Rabu, 03 Februari 2010

Sistem Transfer Pacu Liga Indonesia

SISTEM transfer sudah hal yang jamak di jagat sepak bola profesional. Sayang, hal itu hanya bisa dilihat dan dirasakan di Indonesia. Tapi, kini, bayangan tersebut sudah jadi kenyataan. Sistem perpindahan pemain di saat yang bersangkutan masih terikat dengan satu klub lain mulai diterapkan di Indonesia. Sepak bola Indonesia pun seperti memasuki babak baru.

Harapan mendapatkan pemain bidikan, meski dia masih terikat dengan klub lain, bukan hal yang sulit dilaksanakan. Syaratnya, klub lama mau melepaskan dan ini yang juga sangat penting, harganya cocok. Tak bisa dimungkiri, faktor dana menjadi hal yang krusial. Faktanya, klub-klub di Indonesia memang tengah kembang kempis. Mereka tak bisa leluasa menyusu pada dana anggaran pendapatan belanja daerah (APBD).

Hal yang selalu dilakukan sebelum akhirnya menteri dalam negeri mengeluarkan Permendagri No 59 Tahun 2003. Sebagian besar klub di Indonesia pun meregang nyawa dan tengah sekarat. Bahkan, klub-klub medioker dari daerah pinggiran dan tim mapan seperti Persija Jakarta ataupun PSM Makassar harus empot-empotan memenuhi kebutuhan finansial.Beberapa tahun lalu, di arena Galatama, Perserikatan, atau Liga Indonesia, keinginan mendapatkan pemain incaran di klub lain hanya bisa dilaksanakan di awal musim. Dengan catatan, pemain tersebut tak lagi membela klub lamanya alias statusnya bebas.Jika ada pemain yang pindah di pertengahan musim, itu bisa dihitung dengan jari. Tapi, kini, semuanya sudah terlewatkan. Transfer pemain yang begitu menggema di sepak bola profesional pun sudah merambat ke Indonesia.

Contohnya saja Delta Putra Sidoarjo (Deltras) dan PKT Bontang sudah melaksanakannya saat merekrut pemain baru di putaran kedua DISL 2008/2009. Danilo Fernando dan Iqbal Samad, misalnya. Keduanya bisa hengkang ke klub lain meski klub barunya harus merogoh kocek yang lumayan besar. Deltras merekrut Danilo dari Persik Kediri. Sedangkan PKT menggaet Iqbal dari PSM Makassar.

Deltras merekrut Danilo karena memang mereka untuk mengangkat prestasi Deltras agar bisa berprestasi di putaran kedua.Deltras mengeluarkan uang transfer Rp 250 juta untuk Macan Putih (julukan Persik). Itu di luar gaji Danilo yang mencapai Rp 50 juta setiap bulan, jumlah yang bisa membuat klub-klub lain ngiler.

Laskar Khatulistiwa (julukan PKT) mengeluarkan jumlah serupa ketika mendatangkan Iqbal. Hanya, gaji Iqbal tak setinggi Danilo. Sistem transfer tersebut memang bisa memberikan keuntungan kepada tiga pihak, klub baru, pemain, dan klub lama. Klub baru bisa mendapatkan pemain bidikan, pemain bisa memperoleh materi sesuai harapan, dan klub lama tentu mendapat pemasukan ke kas dalam bentuk dana segar.

Tidak bisa dimungkiri, sistem transfer tersebut akan membuat sepak Indonesia maju selangkah. Meski hal itu belum tentu akan memberikan manfaat pada kemajuan sepak bola nasional, langkah ini perlu diapresiasi. Kita bisa melihat ada dua keuntungan dari proses tersebut. Pertama, ini adalah salah satu pilar industri sepak bola. Kedua, improve klub-klub agar lebih realistis. Mereka jangan hanya membeli mimpi, tapi kenyataan. Meski, itu bukan hal solusi terbaik. Sebab, klub Indonesia sekarang ini banyak yang sedang kesulitan.-Rezza mahaputra Lubis-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar