia Wilayah Timur
v 1996-1997 : Dengan Gelora Dewata menjadi Finalis di kejuaraan Liga Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar