Rabu, 10 Februari 2010

Herry Kiswanto Libero satu kartu kuning

LAHIR di Aceh 45 tahun lalu, sejak kecil Herry Kiswanto sudah gemar sepak bola. Apalagi setelah kembali ke daerah asal atau kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat, di dekat rumahnya ada lapangan sepak bola yang menjadi pelampiasan kegiatan olahraga paling digemari di Tanah Air.

Dari berlatih seadanya Herry kemudian masuk klub Tornado. Sesudah itu, dia melanjutkan berlatih di klub PTPN XIII setamat Sekolah Menengah Atas. Karena sepak bola mulai mendarah-daging, sambil menuntut ilmu di Akademi Industri dan Niaga di Bandung, ayah dua anak dari istri tercinta Tuti Hariati ini, masuk klub UNI di Kota Kembang. “Bermain sambil kerja di Bank Rakyat Indonesia atas bantuan pengurus Persib Bandung,” kenangnya

Ketika itu, walau prestasi belum begitu menanjak, tokoh sepak bola nasional asal Medan, almarhum TD Pardede dengan klub semi prof Pardedetex sudah meliriknya. Melalui putranya Johny Pardede, TD Pardede yang akrab dipanggil “Pak Katua”, Herry (sebagaimana panggilan akrabnya-Red) diboyong ke Medan. Dilatih antara lain oleh pelatih asal Belanda, Frans van Balkom dan Fred Kohber asal Jerman, Herry pun makin matang.

“Dari situlah kemudian saya masuk skuad tim nasional, tepatnya sejak tahun 1979 sampai 1993,” kata Herry. Awalnya, Herry bermain di posisi gelandang. Tokoh sepak bola Sumatera Utara, Kamaruddin Panggabean (almarhum) menyarankan Herry sebagai libero. Posisi ini memang cukup pas untuknya, bukan hanya di Pardedetex tetapi juga di tim nasional yang sempat menjuarai SEA Games 1987 Jakarta dan juara sub grup Pra Piala Dunia.

Diterpa di lingkungan Pardedetex di Medan selama hampir empat tahun, Herry yang dulu dikenal enggan bermain keras, sekarang tidak lagi mentabukan hal itu. Tetapi segera digaris-bawahi, keras dalam arti tetap dalam batas-batas sportivitas. Dan yang paling dia tabukan yaitu membuat cedera lawan.

Tahun 1993, Herry mulai memasuki masa “pensiun”. Namun karena sepak bola terus merangsangnya, dia lalu berkiprah di klub Bandung Raya sampai klub ini menjadi juara Liga tahun 1996. Dalam karirnya ia hanya pernah mendapat sekali kartu kuning yaitu ketika membela Krama Yudha Tiga Berlian melawan Pelita Jaya di era Galatama.

Selama 17 tahun, Herry Kiswanto menekuni sepak bola.Di lapangan dia berposisi sebagai libero. Tugas itu semakin berat karena dia juga sering dipercaya sebagai kapten tim. Istimewanya, selama perjalanan karir dia, hampir tak pernah ternoda oleh kartu kuning apalagi kartu merah.

Herkis -sapaan karib Herry Kiswanto- hanya pernah mendapat sekali kartu kuning. Torehan itu saja sudah membuatnya menyesal. Maklum, saat membela tim nasional yang melibatkan wasit internasional dan permainan keras, dia tak sekali pun diganjar kartu peringatan.
Dia terkena kartu kuning saat membela klub di era Galatama. Saat itu dia membela Kramayudha Tiga Berlian yang ditantang Pelita Jaya di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

“Saya sudah berusaha untuk tak akan pernah mendapatkan kartu kuning, tapi kok ya pada waktu itu dapat juga. Saya sesali kejadian itu,” ungkap penyuka warna merah dan putih tersebut. Apalagi, kartu itu dituainya bukan karena pelanggaran langsung. Tapi, Herkis, yang menjadi kapten, protes keras kepada wasit karena memberikan keputusan cukup kontroversial bagi timnya. Wasit kurang yakin saat memutuskan gol lawan karena asisten wasit tak meniup peluit tanda terjadinya gol.

Nah, saat meminta keterangan, bukannya memberikan penjelasan, wasit malah ngomel tidak jelas. Herkis pun emosi dan terus memberikan klarifikasi kepada wasit. Bukannya mendapatkan penjelasan, wasit malah memberinya kartu kuning.

“Saat ini memang kondisinya berbeda. Saya dulu hanya berpikir bagaimana fokus bermain. Kalau ada pemain yang bandel, saya harus bisa mengontrol dia,” tutur Herkis menyangkut kunci ketenangannya di lapanganTak hanya di dalam lapangan. Herkis juga merupakan pribadi yang cukup tenang di luar lapangan. ‘’Papa itu lucu. Beliau tak pernah marah,” ujar Tania, anak keduanya.

Tuty, istri yang dinikahi Herkis pada 25 Desember 1980, juga memiliki penilaian serupa. Maka, sebagai istri, dia pun menyesuaikan dengan keluasan kesabaran Herkis. ‘’Kami sudah sering kecewa dengan beberapa pihak.Tapi, papa memilih untuk bersabar dan tak membuat persoalan itu menjadi perkara,” ujar Tuty.

Dia mencontohkan hadiah rumah yang diberikan PSSI sebagai apresiasi emas SEA Games 1987. Rumah itu tak pernah menjadi milik kedua pasangan tersebut. Kejadian lain, rumah Herkis kerap menjadi sasaran masyarakat jika timnas menuai kekalahan dari lawan.

Segala bentuk sampah tahu-tahu mampir ke teras rumah mereka. Kadang kalau sampai emosional pun, Tuty memilih menyimpannya sendiri.
Bahkan, Tuty pernah keguguran dua kali karena perilaku para penggemar timnas. ‘’Alhamdulliah, sekarang kami sudah bisa hidup normal,” ujar Tuty.

Setelah itulah Herry benar-benar pensiun sebagai pemain dan beralih menjadi pelatih dengan mengantungi sertifikat pelatih S-1. Setelah itu ia banyak melalang buana ke berbagai macam klub. Dan akhirnya ia pun sukses meloloskan klub Persmin Minahasa ke kompetisi Super Liga di musim 2007/2008 . Kemudian salah satu pemain legendaris yang biasa dipanggil "Akang" ini, dikontrak oleh klub Persiraja Banda Aceh sebagai pelatih kepala di kompetisi Divisi Utama untuk musim 2008/2009.

Menyusul terjadinya krisis internal terkait masalah pendanaan di tubuh Persiraja Banda Aceh, yang juga menimpa banyak klub sepak bola lainnya di tanah air, sejak berakhirnya putaran pertama kompetisi Divisi Utama, ia memutuskan mundur dari Persiraja Banda Aceh dan langsung diikat kontrak untuk menangani klub Persikab Bandung menggantikan pelatih Deni Syamsuddin yang baru didepak dari tim yang bermarkas di kota Soreang, Kabupaten Bandung itu.Terakhir menjadi asisten pelatih Persija Pusat, Herry yang sempat mepelatih tim sepak bola DKI Jakarta memposisikan sepak bola bukan sekadar olahraga tetapi juga seni. “Namanya juga permainan laki-laki, sepak bola boleh keras, tetapi lebih diutamakan teknik dan keterampilan,” ujarnya.

Pendapatnya tentang sepak bola nasional, yang bisa disebut masih jalan di tempat, “Ini antara lain karena ada pengurus yang masih dipengaruhi oleh hal-hal lain. Artinya, tidak 100 persen menumpahkan perhatiannya untuk memajukan cabang olahraga yang digemari dari desa sampai ke kota ini.” Malah Herry mensinyalir, ada di antara pengurus yang sengaja rebutan kursi atau kedudukan untuk maksud tertentu. Kalau sudah begitu, bagaimana sepak bola kita bisa maju.


Karir :
- 1979-1983: Pardedetex Medan
- 1983-1985: Yanita Utama
- 1985-1991: Kramayudha Tiga Berlian
- 1991-1993: Assyabaab Surabaya
- 1993-1996: Bandung Raya

Prestasi:
- Emas SEA Games 1987 di Jakarta
- Perak SEA Games 1983
- Perunggu SEA Games 1981, 1989
- Perunggu PON 1989 (DKI Jakarta)
- Perunggu Piala AFF 1984/1985
- Juara Sultan Hasanah Bolkiah 1986
- Runner-up Piala Kemerdekaan 1994
- Peringkat III Asian Club Championship Arab 1986

Karir Pelatih:
- 1997-2000: Asisten pelatih Tim Nasional
- 2000-2001: Pelatih PSBL Lampung
- 2002-2004: Asisten pelatih Persija Jakarta
- 2004-2005: Pelatih PSIS Semarang
- 2005-2006: Pelatih Persikabo Kab Bogor
- 2006-2007: Pelatih Persmin Minahasa, Pelatih Persiraja Banda Aceh
- 2007-2008 Pelatih Persikab Kab Bandung

Penghargaan:
- Penghargaan kelas III dari Menpora 1987
- Lencana perak dari PSSI 1989 (25 tahun lebih membela Timnas)
- Pemain terbaik kedua 1982-1983
- Sepatu emas 1986
- Pemain terbaik 1985

3 komentar:

  1. Lagi-lagi nyinggung Pengurus, haha

    BalasHapus
  2. Yaa. begitulah habis manis sepah di buang. btw tahun 1986 an memang masa ke emasan Timnas kita di asia tenggara. Duet Herry Kiswanto & Robby darwis memang menjadi tempok kokoh line belakang timnas kita. Apalagi di sana m,asih ada Ferry Hattu dan Warta Kusuma. sebagai pemain pelapis mereka

    BalasHapus
  3. info menarik. Herry Kiswanto salah satu legenda sepak bola Indonesia. Sayang era keemasan sepak bola Indonesia telah lewat, dan entah kapan bisa kembali. Selama sepak bola Indonesia dipenuhi permasalahan dan perselisihan, era keemasan itu tampaknya sulit terulang.

    BalasHapus