Selasa, 16 Februari 2010

Medali emas terakhir timnas Indonesia

Pelatih Anatoly E Polosin terlihat berdiri di sudut ruang ganti stadion, yang malam itu sangat hiruk-pikuk. Pelatih berdarah Rusia itu menyempatkan diri mengucapkan terima kasih kepada setiap pemain yang dia salami.

Setelah itu Polosin dan Vladimir Urin, asistennya, lebih banyak diam.Ini merupakan medali emas kedua tim nasional di SEA Games setelah SEA Games Jakarta pada 1987. Dan, ini menjadi malam terakhir pencapaian tertinggi sepak bola kita di arena pesta olahraga Asia Tenggara. Selebihnya, di sembilan acara SEA Games berikutnya, tim nasional tak mampu tampil di final. Bahkan, lebih parah lagi, Laos dan Burma sudah bisa mengalahkan Indonesia di SEA Games Laos, yang kini sedang berlangsung di Vientiane.

Malam di Stadion Rizal Memorial, terletak di Pablo Ocampo Street (sebelumnya dikenal sebagai Vito Cru2 Street), Malate, Manila, begitu indah. Di stadion yang pernah menggelar konser The Beatles pada Juh 1966 itu se-mua terasa mudah. Polosin, Urin, dan Danurwindo telah berhasil

meracik Eddy Harto dan kawan-kawan menjadi sebuah tim yang punya daya tahan lebih. Pada awal-awal kerjanya, Polosin lebih mengutamakan peningkatan stamina ketimbang taktik dan strategi. Sudah menjadi pemandangan biasa jika ada pemain yang menepi ke pinggir lapangan sambil menahan muntah.

Sepak bola, waktu itu, dikerjakan dengan penuh perhitungan, dan tidak diselimuti banyak proyek. Sebelum pergi ke Manila, tim nasional diterjunkan ke Piala Presiden di Korea Selatan dan Merdeka Games di Kuala Lumpur. Di Korea, tim nasional dige-buk Malta 0-3, Korea Selatan 0-3, dan Mesir 0-6. Di Kuala Lumpur, Indonesia dibungkam klub asal Austria, Admira Wecker, 0-2; tim nasional U-23 Cina, 1-3; dan menang atas Malaysia 2-1.

Di Manila semua terasa mudah. Sebelum meraih medali emas, Eddy Harto dan kawan-kawan melibas Malaysia 2-0, menyikat Vietnam 1-0,menang atas Filipina 2-1, menyingkirkan Singapura 4-2 di semifinal (diperkuat David Lee dan Fandi Ahmad), serta mempermalukan Thailand 4-3 di final (diperkuat Natee Thongsookkaew dan Worawoot Srimaka). "Medali emas ini karena pemain sudah mau berlatih keras," kata Polosin dengan bahasa Indonesia yang terputus-putus. Teriakan lelaki berwajah kaku ini pun sering terucap ketika dia mendampingi tim nasional berlatih di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno). Kata Polosin,"Cipot... cipat...
cipat..."(maksudnya cepat).

Kini, setelah 18 tahun berlalu, tim nasional sudah menjadi pecundang. Kekalahan oleh Laos dan Burma jangan dianggap sebagai peristiwa biasa. Sepak bola kita sudah berada di titik paling rendah.


Perjalananan Timnas menuju tangga juara SEA Games Manila 1991


(Group A)
Indonesia- Malaysia 2-0

(Manila, Rizal Memorial Stadium – 26.11.1991)
GOL : 1-0 Widodo Cahyono Putro, 2-0 Rocky Puttiray

Indonesia- Vietnam 1-0 (1-0)
(Manila, Rizal Memorial Stadium – 28.11.1991)
Indonesia : Edi Harto(GK), Ferril Hattu, Aji Santoso/Yusuf Ekodono, Robby Darwis, Peri Sandria, ,Widodo C Putro, Rocky Puttiray (4 players missing)
Coach :Anatoly F.Polosin
GOL : 1-0 (35’) Robby Darwis

Indonesia- Phillipines 2-1(0-1 )

(Manila, Rizal Memorial Stadium – 30.11.1991)
Indonesia : Erick Ibrahim(GK), Salahuddin, Heriansyah, Toyo Haryono, Herry Setiawan,Kashartadi,Hanafing,Yusuf Ekodono,Bambang Nurdiansyah/Widodo C Putro,Rocky Puttiray, Robby Darwis/ Ferril Hattu.
Coach :Anatoly F.Polosin
Philippines : Melo Sabacan(GK), Rodolf Alicante, Alfredo, D Eduardo, Norman /Salmon, Rosel /Barja, Pinero Rolandod, Marlon, Judi Saluria.
GOL: 0-1 (17’) Pinero Rolandod, 1-1 (67’pen) Ferril Hattu, 2-1 (87’)Rocky Puttiray

Indonesia-Singapura (0-0(4-2) Penalti* Semifinal
(Manila, Rizal Memorial Stadium – 02.12.1991)
Indonesia: Eddy Harto(GK) , Robby Darwis/Kashartadi,Ferril Hattu,Sudirman,Toyo Haryono,Herri
Setiawan,Yusuf Ekodono/Heriansyah,Maman Suryaman,Widodo C Putro, Rocky Puttiray, Perri Sandria.
Coach :Anatoly F.Polosin
Singapore : David Lee(GK), Saadi Sukor Mohd, Fandi Ahmad / D Tookijan, Abu Samah Borhan, Abdullah
Borhan, Nazri Nasir Mohd, Malek Awab, Abdullah Noor, Patmanathan, Zulkifli Kartoyoho, Hasnim Haron.

Indonesia-Thailand(0-0,(4-3) Penalti Final.
(Manila, Rizal Memorial Stadium – 04.12.1991)
Indonesia: Eddy Harto (GK), Salahuddin/Heriansyah,Robby Darwis,Ferril Hattu,Herri Setiawan,Toyo Haryono,Maman Suryaman,Yusuf Ekodono,Widodo C Putro, Perri Sandria.
Coach :Anatoly F.Polosin
Thailand :Chayong K (GK), Suksok K, Vorawan C / Vorawuth S, Vitoon K, Suttin C/ Prapan K, Attapon B, Sumet A, Ronachai S, Pairot P, Nathee T, Surasak T.

1 komentar:

  1. Saya ingat saat itu latihan fisik amat berat dan banyak pemain lari dari pelatnas. Tapi buah dari kebugaran itu indonesia bisa mengalahkan lawan2 tangguhnya. Saat meraih emaspun juga masih banyak mendapat banyak kritikan dari pengamat, karena secara teknis team tidak menonjol cuma mengandalkan kebugaran fisik dan memaksa adu penalti. Salut buat polosin...

    BalasHapus